2 Komentar

[Sosok] Selintas tentang Ibuku

Tulisan ini menjadi Headline di Kompasiana

Beberapa kali saya menulis tentang almarhum Bapak. Tapi belum banyak menulis tentang Ibu. Seingatku, aku pernah menulis beberapa puisi tentang ibu, dijadikan lagu oleh seorang kawan (Wak Yok), yang kupersiapkan sebagai kado ulangtahunnya yang ke 50, di tahun 1997.

Tapi sial, karena tak berjumpa dengan Ibu pada saat itu, aku lupa meletakkan dimana kaset rekaman berisi lagu dari lirik yang kubuat dan beragam lagu ibu yang sudah ada. Di cari tidak ketemu, akhirnya aku hanya bisa bercerita saja.

Bersama Bapak dan Ibu saat aku masih kecil

Bersama Bapak dan Ibu saat aku masih kecil

Ibuku lahir di Temanggung pada tanggal 21 Pebruari 1947. Ibu anak ketiga dari delapan bersaudara.Sejak umur lima bulan tinggal di Bogor dalam keluarga Jawa yang masih menerafkan adat-adat Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Ibuku bersekolah dan besar di kota hujan ini, hingga akhirnya menemukan jodohnya. Setelah menikah di akhir tahun 60-an, ibu dan bapak menetap di Jakarta.

Sejak kecil, ibuku senang berkesenian. Khususnya puisi dan teater. Beberapa kali ia masuk dalam tiga besar dalam lomba deklamasi. Ia juga pernah menjadi salah satu yang tampil dalam acara kesenian yang ditonton oleh Presiden Soekarno di istana Bogor.

Setelah menikah, ibu pernah ikutan terlibat sebagai figuran dalam beberapa film. Ia juga terlibat sebagai pemain dan tukang rias dalam pementasan-pementasan teater yang dimainkan oleh kelompok teater dari Bapak dan kawan-kawannya.

Pada akhir tahun 70-an, ibu pernah bekerja. Mungkin sekitar dua tahun. Bekerja di sebuah tempat yang pada akhirnya diketahui adalah sebuah LSM, yang bergerak di bidang pengembangan pertanian. Ia bekerja dari pagi hingga sore. Maka aku bersama adik-adikku harus belajar hidup mandiri. Kami diajari untuk memasak. Kalau lagi malas, kami masak nasi saja, dan dimakan bersama sambel pecel yang selalu disediakan.

Ibu turut bermain dalam "Bernafas dalam Lumpur"

Ibu turut bermain dalam “Bernafas dalam Lumpur”

Menjelang pertengahan tahun 80-an, Ibu berpisah dengan Bapak, namun tidak bercerai. Keenam anaknya ikut Ibu. Kami pindah ke Yogya, tinggal di sebuah rumah seoang kawan. Aku hanya satu minggu tinggal bersamanya, setelah itu tinggal dan membantu sebuah LSM di utara Yogya.

Tinggal di sebuah kota yang baru. Maka kami harus beradaptasi. Beruntung ibu adalah orang yang tidak bisa diam. Ia aktif dalam berbagai kegiatan di kampung. Untuk menjaga kelangsungan hidup, ibu mencoba mengembangkan keahlian yang dimilikinya, menjahit pakaian. Tapi ini hanya untuk menjahit pakaian dari kawan-kawannya saja.

Bapak dan Ibuku dalam pementasan "Rabiah El Adawiyah

Bapak dan Ibuku dalam pementasan “Rabiah El Adawiyah

Semakin kami besar, semakin tinggi pula kebutuhan hidup. Ibu berembuk bersama kami untuk mendapatkan persetujuan kami bila ia pindah dan bekerja di Jakarta. Kami sepakat. Maka bekerjalah ibu di sebuah LSM internasional di Jakarta. Ia bertanggung jawab di bagian administrasi. Sebuah LSM hanya dengan tiga orang tenaga, sudah termasuk seorang koordinator untuk Indonesia.  Selanjutnya ia pindah ke LSM nasional yang bergerak pada isu perempuan. Bertanggung jawab di bagian dokumentasi. Setiap seminggu sekali ibu pulang ke Yogya menjenguk anak-anaknya. Sayang, aku jarang bertemu karena tidak tinggal bersama adik-adikku.

Hal yang menarik dari Ibu, ia senantiasa mengajak anak-anaknya berkumpul bila hendak mengambil sebuah keputusan yang akan berdampak pada anak-anak. Ia akan meminta apakah usulannya mendapat persetujuan dari anak-anak atau tidak. Adikku yang paling kecil, masih duduk di SD juga dimintai pandangannya. Bila kami menyatakan tidak setuju, ia tidak akan melanjutkannya gagasannya.

Suasana ini sangat lekat dalam pikiran dan hatiku. Pada masa itu, aku hampir berniat membuat serial tentang keluarga yang demokratis. Tapi tidak kulakukan. Pada masa itu tengah menjadi perhatian sebuah serial sandiwara televisi ”Keluarga Cemara”.

Aku dan istri bersama ibuku

Aku dan istri bersama ibuku

Hal yang paling ditekankan Ibu kepada anak-anaknya adalah bertahan dan berobsesi untuk sekolah setinggi mungkin. Untuk hal ini, aku adalah anak yang gagal. Aku tidak melanjutkan kuliah dan asyik dengan kegiatanku. Sedangkan kelima adikku, berhasil menyelesaikan studinya. Aku bisa merasakan kebahagiaan ibu tatkala satu persatu anaknya bisa menjadi sarjana. Ia akan sangat terharu sekali. Aku merasa bahwa perjuangannya tidaklah sia-sia.

Jiwa sosial ibu memang tinggi. Ia tidak akan tinggal diam bila melihat orang-orang kesusahan. Ia akan siap sedia membantu. Walau tidak dalam bentuk materi, setidaknya perhatian dan tenaga yang bisa diberikan.

Maka, ibu sering bergabung dengan kelompok-kelompok relawan yang bekerja untuk orang lain. Pernah ibu disibukkan bekerja untuk korban banjir di Jakarta, dan ketika pulang ke rumah dalam keletihan, ia menjumpai rumah juga terkena banjir. Maka sendirian ia harus bekerja membersihkan rumah (Aku dan adik-adikku sudah berpencar dan memiliki tempat tinggal sendiri).

Pada aksi-aksi menumbangkan rejim Soeharto, ibu juga tergabung dalam kelompok relawan yang menghimpun bantuan makanan dan menyalurkannya kepada para demonstran. Ibu rajin mengunjungi para aktivis yang pada masa-masa itu berada di penjara sebagai tahanan politik, seperti kawan-kawan dari PRD, Xanana, dan sebagainya.

Usia ibu semakin menua. Ia selalu resah bila tidak ada kegiatan. Bila memiliki kekuatan, maka ia akan pergi bersiturrahmi ke rumah kawan-kawannya, atau terlibat dalam kegiatan-kegiatan. Beberapa kali ia jatuh sakit. Kesehatannya mulai terganggu. Tapi selalu saja kata-kata penuh semangat yang keluar dari mulutnya. Menyemangati dirinya sendiri. Menyemangati kami anak-anaknya.

”Ibu, Selamat Hari Ibu,” kuucapkan ini walau kutahu ia akan tersenyum dan tertawa saja.

Yogyakarta, 22 Desember 2010

2 comments on “[Sosok] Selintas tentang Ibuku

  1. […] (aku pernah menulis sedikit tentangnya yang juga terposting di blog ini. Lihat di SINI) merupakan sosok yang tegar dan kuat. Bertahun ia bertarung dengan situasi sulit guna menghidupi […]

  2. Trimakasih anakku sayang, semua perjuangan yang kita lakukan adalah amanah yang harus kita jalani. Alhamdulillah semua diridhoi Allah, Dia mempertemukan kita dengan orang2 yang sangat berarti untuk kelangsungan langkah kehidupan ini. Di usia yang semakin senja kembali Allah mempertemukan ibu dengan sahabat2 dalam mencari ridho Allah untuk bekal di akhir hayat nanti, yang selama ini agak tersita waktunya untuk urusan duniawi… memang tugas untuk keluarga tidak pernah selesai, tapi rasanya kita terlena untuk mendahulukan kepentingan diri kita, sampai lupa pada kewajiban terhadap Allah, semoga Allah mengampuni, amin… Semoga anak cucu menjadi anak yg soleh/solehah, dan kembali dalam keadaan husnul khotimah, Doa ibu selalu……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: