Tinggalkan komentar

Erupsi Merapi Lahirkan Inspirasi dan Aspirasi

Bencana merapi kali ini merupakan bencana terbesar dan terpanjang sedikitnya selama 100 tahun terakhir. Walaupun status Merapi sudah berstatus aman, namun bahaya sekundernya berupa banjir lahar dingin masih mengancam hingga saat ini.

Dua bulan terakhir kita sering membaca atau menonton pemberitaan mengenai dashyatnya banjir lahar dingin yang telah menenggelamkan desa-desa sepanjang aliran sungai yang berhulu ke Merapi, terparah adalah sepanjang aliran Kali Putih.

Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) melalui Tim Kemanusiaan Merdeka (TKM) sudah menghentikan kegiatannya pada 28 Pebruari yang lalu. Penutupan program dilakukan dengan menyelenggarakan acara Temu Anak Merdeka yang dihadiri ratusan perwakilan anak-anak dari 12 desa. Memang tidak semua desa yang didampingi dapat dilibatkan karena keterbatasan dana.

TKM SAMIN sudah bekerja secara langsung bersama anak-anak sejak tanggal 28 Oktober 2010 atau dua hari sesudah letusan pertama Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010. Selama empat bulan, total keseluruhan relawan berjumlah 43 orang (25 laki-laki dan 18 perempuan). Dari jumlah tersebut yang dinilai aktif, dengan pengertian bekerja lebih dari dua bulan sekitar 20 orang.

Rangkaian kegiatan yang direncanakan sesungguhnya hanya ingin memfokuskan pada upaya pemulihan psiko-sosial anak-anak korban Merapi dan memfasilitasi kebutuhan makanan tambahan. Namun bantuan berbagai barang yang diterima tidak juga bisa ditolak untuk didistribusikan kepada yang berhak. Tercatat ada 89 posko pengungsian yang menjadi tempat distribusi barang-barang bantuan tersebut.

Pada pemberian makanan tambahan tercatat 2,747 anak (1376 laki-laki dan 1371 perempuan) yang menjangkau 20 posko pengungsian di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Klaten.

Sedangkan pada pendampingan terhadap anak-anak, ini bisa dibedakan ke dalam dua periode yaitu: Pada dua bulan pertama, tercatat 749 anak (419 laki-laki dan 330 perempuan) yang terlibat dalam di 22 titik dari 11 pos pengungsian. Pada tahap kedua yaitu pada periode Januari-Pebruari 2011, kegiatan mulai berpusat pada posko-posko awal yang terletak di dekat tempat tinggal mereka dan kemudian sebagian besar diantaranya telah kembali ke daerah asal. Pada periode ini tercatat 637 anak (320 laki-laki dan 317 perempuan) berumur 3 – 16 tahun aktif terlibat dalam berbagai kegiatan yang dilangsungkan di 18 komunitas (ada yang berbasis kampung ada pula yang berbasis dusun) di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Klaten.

Target yang hendak dicapai tidaklah muluk-muluk. Anak-anak harus merasa senang dan terhibur, memiliki semangat, dan memiliki ruang-ruang untuk mengekspresikan dirinya, demikianlah yang menjadi arah dari kegiatan-kegiatan yang dilangsungkan. Para relawan menceburkan diri ke berbagai kelompok anak di berbagai pos pengungsian. Mengajak anak-anak bermain, bernyanyi, bermusik, menggambar, membuat berbagai ketrampilan, dan kegiatan-kegiatan lain yang bervariasi. Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan bersama anak-anak menggunakan media ekspresi artistik.

Setelah terbiasa dengan beragam kegiatan tersebut, maka kelanjutannya mulai dilakukan kegiatan-kegiatan bertema untuk menggali pengalaman-pengalaman dan pandangan mereka terhadap berbagai situasi yang dihadapi. Pada proses ini, lahirlah ribuan karya dalam bentuk gambar dan tulisan , ratusan komik dan lagu-lagu. Keseluruhannya mengisahkan tentang pengalaman hidup mereka sehari-hari sebelum letusan merapi, saat letusan terjadi, saat hidup di pengungsian, saat berpindah-pindah tempat pengungsian, dan saat kembali ke desa asal. Mereka juga mengungkapkan kehidupan di dalam keluarga dan di sekolah. Pada karya-karya itu juga terlahir berbagai harapan terhadap kehidupan masa depan.

Karya gambar anak

Ada ribuan karya yang berhasil diciptakan oleh anak-anak baik secara personal maupun berkelompok. Karya-karya ini sempat dipamerkan sebagian ketika penutupan program. Selebihnya, ada gagasan untuk menyeleksi dan menerbitkannya dalam bentuk buku.

Gagasan menyusun buku hasil karya anak mendapat dukungan positif dari World Vision Indonesia. Sayang, karya-karya yang diseleksi dibatasi hanya pada 12 titik dari 18 titik yang menjadi wilayah dampingan TKM SAMIN.

Hasil seleksi ini kemudian terhimpun dalam buku yang pada saat tulisan ini dibuat tengah proses cetak.

Erupsi Merapi, lahirkan inspirasi dan aspirasi, demikian judul buku tersebut yang digunakan juga dalam tulisan ini.

Buku ini secara umum terbagi ke dalam dua bagian, yaitu himpunan karya anak yang diberi judul ”Suara-suara Anak dalam Karya” dan ”Bersama Anak-anak Lereng Merapi: yang merupakan tulisan pengalaman atas kegiatan-kegiatan TKM SAMIN. Bagian-bagian berikutnya merupakan kelengkapan dari buku ini seperti kesan-pesan para relawan dan foto-foto berbagai kegiatan yang dilangsungkan bersama anak.

Himpunan karya anak, diseleksi dan dipilah berdasarkan tema. Tema yang diangkat oleh anak dalam bentuk tulisan dan gambar adalah pandangan anak terhadap Merapi, pengalaman anak saat mengungsi, bantuan-bantuan yang diterima dalam pengungsian, proses kembali dari pengungsian, kehidupan keluarga, Situasi di sekolah, harapan dan cita-cita anak, serta pandangan anak terhadap keberadaan TKM SAMIN.

Isi tulisan tidak hanya menceritakan secara kronologis situasinya, melainkan juga memunculkan pandangan-pandangan anak atas situasi yang tengah mereka hadapi. Karena itulah, tidak berlebihan bila buku ini diberi judul tentang inspirasi dan aspirasi.

Ingin mendapatkan buku tersebut, setidaknya dalam bentuk elektronik file dalam bentuk file pdf, tenang sajalah, nanti kami akan menginformasikan lebih lanjut.

Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih kepada Terre des Hommes Netherlands, Save the Children, Jakarta Japan Networks, Kinderfield School cabang Tebet dan Sudirman Park, alumni SMP 36 Jakarta Timur, Serikat Petani Indonesia, Komunitas Planet Senen, dan berbagai organisasi lainnya ataupun individu-individu yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu, yang telah memberikan dukungan baik berupa dana, barang-barang yang dibutuhkan pengungsi maupun bahan makanan. Percayalah, bahwa seluruh dukunga/bantuan tersebut telah memberi makna bagi kehidupan terutama anak-anak lereng Merapi.

Salam

Yogyakarta. 23.03.11

________________________

Update tulisan-tulisan saya mengenai isu anak, Jangan Segan untuk Mengklik ANAK DUNIA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: