15 Komentar

[Sosok] Yayak Iskra: Berjuang Melalui Gambar dan Lagu

Berjuang Melalui Gambar dan Lagu (1)

Sama-sama

Belajar sama-sama
Bertanya sama-sama
Kerjasama-sama 

Semua orang itu guru
Alam raya sekolahku
Sejahteralah bangsaku

Lagu yang tidak pernah kita dengar di televisi atau di radio-radio komersial, tapi telah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Disebarkan oleh para pendamping anak, kelompok-kelompok mahasiswa, dan organizer-organizer pendamping rakyat.

Puluhan ribu orang pernah mendengar atau turut menyanyikannya. Lagu ini menjadi lagu penyemangat akan kebersamaan dan semangat untuk senantiasa belajar, belajar, dan belajar, dari kehidupan.

Upaya untuk menyebarluaskan lagu ini, dilakukan oleh berbagai kelompok musik indie dengan aneka ragam aransemen yang dipublish di site-site gratisan.

Kini, lagu itu kembali terdengar di berbagai lokasi pengungsian, dinyanyikan oleh anak-anak. Baik di daerah Sleman, Muntilan ataupun di Klaten.

Ketika mengunjungi kantor Pemerintah Kabupaten beberapa waktu lalu, kebetulan tengah ada pelatihan bagi  para relawan pendamping anak. Di sela pelatihan, lagu ini menjadi salah satu lagu yang kudengar.

”Kita pakai lagu ini, tidak apa-apa, ya, Mas?”

”Santai saja, itu lagu merdeka, bisa disebarkan oleh siapa saja dan ke mana saja,” sahutku.

Lagu ”Sama-sama” adalah salah satu lagu dari ratusan lagu yang digubah oleh Bambang Adyatmata, atau dikenal juga dengan nama Yayak Kencrit atau Yayak Iskra atau Ismaya. Pria kelahiran Yogyakarta tahun 1956, alumni Fakultas Senirupa dan Disain Institut Teknologi Bandung, telah aktif dalam gerakan sosial sejak tahun 1978 yang masih berlanjut hingga saat ini. Lagu-lagu yang dibuatnya diberi nama ”Lagu Anak-anak Merdeka” dan ”Lagu Rakyat Merdeka”.

Para aktivis mahasiswa dan gerakan parlemen jalanan, walau mungkin tidak mengenal sosok Yayak Iskra secara langsung, mungkin pernah mengumandangkan lagu-lagu-nya dalam aksi-aksi mereka. Lagu ”Topi Jerami”, ”Roti Matahari”, ”Titik Api”, ”Aku Anak/Rakyat Indonesia”, ”Satukanlah” yang kemudian dikembangkan oleh Kris dari Lontar Band Surabaya menjadi lagu ”Rakyat Bersatu”, seolah menjadi lagu semi resmi bagi aksi-aksi jalanan.

Lagu-lagu ”Anak Merdeka”, lirik-liriknya banyak berkisah tentang kehidupan keseharian anak-anak. Tentang ”Burung”, ”Laut”, ”Petani”, ”Bayam Merah”, ”Ambil Biji” dan sebagainya. Lirik-liriknya juga mengajarkan tentang semangat belajar dan bekerja bersama, tentang kemerdekaan sebagai manusia, tentang semangat, dan sesungguhnya juga mengajarkan ”nasionalisme” dan pijakan terhadap nilai-nilai sosial-budaya masyarakat setempat serta kecintaan terhadap lingkungan. Simak saja lagunya tentang ”Roti Matahari”, ”Desa Merdeka” ”Sama-sama”, ”Sama Kenyang,” dan lain-lain.

Wiji Thukul

Lagu itu berlirik pendek, dengan irama yang mudah dinyanyikan, sehingga anak-anak-pun dapat dengan cepat menghafalnya ketika menyanyikan dua-tiga kali. Hal ini pernah dijelaskan oleh Yayak Iskra dalam salah satu tulisannya bahwa: ”Aku belajar tentang Disain Grafis. Diantaranya belajar tentang ilmu periklanan. Di dalamnya sedikit dipelajari psikologi (sosial) dan jingle serta copy writting. Ini dia. Prinsip Jingle itu antaranya adalah musik pendek, nada esensial, nyacing kuping, diulang-ulang, sesuai sifat dan karakter produk dan seterusnya. Pun bisa dipakai. Tinggal syairnya saja kemudian kita pikirkan menuruti pesan, atau isyarat-isyarat apa yang akan kita sampaikan. Iklan tak lebih dari propaganda (suatu produk). Dan kita sadar, gerakan yang kita lakukan waktu itu adalah Propaganda counter propaganda. Perang lawan iklan, perang lawan budaya pop cengeng.

Sedangkan lagu-lagu ”Rakyat Merdeka” banyak berkisah tentang kisah-kisah duka dari rakyat yang terpinggirkan dan menjadi korban dari para penguasa yang serakah. Hampir setiap ada kejadian, ada lagu yang tercipta. Kadang tidak hanya satu lagu. Sebagian lagu, misalnya ”Kedung Ombo”, ”Tanah Badega”, ”Tanah Aceh”, kumpulan lagu tentang ”Ciliwung”, dan sebagainya.

Yayak Iskra, selain dikenal sebagai pencipta lagu anak/rakyat merdeka juga dikenal sebagai ”tukang gambar” yang sangat tajam menggugat para penguasa yang bersikap tidak adil terhadap rakyatnya. Berbagai karyanya menghiasi majalah/buletin, poster, komik, dan kalender. Salah satu karyanya berupa kalender ”Tanah Untuk Rakyat” yang dihiasi sebuah puisi dari Wiji Tukhul yang dipublish oleh berbagai organisasi masyarakat sipil menyebabkan kemarahan penguasa Orde Baru. Yayak menjadi sosok yang diburu sehingga ia harus ”nomaden” berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari dari penangkapan. Akhirnya ia bisa menyusul istri dan anak-anaknya yang telah lebih dulu kembali ke Jerman.

Jatuhnya rejim Orde Baru, yang salah satunya akibat kontribusi dari gerakan massa di berbagai wilayah di Indonesia, telah berhasil mendongkel Soeharto dari kekuasaannya. Periode baru yang disebut sebagai Orde Reformasi membawa angin segar bagi para eksil agar bisa kembali ke Indonesia. Salah satunya adalah Yayak Iskra.

Perempuan-perempuan Perkasa, karya Yayak Iskra

Kepulangannya pertama, pada tahun 2003, disambut dengan rangkaian Workshop Musik dan Lagu Merdeka yang digelar di berbagai kota seperti Yogyakarta, Surabaya, Mataram, Jakarta, Medan, dan kota lainnya.

Sosok kurus, tinggi, dengan mata bulat yang tajam menghujam dan suara bass-nya, seakan tak kenal lelah. Selalu menyapa dengan pekikan lantang ”MERDEKA!”, ia bersama dengan berbagai kelompok musik, kelompok anak, dan organisasi-organisasi mahasiswa, kembali memperkenalkan lagu-lagu anak/rakyat merdeka dan bersama-sama menciptakan lagu-lagu baru.

Banyak lagu-lagu karya Yayak Iskra, yang beredar dari mulut ke mulut dan tidak banyak diketahui siapa pencipta lagu itu. ”Itulah makna lagu merdeka.. Semua orang boleh merubah liriknya, menambah atau mengurangi, sesuai dengan kebutuhannya,” katanya dalam suatu kesempatan.

Tawaran untuk rekaman ditolaknya. Tawaran dari beberapa penyanyi nasional untuk menyanyikan lagu-lagu-nya juga pernah ditolak. Pada sebuah surat dimana saya mendapatkan tembusannya, Yayak Iskra menuliskan:

Waktu dulu di awal 80 an, tak kurang-kurang kami menerima tawaran untuk rekaman. Kami sengaja menolak. Lagu Anak Merdeka itu biarkan menyebar dari mulut ke mulut. Menyebar antar kawan. Dari kelompok merdeka satu ke kelompok merdeka binaan yang lain. Biarkan nyebar lewat workshop, lewat training-training CO (Community Organizing). Lewat pamong-pamong pendamping , malah masuk ke jiwa anak-anak berbareng sekalian dengan penyadaran,”.

Pilihan yang dilakukan oleh Yayak Iskra untuk mengembangkan lagu-lagu anak/rakyat merdeka yang diarahkan agar dapat tercipta secara kolektif sudah banyak menginspirasi berbagai kelompok. Lagu-lagu yang berkisah tentang realitas kehidupan sehari-hari semakin tumbuh subur, menyebar dari mulut ke mulut saling bertukar lagu, sehingga menjadi lagu perjuangan bagi mereka.

Dijelaskan oleh Yayak bahwa hal yang menarik adalah bahwa penciptaan lagu-lagu dan syairnya rata-rata dilakukan secara kolektif. Sehingga semua orang yang terlibat bisa mengakui sebagai pencipta atau lebur menjadi karya kelompok atau anonym. Psikologis, ini membantu memberi rasa aman untuk menggali semerdekanya kreativitas, imajinasi,greget dan seterusnya dalam proses penciptaan. Suatu Lyrik ditawarkan, lalu dibahas bersama. Bunyi, warna, unikum, irama, thema dst. Lalu di lagukan. Atau sebaliknya, nada-nada atau irama tertentu ditawarkan, lantas lyrik diisikan. Atau bila ada yang menemukan satu lagu utuh,  langsung diuji bersama. Namun, -disepakati dari awal- semua orang siap dan terbuka hati untuk menerima saja bila lagu atau lyriknya itu diaduk-aduk, dibongkar, dirombak atau diganti. Dengan cara ini, maka, puluhan lagu tercipta. Semua kawan senang menyanyi dan melagukannya.

——————————————————-

Berjuang Melalui Lagu dan Gambar (2)

Roti Matahari

Pendidikan di Taman Siswa memiliki pengaruh besar bagi Yayak Iskra. Ia sering kali mengemukakan kisah-kisah ketika ia bersekolah di Taman Siswa kepada rekan-rekannya. Ia merasa bahwa system pendidikan di Taman Siswa melalui kegiatan seni budaya telah berhasil menancapkan kesadaran yang melekat selama hidupnya.

Ia menuliskan dalam sebuah surat kepada seorang sahabatnya:

Ketika memutuskan (diantaranya)  untuk memilih ladang garapan pendidikan untuk anak, seketika aku diingatkan kembali kepada pengalaman masa lampau, masa ketika aku anak-anak juga. Sungguh beruntung aku pernah hidup dan dibesarkan di lingkungan Keluarga Besar Perguruan  Taman Siswa, yang hampir seluruh guru-gurunya adalah seniman atau mengagungkan seni dan budaya. Puluhan (ratusan?) lagu-lagu rakyat dari banyak daerah dan bangsa nancap utuh dalam ingatan.

Puluhan lainnya tak hapal syair tapi ingat melodinya. Puluhan tembang dolanan dan operet jawa seutuhnya bisa diulang mainkan dan nyanyikan. Bahkan menarikannya.

Saat aku mahasiswa itu, aku terhenyak. Bah, ini bukan sekedar main-main. Ini methode pengajaran yang berhasil. Tanyaku, buat apa menghapal dan menyukai serta mengingat itu semua? Kenapa pengalaman  dan dasar sederhana itu tak luluh, hilang atau menguap diganyang dan dikikis banyak pengaruh selama pertumbuhan menjadi dewasa selama ini? Atau karena aku diberkati kemampuan daya ingat tinggi? Tidak juga. Terbukti ketika kutanya banyak Kakak, kawan dan sodaraku, para alumni (Taman Muda/SD Taman Siswa), hampir semuanya pula memiliki kemampuan yang sama. Luar biasa itu methode..

Lebih-lebih lagi bila mengingingati syair-syair atau teks lagu sederhana  itu. Kebijaksanaan, keriangan, kegembiraan dan kesenangan kerja, kesetiakawanan, kerakyatan, cinta alam lingkungan, kedamaian dst. mengisi nafas dan ketukan2 irama. Pendidikan itu tidak netral. Aku telah jadi korban didik Taman Siswa. Jiwa kebangsaan, cinta tanah air dan kerakyatan mengisi dan menguasai bawah sadar secuil jiwaku, saat ke saat. Dan aku tak pernah menyesali. Bahkan bersyukur dan berterimakasih. Kesemua ini menjadi kebenaran  -kalau menganggap diri sebagai batu uji methode- maka mesti disebar, diteruskan.

Kegiatannya mengembangkan pendidikan bagi anak dimulai ketika tahun 80-an. Pada masa itu ada gerakan anti kebodohan yang dimotori oleh para aktivis mahasiswa di ITB. Yayak bersama beberapa kawannya mulai mendampingi anak-anak yang berada di seputar kampus, dan beberapa perkampungan miskin.

Pada tahun 1985, bersama kawan-kawannya, ia membuat program ”Olah Anak Kreatif” yang kemudian dikembangkan dengan mendirikan Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) yang dimaksudkan untuk promosi dan memberikan dukungan kepada organisasi atau pihak-pihak yang bekerja untuk anak-anak. Ia menduduki posisi sebagai Koordinator sampai terjadi kasus yang menyebabkan ia meninggalkan Indonesia.

Selain banyak mencipta lagu, sebenarnya Yayak Iskra sangat dikenal sebagai ”tukang gambar”. Ada berbagai lukisan dan karikaturnya yang sangat menyengat para penguasa, khususnya pada masa rejim Orde Baru. Gambar-gambarnya banyak menghiasi penerbitan-penerbitan alternatif, dibuat untuk kaos-kaos perlawanan, dan poster-poster.

Salah satu karikaturnya adalah mengenai berbagai persoalan tanah rakyat di berbagai wilayah di Indonesia, yang dijadikan poster kalender ”Tanah untuk Rakyat”  yang dipublikasikan oleh berbagai organisasi radikal pada masa itu. Akibat poster kalender tersebut, Yayak dimasukkan ke dalam daftar orang yang harus diburu. Poster Kalender itu sendiri telah melahirkan korban dengan ditangkapnya beberapa mahasiswa yang diketahui turut mengedarkannya. Setelah hidup berpindah-pindah, akhirnya Yayak Iskra berhasil meloloskan diri dan hidup bersama istri dan anak-anaknya yang telah lebih dulu pindah di Koln Jerman.

Berada dalam pengasingan tidak membuat jiwa perlawanannya berhenti. Ia masih terus menggubah lagu dan membuat gambar-gambar yang mengkritik penguasa. Goresan tangannya sangat fasih membangun sosok Soeharto dalam gambar. Terasa lekat. Sehingga kawan-kawannya sempat melontarkan komentar: ”Yayak mungkin setiap bangun tidur dan bermimpi selalu tergambar Soeharto. Sehingga Yayak begitu paham dan detil dalam menggambar anatomi wajah Soeharto, meski dalam ukuran kecil sekalipun, orang yang melihat akan paham bahwa yang digambar Yayak adalah Soeharto,”

Awas Ada Buaya, karya Yayak Iskra

Selama dalam masa ”pelarian”, ia aktif membuat pameran tunggal ataupun pameran bersama di berbagai kota di Eropa (lihat Riwayat Hidupnya).

Lantaran gambar-gambarnya yang sangat tajam menusuk para penguasa, tanpa ragu-ragu Prof. DR. Benedict Anderson menyebut Yayak sebagai penerus Sibarani, kartunis terkemuka dekade 1960-an. Hal ini disebabkan keberanian Yayak menuding langsung kepada para pejabat publik yang dianggap bersalah, tanpa khawatir resikonya.

Setelah rejim otoriter Soeharto tumbang, Yayak baru bisa kembali ke Indonesia. Statusnya dalam DPO telah dicabut. Kepulangan pertamanya disambut oleh kawan-kawannya dengan menyelenggarakan Workshop Musik dan Lagu Rakyat Merdeka di beberapa kota.

Pada Agustus 2003, untuk pertama kalinya ia menggelar pameran tunggal di Indonesia dengan tajuk ”Manusia Bumi Selatan” di Galeri Surabaya Dewan Kesenian Surabaya, yang disusul setahun berikutnya, pada Agustus 2004, atas sponsor dari Dewan Kesenian Jakarta, ia kembali berpameran tunggal Di Galeri Cipta Taman Ismail Marzuki dengan tema ”Semua orang itu guru semua tempat itu adalah sekolah

Akhirnya Yayak memutuskan untuk tinggal di Indonesia lagi, dan sesekali mengunjungi istri dan anaknya di Jerman.

Ia tetap berkarya, menyoroti berbagai kasus di Indonesia melalui gambar-gambarnya. Dari persoalan Pelarangan buku, soal Buaya, soal Lapindo dan sebagainya. Di tengah kesibukannya, Ia juga selalu menyempatkan diri bila ada kegiatan-kegiatan bersama anak-anak yang terpinggirkan.

Perhatian Yayak Iskra yang lain adalah pada masalah lingkungan. Ia selalu mengkampanyekan ke banyak orang untuk selalu menanam. Setiap ada acara bersifat masal yang melibatkan banyak orang, ia selalu meminta panitia untuk mengorganisir peserta membawa bibit-bibit tanaman untuk di tanam di seputar lokasi acara.

Yayak Iskra yang sering berpakaian hitam-hitam, masih memiliki mobilitas tinggi untuk keliling ke berbagai wilayah di Indonesia, melakukan sesuatu bagi perubahan.

Ia telah memberi inspirasi bagi banyak orang untuk membangun perlawanan baik melalui lagu-lagunya maupun  gambar-gambarnya, serta provokasi-provokasinya untuk kelestarian alam.

Tetaplah sehat, dan semangat Guru Yayak…..

———————————————————

BELAJAR DARI LAGU DAN GAMBAR (3)

Seri Poster untuk Tukul

Yayak membuat beberapa poster yang diberi tajuk Seri Poster untuk Tukul yang berisi puisi-puisi Tukul.

Banyak orang telah mendengar dan akrab dengan lagu-lagu dan gambar-gambar karya Yayak Iskra yang tersebar secara tersembunyi, namun belum mengetahui sosoknya atau tidak tahu bahwa Yayak Iskra adalah sang penciptanya.

”Ini karya merdeka, anonim, siapa saja boleh mengklaimnya, merubah, mengganti, dan menyebarluaskan lagi. Ilmu itu harus disebarkan, biar rakyat kita pintar,” katanya pada suatu ketika yang tidak mempersoalkan orang tahu atau tidak tentang karya-karyanya.

Maka, ketika kepulangan pertama di tahun 2002, saya sungguh berbahagia ikut terlibat merancang kegiatan apa yang bisa dilakukan olehnya. Mulai dari rencana penyambutan, workshop-workshop untuk pendamping anak, hingga workshop musik dan lagu rakyat merdeka. Akhirnya beberapa kawan sepakat hanya mengadakan workshop musik dan lagu rakyat merdeka saja. Saya dipercaya untuk mengorganisir workshop di Yogyakarta dan workshop nasional-nya yang juga digelar di Yogyakarta.

Pada workshop nasional sebagai penutup dari rangkaian workshop di berbagai kota, mantan-mantan aktivis 80-an dan awal 90-an serta aktivis-aktivis muda dari berbagai latar belakang seperti aktivis mahasiswa, aktivis buruh, aktivis anak jalanan, yang masih aktif dari berbagai kota seperti Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, Mataram, Medan, Bandung, Jakarta, Kediri, Pontianak, turut terlibat. Acara ini tampak seperti temu kangen para aktivis yang telah mengenal Yayak Iskra dan juga rasa penasaran karena selama ini hanya mendengar namanya saja. Memang, banyak orang-orang terkejut ketika mendengar lagu-lagu yang akrab dengan mereka dan kerap dinyanyikan di jalan-jalan adalah karya dari Yayak Iskra. Yayak hanya tertawa saja ketika mereka menanyakan kebenaran itu.

Selama tiga hari workshop di gelar di Studio Puskat. Lagu-lagu anak/rakyat merdeka-pun berkumandang. Semua orang bebas memegang dan memainkan berbagai alat musik, menyesuaikan iramanya, dan menyanyikan bersama-sama. Workshop kilat, kemudian hasilnya di rekam di Studio Puskat dan di SMKI Yogyakarta. Upaya dokumentasi untuk disebarluaskan ke kawan-kawan yang lain. Gambar-gambar karya bersama juga dibuat. Masing-masing orang bebas menggambarkan apapun yang dia mau. Dasar aktivis, kepalanya hampir sama, menyuarakan ketidakadilan yang ada di negeri ini.

Yayak Iskra

Pada akhir acara, digelar pementasan musik. Bertempat di Pendopo Taman Siswa. Sebuah sekolah yang pernah menjadi sekolah dari Yayak ketika di TK dan di tingkat SD. Ajaran-ajaran yang diterima  selama bersekolah yang melekat dan menjadi bagian dari hidupnya memandang tentang metode pendidikan. Hal itulah yang selalu berulang ia ceritakan baik secara lisan ataupun melalui tulisan-tulisannya.

Yayak menjadi bintang pada malam itu. Ia menyanyikan lebih dari 10 lagu. Setiap menyanyi, para penonton mengikutinya. Satu persatu ikut bergabung di panggung, memegang alat musik, dan jadinya hampir separuh orang yang ada di pendopo berada di atas panggung. Acara berlangsung lancar. Semua puas, semua senang. Demikian pula dengan diriku.

* * *

Bagiku, lagu-lagu Yayak Iskra tidaklah asing. Aku telah mendengarnya sejak tahun 1985, ketika Yayak Iskra bersama Mohammad Farid (Aktivis hak anak terkemuka) dan kawan-kawannya menyelenggarakan program Olah Anak Kreatif. Aku bersama kawan-kawan, yang ketika itu masih SMP sering menyanyikan lagu-lagunya. Lagu yang paling disuka pada saat itu adalah lagu Aku Anak Indonesia yang berirama melayu.

Aku Anak Indonesia

Aku anak Indonesia
Aku punya cita-cita
Punya mobil punya sawah
Jadi mentri atau bupati

Aku cinta indonesia
Aku cinta pancasila
Apa daya uang tak punya
Sekolahpun aku binasa

Reff:

Indonesia kaya raya
Mengapa aku menderita
Tapi aku tetap gembira
Karena Indonesia merdeka

Aku anak siapa saja
Bapak kerja ibuku juga
Pagi sampai sore hari
Upahnyapun habis sudah

Aku makan propaganda
Dengan lauk janji-janji
Terka aku anak siapa
Aku anak indonesia

Kembali ke Reff:

Pada akhir tahun 80-an, lagu-lagu ini selalu menjadi kutipan dari pemberitaan media massa karena banyak dinyanyikan oleh anak-anak di berbagai lokasi yang terkena penggusuran. Misalnya oleh anak-anak Kedung Ombo. Tapi pemberitaan tidak pernah menuliskan siapa nama pengarangnya. Perkembangan lainnya, kata anak bisa berubah menjadi ”buruh”, ”Petani”, ”rakyat”, dan sebagainya yang disesuaikan dengan kelompok yang menyanyikannya.

Mengenai lagu ini, Yayak pernah menuliskan bagaimana lagu ini lahir. Pada suatu hari, katanya, ada anak muda dari dusun, tak selesai SD, pengamen,  nyasar ke kampus. Dia bawa gitar bobrok dengan tiga senar. Kita stem string itu, dan diciptakanlah lagu itu. Pengamen itu terlihat sangat gembira.

Mengenai Lagu Anak merdeka, lagu yang pertama kali diciptakan oleh Yayak Iskra adalah lagu ”Roti Matahari”.

Kubawa bawa matahariku
Kubagi bagi layaknya roti,
Semua mendapatkannya,
Semua suka bersama sama.
(1980)

Menurut Yayak, Syairnya terilhami dari gambar anak-anak yang seringkali menyertakan matahari dalam obyek gambar-gambar  mereka. Matahari menjadi semacam simbol dari semangat hidup mereka. Terutama setelah mereka terbebas dari kungkungan gambar simbolik stereotyp: 2 gunung mengapit matahari terbit.

Lagu ini iramanya riang, dari lambat ke cepat. Pada pengulangan ke III ke V, seketika berhenti  serta berteriak Merdeka sekeras-kerasnya sebanyak tiga kali. Hal ini juga bisa dilakukan pada lagu-lagu yang lain. Tujuannya jelas yaitu penanaman jiwa merdeka, lewat penghayatan kata dan sikap. Jemari dikepalkan, tinjulah langit sekuatnya.

Metode untuk menyanyikan lagu-lagu Yayak (yang biasanya lirik-liriknya pendek) secara berulang-ulang dengan tempo yang semakin cepat dan diakhiri dengan teriakan ”merdeka” berulang kali, sering kami praktikkan ke anak-anak. Ini bisa menjadi penyemangat bagi anak-anak. Metode ini juga bisa menjadi semacam trauma healing bagi anak-anak korban bencana. Misalnya yang kami lakukan kepada anak-anak korban gempa di Kabupaten Bantul pada tahun 2006 dan juga pada anak-anak yang menjadi korban letusan merapi yang terjadi pada tahun ini. Hal serupa juga dilakukan oleh kelompok-kelompok lain.

Lagu-lagu Anak Merdeka, juga sering dinyanyikan oleh orang dewasa. Utamanya para aktivis mahasiswa dan rakyat tergusur. Misalnya saja lagu ”Topi Jerami” yang irama lagunya banyak menjadi lagu untuk para supporter bola.

Topi Jerami

Di bawah topi jerami
Kususuri garis matahari
Sejuta kali putar bumi
Bagiku satu langkah kaki

Titik Api

Dari titik api matahari pagi
Kan kutangkap semangat menyala nyala
Bakar badanku bakarlah jiwaku
Biar matang merdeka
(1985)

Lagu untuk anak, yang kemudian dikembangkan menjadi lagu orang dewasa dan menjadi lagu jalanan adalah lagu ”Satukanlah” yang akhirnya berubah judul menjadi ”Rakyat Bersatu”

Lirik awalnya:

Satukanlah dirimu semua
jadi bangsa senasib seraga
sakit suka dirasa sama
bangun-bangun segera

Satukanlah berai jemarimu
kepalkanlah dan jadikan tinju
bara lapar jadikan palu
‘tuk pukul lawan tak perlu meragu

Setelah itu mendapat tambahan lirik oleh Kris dari Lontar Band Surabaya, yaitu:

Reff:

Pasti menang, harus menang
Rakyat berjuang
Pasti menang, harus menang
Rakyat merdeka

Hari terus berganti
Haruskah kalah lagi
Si Penindas harus pergi
Tuk hari esok yang lebih baik

Reff:

Pasti menang, harus menang
Rakyat berjuang
Pasti menang, harus menang
Rakyat merdeka

Jangan mau ditindas
Jangan mau dijajah
Jiwa dan pikiran kita
Tuk hari esok yang lebih baik

Reff.  (10 X)

Pasti menang, harus menang
Rakyat berjuang
Pasti menang, harus menang
Rakyat merdeka

(1987-1996)

Pada masa-masa akhir 80-an, Yayak Iskra banyak mencipta lagu-lagu tentang isu tanah rakyat yang tergusur atau rakyat yang terpinggirkan, seperti Kedung Ombo, Badega, Buruh, Ciliwung, dan sebagainya.

Beberapa contoh lirik lagunya:

Ada apa di Kedung Ombo

Kedung Ombo jadi berita
Orang pun ribut, pro dan kontra
Apa yang nyata disana
Segeralah simak saja:

Reff:

Disana telah terjadi
Bencana yang terencana
Anak-anak jadi tumbal
Sakit dan mati tenggelam

Masa depannya ditebas
Demi listrik dan restoran
Diperbodoh, ditelantarkan
Demi turis dan pelacuran

Badega Menjerit

Kudengar swara, tanah terluka
Bumi Badega menjerit lara
Bumi ibunda nyata dihina
Kaki kaki busuk jiwanya nista

Reff.

Bangunlah kawan, apikan jiwa
Si Pemakan Tanah, usirlah musnah
Yakinlah benar kita tlah sadar
Bumi Badega kita empunya
(1988)

Kebun Aceh

Tanah kebun di Aceh ini
Sudah lama kami rasa punya
Dia nyawa seluruh keluarga
Tak mungkin kami sia-sia

Reff:

Lompatilah nyawa kita
Bila mau merebutnya
Tanah Aceh tanah bunda
Kan kami jaga sampai menang
(1988)

Buruh Bersatu Tak Bisa Dikalahkan

Kepalkan tangan, satukanlah tujuan
Bangkit bergerak melawan penindasan
Rebut kemenangan, tegakkan lah keadilan
Buruh bersatu, tak bisa dikalahkan
Buruh bersatu, tak bisa dikalahkan
(1999)

Selain lagu-lagu di atas, ada puluhan lagu-lagu yang diciptakan oleh Yayak. Beberapa ada yang merupakan adaptasi dari lagu-lagu perlawanan dari berbagai negara.

Bahan Bacaan:

  • Brosur pameran ”Karya Eksil Yayak Iskra: Manusia Bumi Selatan”, Agustus 2003
  • Surat Yayak Iskra , tertanggal 30 April 2002
  • Wawancara dengan Yayak Iskra, dalam buku ”Berjalan sambil Buat Jalan”, Save the Children – SAMIN, 2010
  • Gambar-gambar Yayak Iskra dalam account FB-nya

———————————————————

RIWAYAT HIDUP YAYAK ISKRA

1956: Lahir di Yogyakarta

1977 – 1984:   Fakultas Senirupa dan Disain, Institut Teknologi Bandung, jurusan Desain Grafis

1977 – 1989 :  Disaner grafis dan ilustrator beberapa majalah di Indonesia

1992                 :  Tinggal di Koln, Jerman

1993                 :  Pendiri Kelompok Seniman Wulung, Koln, Jerman

1998                 :  Anggota Federatian Critique, Paris, Perancis

Pameran Tunggal:

1990                     “Anak Selatan Bumi”, di 35 sekolah di Perancis Selatan

1992                     “Karikatur Politik dan Gambar”, Evangelishe Akademie, Iserlohn

Karikatur Politik dan Gambar”, Wekstatt 3, Hamburg

“Aksi Gambar”, Palais du Trocadero, Paris

Karikatur Politik dan Gambar”, Dam, Amsterdam

1993                      “Karikatur Politik dan Gambar”, Rote Fabrik, Zurich

Karikatur Politik dan Gambar”, Okobildungswerk, Koln

1994                     ”Anak Selatan bumi”, Bilderschec, Koln

1995                     ”Selatan VS Utara” Jendela Seni Componet, Koln

Karikatur Politik dan Gambar” Universitas Humbold, Berlin

General und Hightech” Cafe International, Hannover

Karikatur Politik dan Gambar”, Institut und Sammlung fur Volkerkunde Universitat Gottingen, Gottingen.

”Aksi Gambar” Pasar Maling, Utrecht

1997                    ”Message From the Future” Galeria Asia Pasific Reisen, Koln

1998                    “Pekerja Anak dari Asia, Amerika Latin dan Afrika” Global March, Poitiers, Perancis

“Anak Sial Bumi Selatan,” Drittewelt Zentrum, Aachen

2003                    ”Manusia Bumi Selatan” Galeri Surabaya, Dewan Kesenian Surabaya

2004                    ”Semua Orang Itu Guru, Semua Tempat adalah Sekolah,” Cipta Galeri, Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Pameran Bersama

1984                     Galeri Utama Taman Ismail Marzuki, Jakarta

1990                     Kunstschalter, koln

1992                     Kunstschalter, koln

1995                     Begegnung, EuroCentres, Koln

1996                     Alles Quadrat, Hotel Et Cetera, Koln

”Gambar-gambar”, Chiang Mai, Thailand

1998                     Federation Critique, Grande Arche La Defense, Paris

1999                     Seniman Melayu” Alte Leder Fabrik, Koln

2000                    ”Seni untuk Rakyat” Asien Haus, Essen

2001                     ”Seniman Jerman VS Indonesia” Deustsche Welle, Koln

2002                     “Anti Militerisme” Indonesia House, Amsterdam

2003                     “Seni Mutahir Indonesia” Atmoshphaere Galery, Koln

Publikasi

1990                     ”Tini” Komik, ORCADES, Poitiers

1992                     Ilustrasi majalah SuOstASIEN Essen, TAPOL, London, IFM Amsterdam, dan beberapa koran di Jerman, Inggris dan Swiss

1993                     ”Air untuk Sahel” material untuk pengembangan kesaedaran, ORCADES, Poitiers

Hak Asasi Anak” Poster, Terre des Hommes Germany

1994                     ”Buah dari Selatan Bumi” seri poster dan mainan, ORCADES Poitiers

Salam dari Selatan”, Katalog, ORCADES, Poitiers

1995                     ”General und Hightect” LIT Verlag, Munster

Welcome to Indonesia” Poster, Amnesty International, London

1996                     ”Thibaud a la decouverte du Cacao” Pekerja Anak di Perkebunan Coklat di Pantai Gading, Komik, ORCADES, Poitiers

1997                     ”Thibaud a la decouverte de la banana” Pekerja Anak di Perkebunan Pisang Ecuador, Komik, ORCADES, Poitiers

Thibaud a la decouverte du The”, Pekerja Anak di Perkebunan Teh di India, Komik, ORCADES, Poitiers

2000                    ”Militerisme di Indonesia, Untuk Pemula” Komik, penerbit bersama, Jakarta

2002                    “Pembantaian Massal Sejak Oktober 1965”, Poster, Penerbita Bersama, Jakarta

15 comments on “[Sosok] Yayak Iskra: Berjuang Melalui Gambar dan Lagu

  1. Saya sangat bangga dengan perjuangan adik saya yang tetap komet dengan perjuangannya. Senang dan sakit dia rasakan, dan hasil perjuangannya banyak menghasilkan buah-buah positif untuk kemajuan negara Indonesia.Semoga perjuangannya selalu mendapat dukungan dari semua pihak dan trims buat Odi Shalahuddin yang telah membuat tulisan tentang adik saya ini. Sukses buat anda.

  2. Gak ada kata lain selain, salute to mas Yayak Iskra dan mas Odi yang “menceritakannya” dengan detail.
    Sosok yang menutrisi perjuangan di negara merdeka yang masih “terjajah.”

  3. Saya bangga punya dia, kakanda Yayak Yatmaka yg terus menginspirasi … pendongeng indah di masa kecil saya dulu … Mas Odi, terimakasih tulisannya yg sangat lengkap ini … ijin share yaa …

  4. […] Yayak Iskra, seorang aktivis gerakan sosial yang banyak membuat lagu anak/rakyat merdeka, diantaranya lagu “Aku Anak Indonesia“, “Roti Matahari” “Topi Jerami“, “Kedung Ombo“, “Tanah Badega“, “Rakyat Bersatu“, yang sering dinyanyikan dalam berbagai aksi massa. Ia   dikenal pula dengan gambar-gambarnya yang tajam tentang perlakuan kesewenang-wenangan penguasa terhadap rakyat.   Guna mengenang Wiji Thukul, Yayak Iskra membuat seri gambar puisi Thukul. (profil mengenai dirinya dapat dibaca di SINI) […]

  5. salut untuk beliau

  6. waaah harus menjadi ceminan ini om.

    trim sudah berbagi ulasan ini ya om

  7. […] menggunakan gambar-gambar Yayak sebagai ilustrasi tulisan. Tentang Sosok Yayak Iskra lihat di SINI. Gambar-gambar Yayak bisa dilihat di akun […]

  8. Hehe,Kakak Pendampingku waktu kecil di Yayasan Anak merdeka,Jadi teringat kembali akan sosok Kak Yayak,Kak Susiawan,Kak Edi dan Almarhun Kak Noegroho…

  9. […] dengan judul “Berjuang MelaluiLagu dan Gambar” yang juga sudah terposting di blog ini (lihat di SINI) turut mengisi buku“Gambar Sebagai Senjata Rakyat […]

  10. […] Tentang Yayak Iskra, saya pernah menuliskan, Yayak Iskra: Berjuang Melalui Lagu dan Gambar (klik di SINI). […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: