Tinggalkan komentar

80 Persen Anak Jalanan dari Luar DIY

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/08/12442130/80.persen.anak.jalanan.dari.luar.diy

Selasa, 8 Juni 2010 | 12:44 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS – Sebanyak 80 persen dari sekitar 300 anak jalanan di DIY berasal dari luar DIY dan terutama dari Jawa Tengah. Meskipun jumlah dan permasalahan anak jalanan dianggap belum mengkhawatirkan, pemerintah terus berusaha memberikan perlindungan melalui pendampingan dan pembekalan aneka keterampilan.

Menurut Kepala Dinas Sosial DIY Sulistyo, pemerintah belum memiliki tempat penampungan untuk rehabilitasi anak jalanan. Berbagai program bagi anak jalanan biasanya dijalankan bekerja sama dengan beberapa lembaga sosial perlindungan anak dan organisasi masyarakat.

Honor bulanan

Untuk penanganan dan perlindungan terhadap anak termasuk anak jalanan ini, Pemerintah Provinsi DIY mempersiapkan pemberian honor bulanan bagi para pendamping anak. Pemberian honor tersebut baru akan menyasar 11 pendamping senilai Rp 1,2 juta per orang per bulan.

Pemberian honor, menurut Sulistyo, diharapkan bisa berdampak pada peningkatan kualitas pendampingan berkelan-jutan bagi anak-anak, termasuk anak jalanan. “Razia memang sesekali dilakukan dalam rangka mendidik dengan upaya pendekatan permasalahan dan penanganan masalah,” kata Sulistyo, Senin (7/6).

Perhatikan HAM

Direktur Eksekutif Samin, Odi Shalahudin Mahdami, yang turut mengadvokasi perlindungan terhadap anak jalanan, mengatakan, karakter anak jalanan memang biasanya berasal dari luar kota. “Baru setelah reformasi banyak anak jalanan yang berasal dari dalam kota karena terdesak kebutuhan ekonomi,” ujar Odi.

Odi berharap, Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Gelandangan, Pengemis, dan Anak Bermasalah di Jalanan yang masih disiapkan pemerintah daerah sejak tiga tahun terakhir ini tidak melanggar hak asasi manusia. Protes terhadap raperda sempat muncul karena beberapa pasal dinilai bertentangan dengan hak asasi seperti sanksi denda bagi masyarakat yang memberi uang ke anak jalanan, gelandangan, dan pengemis.

Sulistyo menambahkan, raperda masih digodok di biro hukum. Rencananya raperda tersebut dibagi menjadi dua perda, yaitu Perda tentang Gelandangan Pengemis dan Perda Perlindungan Anak Jalanan. “Harapannya perda tidak mencantumkan banyak sanksi pidana tetapi lebih ke rehabilitasi,” ujarnya. (WKM)

_____________________________

Update tulisan-tulisan saya mengenai isu anak saya posting di Blog lain. Jangan Segan untuk Mengklik ANAK DUNIA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: