Tinggalkan komentar

[Sosok] Mengenang Wan Oji, Pejuang Buruh Bersahaja

Fauzi Abdullah

Fauzi Abdullah Pejuang yang Bersahaja”  demikian judul di SKH Kompas tanggal 29 November 2009 (lihat DI SINI), dalam rubrik obituari. Namun jauh sebelumnya, MBM Tempo (37/XXXI, 11 November 2002) pernah menurunkan tulisan tentang dirinya dengan judul “Riwayat Kesabaran Seorang Aktivis“. Sebuah artikel di Jakarta Post (9 Desember 2009) , bahkan menyebut Fauzi Abdullah sebagai seorang pahlawan buruh (lihat DI SINI). Ketiga pemberitaan di media massa terkemuka di Indonesia, sengaja saya tampilkan sebagai contoh untuk menunjukkan sosok Fauzi Abdullah dalam pandangan orang lain, terutama media.

Tulisan ini menjadi HL di Kompasiana, 24 November 2010

Salah satu tokoh Gerakan Sosial yang dijuluki “Begawan” oleh Mulyana W Kusuma, Didi dari Delanggu selalu memperkenalkan Fauzi Abdullah sebagai “Bapak Buruh Indonesia”. Mulyana W. Kusuma menjulukinya sebagai spesialis grassroot (MBM Tempo, 37/XXXI 11 November 2002). Adnan Buyung Nasution menyatakan bahwa “Jasanya dalam mencerdaskan gerakan buruh di zamaa Orba luar biasa,” dan Todung Mulya Lubis memberikan komentar bahwa: “Fauzi adalah pejuang hak asasi yang tak punya pamrih. Dia tulus dan bersahaja,” (Koran Tempo, 28 November 2009)

Saya kira pujian-pujian tersebut tidaklah berlebihan apabila mendalami perjalanan kehidupan Fauzi Abdullah yang  pernah masuk menjadi salah satu tokoh pahlawan versi MBM Tempo. Sosok yang oleh orang-orang terdekatnya dikenal dengan berbagai panggilan akrab seperti Wan Oji, Ojie, Babe, dan Abah, memanglah orang yang bersahaja, cenderung low profile, namun sepak terjangnya sejak tahun 1980 hingga kematian menjemputnya, ia diketahui sangat konsisten untuk mendampingi dan bergulat dengan isu perburuhan. Ia  telah memberikan kontribusi besar  bagi gerakan buruh dan memberikan inspirasi kepada para aktivis-aktivis perburuhan dan aktivis gerakan sosial pada umumnya.

Ketetapan hati dan konsistensinya pada isu perburuhan yang tidak hanya berkutat pada konsep-konsep dan menerawang dari atas, tapi juga menceburkan diri pada pergaulan sehari-hari dengan kaum buruh. Konsistensi itulah yang menjadi bahan pertimbangan hingga ia dianugerahi penghargaan Lifetime Achievement. Pemberian penghargaan ini merupakan yang pertama dalam 14 kali penyelenggaraan Yap Thiam Hien Award sejak 1992.  Dewan juri menilai almarhum Fauzi Abdullah sebagai sosok yang setia memberikan hidupnya untuk membela kaum buruh sejak 1980-an. Meski berperan banyak dalam perjuangan kaum buruh, namun dia merupakan tipe pekerja HAM yang jauh dari publisitas.

Wan Oji Pindah Rumah, himpunan tulisan para sahabat

Tulisan ini, saya buat untuk mengenangnya, menjelang setahun kepergiannya. Ia meninggal pada hari Jum’at, 27 November 2009, bertepatan pada Hari Raya Idul Adha. Kepergiannya hanya berselang 12 hari setelah peringatan kelahirannya yang ke 60. Ia dilahirkan pada tanggal 15 November 1949. Ia meninggalkan seorang istri, Dwi Purwanti yang dinikahinya pada tahun 2000,  dan seorang anak bernama Reihan yang baru duduk di kelas tiga sekolah dasar.

Sebagai wujud penghargaan dan untuk mengenang dirinya, telah diterbitkan sebuah buku yang disunting oleh Nurhadi Sirimorok dan Puthut EA, yang diterbitkan oleh INSIST Press pada Desember 2009, dengan judul “Wan Oji Pindah Rumah” (buku ini dapat diunduh di: http://insist.or.id/userfiles/file/Wan_Oji_Sudah_Pindah_Rumah.pdf). Buku ini berisi kumpulan tulisan atas kenangan-kenangan dari orang-orang yang pernah mengenalnya. Saya berkesempatan untuk turut menyumbangkan satu tulisan tentang beliau.

Semua orang yang pernah mengenalnya, setidaknya memiliki kesan yang sama. Wan Oji adalah sosok yang identik dengan dengan kaos oblong yang biasanya bolong dibagian ketiak, sepasang sandal jepit, dan sarung kotak-kotak. Ia sangat tidak memperdulikan penampilannya, dan juga tidak perduli dengan reaksi ataupun omongan orang atas penampilannya. Ketika ia aktif di LBH Jakarta yang dimasukinya sejak tahun 1978, Adnan Buyung Nasution pernah membelikannya sepasang sepatu agar sehari-hari di kantor bisa menjadi lebih rapi. Tetapi yang terjadi adalah, tetap saja ia tidak merubah penampilannya. Hal yang hampir serupa juga pernah terjadi ketika ia akan mengikuti suatu konferensi internasional di luar negeri, seorang sahabatnya membelikan sepasang sepatu, tapi itu juga tak mampu merubah penampilannya.

Saya bersedia memakai jas, kalau itu memang dibutuhkan,” katanya suatu malam dalam perbincangan di rumahnya. Dibutuhkan, artinya itu bisa bermakna besar bagi kepentingan orang banyak, terutama kaum buruh yang menjadi perhatian penuhnya selama bertahun-tahun. Tapi, selama saya mengenalnya, tidak pernah saya melihat ia mengenakan setelan jas dalam suatu acara atau pertemuan. Namun berdasarkan cerita seseorang, ia pernah mengenakan jas dalam suatu acara. Selesai presentasi, ia bergegas masuk kamar dan berganti dengan pakaian kebangsaannya: Sarung dan kaos.

Perubahan penampilannya yang terlihat adalah ketika ia sudah menikah pada tahun 2000. Itupun bukan perubahan besar. Sandal jepit berganti sandal kulit, dan kaos di ketiaknya sudah tidak bolong lagi.

***

Mbak Dwi, istri Wan Oji (Foto: Ririn Habsari)

Wan Oji dilahirkan sebagai anak ketiga dari 16 bersaudara. Namun, salah seorang saudaranya meninggal ketika masih bayi, dan dua orang lainnya meninggal ketika beranjak dewasa. Ia berasal dari keluarga keturunan Arab, yang sebagian besar berprofesi sebagai pedagang. Oleh karena itu, pilihan hidupnya yang berbeda dengan anggota keluarga lainnya dianggap sebagai penyimpangan.

Wan Oji pernah mengecap pendidikan di IPB mengikuti kemauan orangtuanya, namun hanya bertahan tiga bulan. Setelah itu ia mendaftar dan diterima di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ia mengambil jurusan Sastra Inggris. Atas pilihannya, ia harus membiayai kuliahnya sendiri. Alasan ini tampaknya yang menyebabkan ia lebih banyak tinggal di kampus, bersama salah seorang karibnya, yang sekarang dikenal sebagai seorang sastrawan, Pamusuk Eneste. Untuk mencukupi kebutuhannya, konon Wan Oji sering menulis di berbagai media dengan nama samaran. Sayangnya, saya yang berusaha melacak tulisan-tulisannya pada masa itu belum bisa mendapatkan hasil karyanya.

Reihan, anak tunggalnya

Ia aktif dalam berbagai organisasi kampus, salah satunya di Grup Diskusi Universitas Indonesia (GDUI), dengan anggotanya yang dikemudian hari banyak dikenal sebagai tokoh di Indonesia, seperti Syahrir Hariman Siregar, Silvia Tywon (Guru Besar Sastra Indonesia-melayu di Berkeley University), Wiladi Budiharga, Theo Sambuaga, Daradjatun Koentjararajakti, Mulya Lubis, Darusman, dan sebagainya.

Perhatiannya terhadap isu perburuhan diawali dengan keterlibatannya sebagai relawan di LBH Jakarta pada tahun 1978. Pada tahun 1980-an ia mulai terlihat intens berhubungan dan bekerja bersama para buruh. Ia tak segan-segan untuk memasuki perkampungan-perkampungan buruh, mengajak membicarakan masalah-masalah buruh, mencari obat-obatan dan mengantarnya sendiri kepada buruh yang menderita sakit.

Di kantornya, ia sering bermalam di sana. Selepas jam kerja, biasanya banyak orang berdatangan, mereka mengobrol dan berdiskusi sampai pagi. Para tamu itu adalah kaum buruh dari berbagai wilayah di seputaran Jakarta.

Persoalan kaum buruh telah menjadi pilihan dimana seluruh hidupnya diabdikan. Mengenai hal itu, seingat saya, dua kali saya pernah bertanya padanya, di sela-sela perbincangan. “Tidak banyak yang memperhatikan kehidupan buruh,” katanya pada pertengahan tahun 80-an.

Pada tahun 90-an ketika berbagai persoalan kerakyatan mengemuka, dan banyak aktivis memilih isu-isu baru, ia tetap bertahan pada pilihannya berpihak dan bekerja bersama kaum buruh. “Saya ini siapa-lah? Otak dan kemampuan saya terbatas untuk berpikir dan bekerja  banyak hal. Berpikir dan bekerja untuk isu buruh saja, saya merasa masih kurang,’ jawaban ini  melekat kuat dalam diri saya, dan sering saya gunakan ketika orang menanyakan mengapa saya hanya berkutat pada satu persoalan saja.

Pilihan tersebut bukan berarti ia bersikap buta dengan persoalan-persoalan lain. Ia bisa saja hadir dalam suatu acara yang tidak berhubungan dengan persoalan buruh, sejauh tidak berbenturan dengan kegiatannya bersama kaum buruh.

***

Upacara Pemakamannya (Foto Ririn Habsari)

Ia sangat berhati-hati di dalam membangun gerakan buruh. Sikap kehati-hatiannya sering dianggap sebagai sikap moderat dan kadang juga mendapat tuduhan sebagai orang yang menghambat gerakan buruh.

Fauzan, Koordinator Lembaga Informasi Perburuhan Sedane, yang didirikan oleh Wan Oji, menuliskan bahwa Fauzi Abdullah memang memilih kerja-kerja “kecil”, fokus pada beberapa kelompok kecil, dengan bayangan ke depan, kelompok-kelompok ini akan melanjutkan dan memperluas kerja-kerjanya, sehingga dalam waktu panjang akan terbangun sebuah gerakan yang solid dan besar. Cita-cita Fauzi Abdullah adalah terbangunnya gerakan buruh yang mempunyai kekuatan bargain yang besar serta punya kesadaran politik yang tinggi, yang sampai saat ini hal tersebut belum muncul. Namun embrio dari gagasan dan kerja-kerja tersebut mulai membuahkan hasil. Bagi kawan-kawan lain yang tidak mempunyai kesabaran seperti itu tentunya akan menganggap, kerja model tersebut akan membuang waktu yang panjang.

Menurut Fauzi, serikat harus dibangun oleh orang-orang serikat itu sendiri, dengan syarat utama bahwa serikat tersebut haruslah demokratis dan anggota-anggotanya terpolitisasi (dalam artian luas), sehingga justru orang-orang di dalam serikatlah yang bertugas untuk melakukan pengorganisasian, pendidikan dan mengurus dirinya sendiri. Fungsi LSM atau elemen lain adalah supporting system, memberikan hal-hal yang memang belum dapat dikerjakan oleh serikat itu sendiri. Namun gagasan mengubah serikat dari dalam ini tidaklah semudah prakteknya. Sulit mencari orang-orang yang mau berubah, apalagi setelah 30 tahun lebih terhegemoni begitu kuat oleh rejim Orde Baru. Pendidikan menjadi kunci utama dalam proses ini, selain itu informasi menjadi aspek yang sangat penting bagi serikat atau buruh. Akses buruh terhadap informasi di masa-masa awal tahun 1980-90an masih lemah.

Hampir senada, Ratna Saptari, aktivis perempuan yang dikenal sebagai peneliti, menuliskan bahwa di tahun-tahun akhir 80an dan awal 90an, dengan berjamurannya serikat buruh di berbagai tempat, sebagai simbol pertentangan terhadap kekuasaan Negara, maupun sebagai tempat berpijak para aktifis mahasiswa untuk menggalang gerakan politik yang berbasis massa, Fauzi mempunyai patokan yang konsisten. Jangan membuat serikat buruh kalau belum ada kekuatan. Walaupun memang pada akhirnya pembentukan lembaga dibutuhkan untuk mengkonsentrasikan kegiatan pengorganisasian dan akhirnya terbentuk pula Serikat Buruh Jabotabek, ia selalu berhati-hati dalam strategi pengorganisasian. Berangkat dari bawah, buruh jangan jadi alat politik semata-mata.

***

Menjelang setahun kepergiannya. Banyak kesan dan pelajaran yang bisa di dapatkan darinya yang melekat di hati dan kesadaran banyak orang, utamanya kaum buruh. Tulisan ini hanya sebagian kecil dari kisah perjalanan hidupnya. Hanya doa bahwa ia mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.

Yogyakarta, 24 November 2010

———————————————————-

Tulisan ini pernah diposting dan menjadi Headline di Kompasiana, tanggal 24 November 2010. Lihat di SINI

Beberapa foto saat pemakaman, dokumentasi Ririn Habsari (terima kasih Ririn atas ijinnya menggunakan foto-foto ini)

Adnan Buyung Nasution, melepas kepergian Wan Oji

Wardah Hafidz dan Wiladi, sahabat Wan Ojie

Para sahabat Wan Oji

para sahabat Wan Ojie 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: