Tinggalkan komentar

[Sosok] Perjalanan Masihlah Panjang (Wak Yok)

Perjalanan masihlah panjang
Tapak-tapak kaki sudah berdarah
Jangan berhenti teruslah mencari
Hingga matahari tak bersinar lagi

Tanyakan pada alam
Cinta yang sejati
Bisikkan pada kawan
Apa yang kau cari (2 X)

Perjuangan harus dilanjutkan
Banyak persoalan hadapi bersama
Lewat nyanyian jadikan api
Layar keangkuhan harus ditumbangkan

Tanyakan pada alam
Cinta yang sejati
Bisikkan pada kawan
Apa yang kau cari (2 X)

Masih ada waktu tuk terus bertanya
Hingga tak ada yang dipertanyakan
Masih ada hari tuk terus mencari
Hingga tak ada yang dicari lagi

Terus-terang saja, saya bukanlah orang yang mengetahui tentang musik, lagu, nama penyanyi, dan album-album mereka. Hanya segelentir nama yang lekat dalam kepala, dan itupun biasanya para penyanyi dan lagu-lagu lama.

Terus-terang, kalau soal ini, janganlah ditanyakan kepada saya. Saya masih kalah referensinya dengan istri dan anak-anak saya. Lagu-lagu yang terdengar baik dari radio ataupun dari televisi, biasanya kebetulan saja, karena saya bukan penonton dan pendengar setia.

Saya lebih suka mendengarkan lagu dari kawan-kawan sendiri. Baik yang sudah direkam dengan baik ataupun rekaman sederhana menggunakan alat rekam saat bernyanyi-nyanyi atau dalam pementasan.

Kebetulan pagi tadi, ada beberapa kawan singgah. Satu dari Batam, satu dari lampung, satu dari Jakarta dan satu lagi dari Bandung.  Mereka sebetulnya mau ke Klaten, tapi mampir dulu, sambil bersapa, ngobrol tentang situasi pengungsi, ngobrol tentang isu-isu anak, dengan ditemani kopi. Pembicaraan mengalir saja, sampai akhirnya bicara tentang kampanye. Akupun promosi bahwa pernah kampanye tentang anak-anak yang menjadi korban eksploitasi seksual komersial (ESKA yang meliputi prostitusi anak, perdagangan anak untuk tujuan seksual, dan pornografi anak) melalui lagu. Kampanye melalui radio-radio, restaurant, dan warung-warung makan di lima kota selama sebulan pernah dilakukan pada akhir tahun 2006. Lagu-lagu itu diperdengarkan setiap harinya. Sampai di Wonosobo ada satu lagu yang akhirnya menjadi hit.

Aku pertunjukkan dua video clip yang pernah dibuat. Memperdengarkan lagu-lagu itu kepada mereka.

Selesai, mereka berpamitan. Aku masih saja medengarkan lagu-lagu, mencari lagi lagu-lagu yang lain, yang juga dinyanyikan oleh kawan-kawan sendiri. Akhirnya sampailah pada lagu perjalanan. Lagu yang menurutku enak didengar, dan menambah semangat  dalam proses pencarian. Berkali aku memutar ulang sampai akhirnya memutuskan menuliskan ini.

Lagu dan aransemen ini dibuat oleh seorang sahabat. Aku mengenalnya pertama kali di Taman Tugu Muda Semarang pada bulan November 1996. Ia memperkenalkan diri  dengan nama Yoyok. Biasa mangkal di Stasiun Poncol dan sering berkegiatan bersama anak-anak jalanan Poncol. Ia menjajaki kemungkinan agar bisa bergabung dengan kami, yang berhimpun di Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS). Mengingat situasi pada saat itu tidak aman untuk kami lantaran adanya isu-isu buruk yang disebarkan, seperti diorganisir oleh “kader PKI”, anak-anak diorganisir sebagai kurir Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang kelak menjadi kambing hitam kerusuhan di Jakarta, bagian dari mafia yang mengeksploitasi anak-anak jalanan dan sebagainya. Seringkali intel-intel datang ke rumah anak jalanan.

Untuk itulah, kami menolaknya dengan sopan. Tapi ia tak surut, tetap nongkrong bersama anak-anak di Tugu Muda, berdialog dengan kami, sampai kami yakin ia bukan bagian dari skenario untuk mengganggu. Bergabunglah ia, bersama dengan komunitas jalanan, yang ditugaskan untuk turut memfasilitasi anak-anak jalanan.

Ia tinggal bersama kami, merasakan suka-duka dengan anak-anak jalanan Semarang. Ia sering bermain gitar dan bernyanyi. Petikannya terasa enak di telinga. Ia juga telah menciptakan sebuah lagu dengan menggunakan irama lagu ”Pelangi-pelangi” yang liriknya dirubah.

Pikiran nakal (yang pada masa-masa itu mendominasi sikap dan tindakanku), membuat aku sering mengganggunya. Aku sodorkan lirik, aku minta dijadikan lagu. Kadang di tengah malam, kadang pagi-pagi ketika ia tengah larut dalam lelapnya, aku membangunkan, ”Ini ada syair baru, ayo jadikan lagu,”. Demikian, dengan segala provokasi yang ada, tercipta lagu-lagu anak jalanan. Setelahnya, mencipta lagu menjadi bagian hidupnya. Ia mulai mendorong anak-anak untuk membuat syair-syair. Beberapa ia pilih dan dijadikan lagu. Ditularkan ke anak-anak yang lain, sehingga lagu-lagu yang ada menjadi lagu bersama. Kebanggaan terhadap lagu-lagu sendiri, membuat anak-anak jalanan selalu menjadikan lagu-lagu itu sebagai lagu yang dinyanyikan untuk mengamen. Ada yang suka, tapi ada juga yang tidak suka. Yang tidak suka, biasanya dari aparat pemerintah atau aparat keamanan. Pernah ada satu kelompok pengamen ”diamankan” dan diinterogasi tentang lagu-lagu yang dinyanyikan dalam sebuah bus kota.

Namanya Yoyok, lengkapnya Yoyok Laksono, begitulah pengakuannya. Di kalangan anak jalanan yang kemudian melekat dalam dirinya, ia akrab dipanggil dengan sebutan ”Wak Yok”.

Ia berasal dari Lampung, pernah kuliah di salah satu perguruan tinggi, lalu kabur dari rumah dan tak pernah kembali. Ia menggelendang ke berbagai kota, hingga akhirnya tiba di Semarang tercinta. Tentang alasan kabur, tampanya juga masih kabur, lantaran tak begitu terbuka.

Ketika rumah anak jalanan diserbu oleh preman dari berbagai lokasi yang juga melibatkan tokoh-tokoh preman terkemuka tanpa alasan yang jelas (ada dugaan mereka mendapatkan perintah) pada September 1997, dua bulan setelah kerusuhan di jakarta pada bulan Juli 1997, kami menyebar ke berbagai kota. Yoyok ikut mendampingi anak-anak yang pergi ke Yogya, menumpang dan tinggal bersama kawan-kawan dari GIRLI.

Pada proses ini, banyak lagu tercipta dari anak-anak jalanan, tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi, menjadi catatan sejarah yang tak terlupakan.

Kemudian ia bersama beberapa komunitas jalanan, berproses bersama dalam kelompok musik ”TROTOARI”. Kelompok musik yang sempat dikenal luas di Semarang. Pertunjukkannya di auditorium salah satu perguruan tinggi, penuh sesak. Aku dengar, ia mencipta banyak karya. Aku juga mendengar kabar kelompok ini sempat muncul membawakan tiga buah lagu dalam suatu acara di televisi swasta.

Pada akhir tahun 2007, ia memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya di Lampung. Kami sempat mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Ia menetapkan tanggal 31 Desember sebagai tanggal perjalanan dari Jakarta ke Lampung, menanti pergantian tahun. Istriku sempat bergurau dengannya, membuat lirik tentang kepulangan, yang dimulai dari suara sirene pertanda kapal segera berangkat.

Aku seperti tak sabar menunggu cerita tentang kepulangannya. Satu minggu dia berada di rumah, kemudian kembali ke Semarang. Dari kawan-kawan di Semarang, aku mendengar sepenggal kisahnya. Wah makin tak sabaran untuk mendengar langsung dari mulutnya. Sampai waktunya tiba, aku berkesempatan ke Semarang, kongkow bareng dengannya..

Ia bercerita tentang perasaannya,  setelah lebih dari 10 tahun meninggalkan rumah. Ia ceritakan ketika bertemu dengan orangtua dan saudara-saudaranya. Kegiatan-kegiatan yang ia lakukan selama di kampung halamannya. Meniti jejak-jejak perjalanan.

Setelah kepulangannya pertama, ia selalu menyempatkan diri pulang setahun sekali atau dua kali.

Saat pernikahannya yang sayang tidak bisa saya hadiri

Pada tahun 2009, ia memutuskan menikah dengan gadis pujaan. Ia kembali ke Lampung mengurus surat-surat dan meminta restu dari keluarga. Berawal dari sini, ketika melihat KTP-nya, barulah kami tahu nama lengkapnya: Catur Adi Laksono. Anak keempat dari lima bersaudara. Ah, bahagialah kawan.

Kembali ke lagu, saya kira sudah ratusan lagu tercipta darinya. Baik dari lirik-lirik yang dibuat oleh kawan-kawannya, oleh anak-anak, ataupun oleh dirinya sendiri. Beberapa puisi juga ia jadikan lagu yang enak didengar.

Dari berbagai lagu yang diciptakan aku sangat terkesan dengan dua lagunya. Pertama lagu ”Ibu” yang diciptakan bersama anak-anak jalanan di Yogyakarta. Lagu yang ketika tercipta dan dinyanyikan bersama, membuat beberapa anak jalanan menangis. Teringat ibunya, teringat keluarganya. Lagu ini pernah dijadikan sebagai lagu untuk iklan layanan masyarakat yang dibuat Garin Nugroho dan kerap diputar ulang di berbagai televisi swasta. Kedua, adalah lagu Perjalanan yang liriknya kukutip di atas.

Perjalanan masihlah panjang
Masih ada waktu tuk terus bertanya
Hingga tak ada yang dipertanyakan
Masih ada hari tuk terus mencari
Hingga tak ada yang dicari lagi

Tetaplah semangat dalam karya, sahabat.

Beberapa lagu karyanya:


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: