33 Komentar

[Sosok] Mengenang Bapak (Umar Machdam)

Umar Machdam, Bapakku

Pembuka

Selepas tengah malam. Jenuh dengan kerjaan, jemari mengklik link menuju blog bapak, yang aku buat untuk menghimpun dokumentasi mengenainya. Foto hitam putih, berbaju kotak-kotak, sebagai sosok bapakku, hadir di sebelah kanan blog, menunjukkan senyumnya. Aku menatap lama.

Foto itu hasil scan dan cropping dari sebuah media tahun 1979. Foto itu sebenarnya foto keluarga yang menampilkan bapak-ibu, aku dan satu adikku. Aku rasa itulah satu-satunya foto yang tersisa yang aku miliki dengan gambar yang jelas. Lantaran berbagai sebab, seluruh dokumentasi hilang. Upaya untuk mencari ke orang-orang terdekat yang kita duga memiliki dokumentasi foto bapak, masih belum berhasil. Seorang sahabat yang memiliki dokumen (foto dan klipping-klipping) sangat lengkap, menyatakan bahwa beberapa tahun sebelumnya dokumen tersebut dipinjam oleh seorang istri pejabat, dan orang itu telah meninggal dunia. Aku berharap semoga ke depan, ada keajaiban yang bisa menghimpun kembali.

Aku bersama bapak dan ibuku

Aku jadi teringat, pada suatu hari, di bulan Januari 2010. Selepas acara bersama kawan-kawan dari Koalisi Nasional Pemantau Hak Anak, aku yang menambah hari di Jakarta, singgah di Rumah Ibu. Tidak ada orang di sana. Ibu kebetulan malah pergi ke Yogyakarta.

Ketika aku tengah memandangi buku-buku milik ibu dan adikku yang terletak di rak buku ruang depan, mataku tertuju pada sebuah buku yang berada dalam sebuah map plastic. Aku meraihnya. Membukanya. Satu buku tulis besar yang telah lusuh, dan bendelan tipis foto-kopian. Ingatanku dengan cepat segera mengenali apa isi buku tersebut.

Aku duduk di lantai, mulai membuka lembar demi lembar. Buku yang berisi klipping-klipping tentang Bapak.

“Ah,” perasaan bersalah menjalar. Ini satu-satunya buku yang tertinggal. Sebelumnya ada dua bendel yang berhasil diselamatkan oleh ibuku, mungkin pada awal tahun 90-an. Satu bendel lagi, yang berisi lebih banyak klipping tulisan dan catatan tulisan tangan Bapak yang lengkap mengenai film-film dimana ia terlibat, film-film dimana ia sebagai salah satu pengisi suaranya (dubber), dan sandiwara-sandiwara televisi dimana ia turut bermain dan atau menjadi pengatur laku. Untuk sandiwara televisi, sepengingatan-ku, lebih dari 70 sandiwara yang ditayangkan oleh TVRI sebagai satu-satunya stasiun televisI pada masa tahun 60-70-an. Dan aku, pada saat itu, diminta Ibu untuk mengetik ulang puisi-puisinya. Sebagian sudah kuketik, tapi tak berlanjut. Setelah itu lenyap ingatan. Sampai akhirnya kujumpai satu bundel buku pada hari itu.

Ah, kemana? Apakah telah kukembalikan buku itu pada Ibu? Aku merasa tidak yakin juga. Di rumahku sendiri, seluruh bahan dokumentasi sudah tidak karu-karuan. Terutama setelah gempa melanda Yogyakarta, dan rumah kontrakanku turut menjadi korban. Buku-buku, foto-copian, bendelan dokumen-dokumen, dimasukkan kardus tanpa tertata, dan setelah itu setahun lebih disibukkan oleh urusan penanganan gempa. Ketika mengontrak Rumah lain, hingga hari inipun aku tidak sempat menata. Yang kutahu, beberapa kardus yang telah tertimpa hujan, tertimpa panas, dan mungkin menjadi Rumah tikus (karena diletakkan di luar rumah) , begitu saja terbuang tanpa sempat memeriksa isinya. Jangan-jangan salah satu diantaranya adalah buku itu?

Soal buku adalah soal gampang. Tapi isinya? Aku telah menghilangkan dokumen yang sangat berharga bagi keluargaku! Dokumen-dokumen Bapak yang lainnya, seperti buku-buku, berbagai skenario film dan televisi, foto-foto keluarga dan foto-foto dokumentasi pementasan, yang kuingat pada saat kecil dulu tertata rapi di dua rak buku di kamar belakang, sudah hilang entah kemana. Jadi, buku yang tersisa ini benar-benar sangat-sangat berharga.

Lembaran demi lembaran kubaca. Ada perasaan menusuk-nusuk dan perasaan sangat bersalah membiarkan buku ini tergeletak begitu saja dan terlebih menghilangkannya salah satunya!

Belum usai membaca, aku mengambil laptop dari tas-ku. Mulai menyalin klipping-klipping yang ada. Mengamankan dulu, sebelum buku tersebut semakin lapuk. Bukankah masa sekarang lebih terbuka untuk mendokumentasikan berbagai hal? Sekaligus juga menyebarluaskannya. Sudah banyak situs-situs internet untuk menyimpan dokumen kita.

Dua hari kuhabiskan seluruh waktuku untuk menyelesaikan ketikan menyalin klipping-klipping tersebut. Pada saat jadwal pulang ke Yogya, masih ada beberapa yang belum terselesaikan. Aku tidak berniat membawa buku itu dan menyelesaikan di Yogya. Takut abai dan hilang kembali.

Pada saat menulis ulang inilah, penggalan-penggalan berbagai kenangan bersama Bapak hadir menyeruak dalam benakku, bermain-main dan seolah ia hadir bersamaku. Pada saat menulis ulang ini pulalah, aku lebih serius membacanya dan membayangkan konteks situasi pada masa-masa itu, serta memaknakan. Semakin sedih rasanya bahwa aku telah menghilangkan dokumen Bapak.

Sesampai di Yogya, kembali aku baca tulisan-tulisan yang telah aku ketik. Pada saat itu terlintas untuk menghimpun bahan-bahan mengenai Bapak, menyimpan, sekaligus menyebarkannya. Untuk itulah aku segera membuat blog di wordpress.com yang khusus kutujukan untuk itu.

Melacak, bertanyalah pada si Mbah Google yang banyak tahu. Ada nama, ketika kubuka, isi sudah tidak ada lagi. Kucari lagi, akhirnya bertemu beberapa site yang menampilkan nama Bapak di dalam dokumentasi dua film. Kebahagiaan lain adalah menemukan resensi atas pementasan teater yang dilakukan oleh Bapak bersama kawan-kawannya yang terhimpun di Studi Teater Bogor. Resensi pertunjukan “Sandiwara” karya Putu Wijaya oleh Putu Wijaya dan Syubah Asa dalam Majalah Berita Mingguan Tempo, 19 Desember 1973. Mengetahui bahwa MBM Tempo mengarsip seluruh isi sejak penerbitan pertamanya, akupun mulai berselancar di sana. Mencari berita-berita tentang teater pada tahun 70-an awal. Kutemukan beberapa tulisan. Semakin membahagiakan diri ini. Untuk media lain, tidak kulihat ada yang mengarsip selengkap MBM Tempo.

Penyesalan lain datang. Pada tahun 90-an ketika kesempatan bertemu dengan kawan-kawan seangkatan Bapak masih dimungkinkan, aku satu-satunya yang paling malas untuk menanggapi apalagi menjalankannya. Kini, satu per satu telah pergi.

Bermula dari itulah, kegelisahanku senantiasa muncul. Seperti pada saat ini, selepas tengah malam. Ketika dilanda kejenuhan pada pekerjaan, segenap kenangan bersama Bapak silih berganti hadir, mengiringi perjalanan malam.

Selintas tentang Bapak

Bapakku, Umar Machdam, dilahirkan di Bogor pada tanggal 14 Agustus 1942. Tanggal kelahiran yang sama dengan anak pertamaku, Annisa Shavira Agusti Mardhika dan salah seorang sahabatku, Dedy Prasetio.

Ia tinggal di salah satu gang di jalan Lolongok di daerah Empang, Bogor, yang dikenal sebagai perkampungan orang Arab. Ya, Bapakku salah satunya. Ia keturunan Arab. Ia anak kedua dari tujuh bersaudara.

Bapak dan Ibuku

“Waktu kecil hidup Bapak sangat susah,” pernah Bapak mengatakan hal itu padaku. “Untuk sekolah sangat sulit karena gak punya uang. Tapi Bapak berusaha keras untuk menyemangati diri Bapak untuk terus belajar. Bapak pernah tiga tahun belajar sendiri, membaca buku-buku, tidak pernah keluar rumah kecuali makan dan ke kamar mandi. Enjid (Kakek) sampai bingung,”

Ingatan tentang perkataan Bapak terkuak kembali saat kubaca puisi-puisinya yang berjudul Flash Gordon. Apakah mungkin puisi itu lahir dari pengalaman yang diceritakannya? Entahlah.

Tapi, semangat belajarnya tidak sia-sia. Ia berhasil meraih pendidikan yang tertinggi di dalam keluarganya. Ia pernah belajar di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) yang didirikan oleh dedengkot film Usmar Ismail dan sastrawan kawan Asrul Sani dan mengikuti kursus-kursus perfilm-an.

Ternyata baru kusadari tidak banyak yang kuketahui tentang masa kecil Bapak. Walaupun seingatku, Bapak pernah sekali menceritakannya kepadaku. Aku hanya mengetahui Bapak aktif di teater, film dan televisi. Dan hal yang banyak kuingat adalah kegiatannya di televisi, karena aku sering menontonnya dan keesokan harinya pasti kawan-kawanku turut bercerita tentang penampilan Bapak.

Berdasarkan klipping-klipping yang baru terbaca kembali, Aku mengetahui bahwa Bapak telah aktif di teater sejak tahun 1960. Pada tahun 1966, ia mendirikan dan memimpin Studi Teater Bogor. Ketika Taman Ismail Marzuki didirikan pada tahun 1968, Studi Teater Bogor mendapatkan kesempatan tampil di sana pada tahun 1969. Dilanjutkan beberapa kali membuat pertunjukan pada awal tahun 70-an. Bisa dikatakan Studi Teater Bogor merupakan kelompok generasi pertama yang turut meramaikan TIM. Sayangnya, teater ini dibubarkan pada tahun 1974. Sebagai upacara pembubaran, dilakukan pertunjukan terakhir di TIM dengan mementaskan naskah Salman El Farisy selama tiga hari pada Mei 1974, dengan durasi waktu lima jam lebih (sayangnya tidak ada informasi tertulis mengenai perjalanan Studi Teater Bogor. Terpikir untuk mencari dan mewawancarai orang-orang yang pernah terlibat di STB).

Di bidang Film, Bapak pertama kali turut bermain dalam film “Anak-anak Revolusi” yang disutradari oleh Usmar Ismail pada tahun 1964. Selanjutnya ia banyak terlibat dalam film baik sebagai pemain dan sebagai Asisten Sutradara.

Bapak pernah menarik diri dari dunia film dan teater pada akhir tahun 70-an. Mencoba aktif lagi di awal tahun 80-an, tapi tidak berkelanjutan. Pertunjukan terakhir teater yang disutradarinya adalah “Umar Ibnu Khattab” yang dipentaskan di Balai Sidang Senayan pada tahun 1981, dan bermain dalam film “Pak Sakerah” pada tahun 1983.

“Rusak, film dan teater kita. Bapak mau terlibat lagi kalau bertema agama,” kata Bapak di salah satu kesempatan di awal tahun 80-an ketika kutanya alasannya tidak pernah main lagi. Pada masa-masa itu, yang kuingat Bapak tengah serius belajar Bahasa Arab. Setiap hari secara rutin ia mencatat, menghafal, dan mempraktekkannya.

Mengenang Masa Kecil

Masa kecil yang bisa terjangkau oleh ingatanku, adalah ketika masih sekolah di Taman Kanak-Kanak atau pada awal tahun 70-an. Kami tinggal di sebuah rumah kontrakkan yang terletak di dalam Gang di daerah Kebon Nanas, Jatinegara. Tiga kali kami berpindah rumah hingga akhirnya sejak tahun 1981 menempati sebuah rumah milik kakak Ibuku.

Pada masa TK kami sering ditinggal pergi oleh Bapak dan Ibu. Biasanya kami dititipkan ke tetangga sebelah rumah. Kami biasanya bermain sampai kemudian tertidur di rumah tetangga. Bila Bapak-ibu sudah pulang, barulah kami dipindah ke rumah.

Keluargaku

Ketika SD, Ibu mulai sering di rumah. Hanya Bapak saja yang sering bepergian hingga larut malam. Sejak kelas tiga SD, aku dan terkadang dengan adikku nomor dua mulai sering diajak Bapak terutama melihatnya berlatih teater bersama kawan-kawan. Seusai berlatih, Bapak biasanya tidak langsung pulang, tapi bersama beberapa kawannya akan mengunjungi beberapa rumah kawan lainnya. Mereka akan bicara banyak hal yang tidak aku mengerti. Sampai aku (dan adikku) tertidur, seringkali ketika terbangun sudah berada di rumah lagi.

Aku dan adikku juga sering diajak Bapak bila ia menjadi pengisi suara (dubber) dalam berbagai film. Tempatnya di studio di Pusat Perfilman Nasional (FPN). Sekali dua kali, Bapak mengingatkan agar aku tidak membuat suara ketika proses pengisian suara berlangsung. Berikutnya aku sudah tahu diri. Diam, menyaksikan film di layar, dan suara-suara yang muncul dari para pengisi suara. Kadang pengisian suara dilakukan berulang kali untuk menyamakan gerak bibir pemerannya. Hal yang biasanya sulit, apabila ketika di film, pemeran mengucapkan hal yang berbeda dengan apa yang ada di scenario.

Aku senang kalau diajak Bapak menyaksikan pengisian suara. Karena aku bisa bercerita kepada kawan-kawanku tentang film-film yang belum hadir di bioskop. Selain itu, senang pula bisa bertemu dengan banyak bintang film.

Beberapa kali aku juga diajak untuk menyaksikan sandiwara di TVRI yang ditayangkan secara langsung, diajak menonton festival teater di TIM. Hal yang paling jarang atau malah belum pernah tampaknya diajak menonton shooting film, kecuali menonton pementasan Ahmad Albar dan Ucok Aka Harahap kalau tidak salah di Taman Ismail Marzuki bersama orang-orang sekampung yang diajak Bapak. Pementasan ini sebagai bagian dari film “Duo Kribo”. (1977). Pementasan teater yang dimainkan oleh Bapak dan kawan-kawannya, seingatku aku pernah diajak menyaksikannya di TIM dan di Surabaya (Balai Mitra?) entah pada tahun berapa, tapi di awal tahun 70-an. Berikutnya, sudah memasuki tahun 80-an adalah menonton pertunjukan teater yang disutradarainya di kampus IPB Bogor.

Kebahagiaanku adalah ketika kelas lima SD diajak terlibat, walau sebagai figuran, dalam pementasan teater “Umar Ibnu Khattab” yang digelar di Balai Sidang Senayan tahun 1981. Proses latihannya mungkin sekitar enam bulan, satu minggu dua kali, dan menggunakan salah satu bangunan di bagian belakang TIM. Hal yang menyenangkan aku bisa berinteraksi lama dengan para pemainnya yang merupakan orang-orang terkenal seperti Im Kharamah, Mark Sungkar, Mak Wok (Wolly Sutinah), Aminah Cendrakasih, Muchtar Sum, Muchtar Abdillah, Ras Barkah, dan dua orang pemain cilik dari Keluarga Pak Is, yang pada saat itu menjadi idola, Helmi Adam (anak Muchtar Sum) dan Lala (anaknya Aminah Cendrakasih), serta puluhan pemain lainnya. Pada hari tertentu, Minggu tampaknya, latihan dilakukan sore hari. Sebelum latihan atau ketika saat istirahat, kami sekelompok pemain anak-anak, biasanya bermain di seputaran TIM, terkadang menonton latihannya Teater Adinda.

Bila di Rumah, Bapak juga biasa latihan teater sendiri. Pernah ia berperan sebagai orang buta, melakukan gerakan-gerakan yang kadang membuat kami deg-deg-kan khawatir ia akan menabrak barang-barang yang ada. Tapi itu tidak terjadi. “Bila terbiasa bergerak tidak menggunakan mata, maka kita akan bisa merasakan bahagia,” kata Bapak

Selesai latihan-latihan yang dilakukan, Bapak biasanya menanyai pendapatku atau adikku tentang acting-nya. Kami biasanya melontarkan pendapat secara spontan saja. Bila bagu, bilang bagus, bila jelek, bilang jelak. Sangat subyektif sesuai dengan cara berpikir kami pada saat itu. Biasanya kalau dibilang jelek, Bapak akan mencoba mengulang adegan yang dimainkan dengan gerakan dan intonasi yang lain. Sampai kami bilang bagus.

Selanjutnya, aku sering diajak latihan bersama, terutama latihan dialog. Aku memegang naskah dan membacakan lawan dialognya. Bapak .

Bila berada di rumah, Bapak hanya mengenakan kaos dalam dan sarung. Kebiasaannya setelah shalat Subuh, adalah berjalan-jalan di seputaran wilayah tempat tinggalku. Nah, kalau ini ia mengenakan baju, namun tetap mempertahankan sarungnya. Ia baru berpakaian rapi, dengan sepatu yang mengkilap, walaupun tidak terlalu necis, bila bepergian baik untuk “bekerja” atau mengunjungi kawan-kawannya.

Kebiasaannya pula, bila berjalan-jalan di pagi hari, ia akan singgah ke Rumah beberapa kawannya, berdiskusi yang disesuaikan dengan orang yang bersangkutan. Ia akan berdiskusi mengenai agama bila yang disinggahinya adalah seorang ustad, diskusi tentang pendidikan, kesenian, masalah sehari-hari. Intinya ia akan menyesuaikan dengan lawan bicaranya.

Aku rasa hampir sebagian besar orang di wilayah tempat tinggalku mengenal dan dikenal oleh Bapakku, baik orangtua, orang muda dan anak-anak. Ia bisa bersapa dan bercanda dengan siapapun.

Ia juga biasa royal, mentraktir orang-orang. Tempat tinggalku yang berada di sebuah gang, sering dilewati para pedagang makanan. Bila di rumah, Bapak biasa memanggil pedagang makanan dan mentraktir orang-orang yang biasa nongkrong di sekitaran rumah, baik anak-anak ataupun orang dewasa.

Bapak juga memiliki perhatian tinggi terhadap orang lain. Apalagi bila orang tersebut tengah kesusahan. Ia tidak akan segan-segan membantu dan seringkali mengalahkan kepentingan (keluarga) dirinya sendiri.

Menurut cerita Ibu, pernah rekannya, seorang wartawan media terkemuka datang dan mengatakan tengah membutuhkan uang. Padahal pada saat itu Bapak juga tengah susah. Tanpa ragu, Bapak menyerahkan tape recorder yang baru dibelinya kepada rekannya untuk dijual guna memenuhi kebutuhannya. Kisah lain yang kuterima adalah ketika saudaranya datang dan menyatakan ingin meminjam uang untuk membeli tanah. Padahal Bapak sendiri belum memiliki tanah ataupun rumah. Tapi, dengan mudahnya uang dikeluarkan untuk membantu saudaranya itu.

Kebiasaan membantu orang lain merupakan kebiasaannya sejak muda. Cerita yang kudengar dari beberapa kawan Bapak, pada tahun 60-an pernah ada seorang seniman terkemuka yang berlindung di rumah Bapak selama tiga bulan. Tokoh itu, bila keluar rumah selalu mengantongi batu di saku-saku pakaiannya. Bapak sendiri tidak pernah menceritakan apa-apa yang telah diperbuatnya kepada orang lain.

Pernah, ketika Bapak mendapatkan pekerjaan dan mendapatkan hasil yang lumayan, ia tidak langsung pulang ke Rumah, namun pergi ke Bogor untuk membagi-bagikan uang tersebut kepada adik-adiknya. Ibu marah pada saat itu. Keributan kecil terjadi. Bapak menegaskan bahwa rejeki tidaklah akan lari.

“Yang terpenting, kita tidak pernah kelaparan,” pernah ia mengatakan hal itu padaku. “banyak orang lebih susah dibandingkan kita,”. Pernyataan ini baru kusadari melekat dalam benak dan tindakanku, dan sering kuucapkan pula kepada istriku.

Di tengah kesibukannya, aku merasa bahwa Bapak sangat perhatian terhadap anak-anaknya. Pada waktu senggang, ia biasa mengajak kami untuk bermain atau mengajak pergi.

Seingatku, Bapak tidak pernah marah, memaki atau mengeluarkan kata-kata buruk kepada anak-anaknya. Apalagi melakukan kekerasan seperti memukul, sama sekali tidak pernah. Setiap kesalahan yang kami perbuat, ia biasanya mengingatkan, menasehati atau bercerita tentang kisah-kisah keagamaan.

Bapak tidak suka bila kami bersifat manja. Termasuk juga dalam sikapnya menghadapi penyakit. Bila hanya terkena panas atau demam, dengan enteng ia menyatakan biarkan saja.

“Sakit itu jangan dimanjakan. Kalau manja, penyakitnya jadi betah,” demikian sikap Bapak terhadap penyakit yang berulang ia katakana baik kepada Ibuku atau kepada kami anak-anaknya. Jadi, tidaklah mengherankan apabila Ia bersikap enteng saja menanggapinya kalau anak-anak dan keponakannya tengah sakit.

Bapak sendiri jarang atau bahkan tidak pernah terlihat sakit. Seingatku, aku belum pernah melihat Bapak terbaring seharian. Ia selalu bergerak, dan selalu saja ada yang dikerjakan. Tidak bisa diam-lah. Atau terpikir saat ini, karena sikapnya, maka ia tidak terlalu menghiraukan penyakit-penyakit yang dideritanya.

Masa-masa Berpisah

Seluruh manusia tentunya berharap bahwa keluarganya akan senantiasa utuh, berkumpul dan menjalani hidup bersama menikmati suka dan dukanya. Akupun demikian. Dan aku yakin perasaan yang sama dialami oleh Bapak, Ibu dan adik-adikku. Tapi, adanya masalah di dalam keluarga telah menyebabkan diriku berpisah dengan Bapak. Kami meninggalkannya. Ibuku dan empat adikku pergi terlebih dahulu yang disusul oleh aku dan adikku nomor dua (kami diantar oleh Ratna Saptari).

Aku tahu, hal ini sama sekali tidak diinginkan oleh semuanya. Walaupun kami meninggalkan Bapak, sama sekali tidak ada kebencian dari kami kepada Bapak. Ibu sendiri, aku tahu sangat mencintai Bapak. Selalu mengenangnya, selalu bercerita tentang hal-hal terbaik mengenai Bapak. Dan aku yakin, Bapak juga begitu, sangat menyayangi kami semua. Aku dengar Bapak selalu tak pernah berhenti mencari kami ke berbagai kota.

Aku tinggal di daerah utara Yogyakarta, sedangkan ibuku bersama adik-adikku tinggal di kota Yogya, di jalan Taman Siswa. Mereka menempati  paviliun di rumah keluarga besar Wiladi Budiharga. Walaupun jarak kami dekat, pertemuan kami tidaklah sering. Aku bisa seminggu sekali atau bahkan sebulan sekali mengunjungi ibu dan adik-adikku. Perkembangan kemudian, Ibu kembali bekerja di Jakarta dan pulang ke Yogya setiap seminggu sekali. Kelima adikku dipaksa untuk bisa hidup mandiri dan saling berbagi.

Aku tinggal bersama para personil yang terhimpun di dalam Yayasan Pengembangan Budaya, suatu Organisasi Non-Pemerintah yang bergerak pada wilayah kebudayaan, yang dimaknai secara luas, yaitu tentang kehidupan itu sendiri. Personil YPB pada saat itu adalah: Mohammad Farid, Dinyati AR, Joseph Oenarto, Maryadi, Bonie Setiawan, Baron Setiadi, Warsito, Yanto dan aku sendiri.  Yayasan ini, pada tahun 1984 atau 1985 adalah penyelenggara seminar sastra kontekstual yang diorganisir oleh Halim HD dan Joseph Oenarto. Seminar ini mengundang perdebatan yang melibatkan tokoh-tokoh sastra dan menjadi bagian dari sejarah sastra di Indonesia.

Di sini, aku harus hidup mandiri. Aku merasakan keberuntungan bisa bertemu orang-orang yang perduli dengan orang lain. Aku terlibat mengikuti rapat-rapat mereka, termasuk keputusan radikal mereka bahwa semua orang sama, dan yang hadir diposisikan sebagai anggota Dewan Pengurus yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Lha, apalah artinya aku ini sebagai seorang yang baru berumur 14 tahun dan pelajar SMP?

Awalnya aku terlibat di dalam mendokumentasikan berita-berita koran bersama dua orang lainnya. Selanjutnya aku bersama kawan-kawan di sekolah (SMP Gentan) mendirikan teater dan berlatih di halaman belakang kantor YPB yang sangat luas. Keberuntunganku mungkin bahwa kemudian YPB memasukkan program pendidikan melalui media teater sebagai salah satu programnya, dan aku dilibatkan di dalamnya. Kegiatan ini dikoordinasikan oleh Warsito yang banyak juga mengembangkan metode-metode pelatihan untuk membongkar cara berpikir. Pelatihan mengenai teater rakyat pernah diselenggarakan di Delanggu pada tahun 1985 dengan melibatkan tokoh-tokoh pemuda dan masyarakat dari berbagai wilayah di DIY dan Jawa Tengah. Pada kegiatan latihan kami sering dibantu oleh Simon Hate dan terkadang oleh Joko Kamto. Direktur PETA Philipina, kalau tidak salah Gardy (?) pernah datang melihat latihan dan berdialog dengan kami.

Banyak kelompok teater berdiri di berbagai pedesaan di Kabupaten Sleman dan Bantul. Juga di Klaten dan Karang Anyar. Sebagai media komunikasi antar kelompok teater tersebut diterbitkan bulletin “ASPIRE” (Aspirasi Remaja) dimana aku ditugaskan untuk mengelolanya mungkin sekitar tiga tahun lebih. Aku juga terlibat sebagai redaksi bulletin “Petani” yang ditujukan untuk orang dewasa di pedesaan.

Kesibukan di sekolah dan berbagai kegiatan bersama Ornop tersebut mampu untuk meredam kegelisahanku atas masa lalu. Aku menjerumuskan diri lebih dalam lagi. Menjadikan hari ini sebagai hari ini dan masa depan. Menjenguk ibu dan adik-adikku yang satu kota saja jarang kulakukan. Paling sebulan sekali, seperti anak yang tinggal jauh saja. Bertemu dengan Bapak sama sekali tidak pernah. Demikian pula dengan pertemuan-pertemuan keluarga besar ibuku, biasanya setiap lebaran di Bogor, aku satu-satunya yang jarang (atau bisa dikatakan tidak pernah) hadir.

Penggalan Kisah yang Terdengar

Pada tahun 90-an awal, bersama kawan-kawan kami berkunjung ke rumah seorang yang biasa aku panggil Om Dedi, di Solo. Informasi yang aku dengar ia adalah salah seorang tokoh mahasiswa angkatan 74 di Jakarta yang terus dicari-cari hingga tahun 80-an. Pertama kali pindah dari Jakarta, aku dan keluarga sempat tinggal di rumahnya di Delanggu. Walaupun di pelosok desa dan tenaga listrik masih menggunakan tenaga diesel, rumahnya selalu ramai dikunjungi oleh para tokoh dan aktivis gerakan mahasiswa dan Ornop dari berbagai kota. Selanjutnya ia pindah ke Solo, rumah yang aku kunjungi

Om Dedi, yang oleh sebagian aktivis Ornop sering dipanggil sebagai “Begawan”, julukan yang kudengar diberikan oleh Mulyana W. Kusuma, sering menyinggung tentang Bapakku dalam perbincangan-perbincangan kami. Ia mengaku sangat mengenalnya. Aku sendiri tidak tahu apakah ia benar-benar mengenalnya atau tidak. Kadang terpikir bahwa Ia bercerita untuk menumbuhkan semangatku saja.

Pernah dalam perbincangan ketika ia baru saja membuat satu lembaga yang bergerak pada bidang lingkungan, ia tiba-tiba ia menyinggung Bapak. “Bapakmu itu, Od, orang yang sangat maju. Ia sudah bicara lingkungan sejak lama. Aku pernah diskusi dengannya ketika di kantor LBH, ia banyak bicara tentang hubungan manusia dan alam,”

Nah, pada saat ke rumah Om Dedi inilah, aku bertemu dengan seseorang yang tengah membaca buku sambil berbaring di kursi tamu.

Om Dedi mengenalkan aku kepadanya. “Nah, ini juga aktif di teater,” katanya.

Orang itu lalu duduk dan menutup bukunya. Kami berbincang hal-hal ringan mengenai kesenian. Bukan apa-apa, kemampuanku memang sangat terbatas. Dari pembicaraan ini, akhirnya aku tahu orang itu aktif di Bengkel Teater. Tiba-tiba saja terlintas sosok Bapakku.

“Hm, Bapak saya juga aktif di teater tahun 60-70-an. Tapi tampaknya sudah lama tidak aktif lagi,” kira-kira begitulah kukatakan.

“Siapa?”

“Umar Machdam,”

“Oh, saya tahu. Beberapa kali saya bertemu dengannya di bengkel teater. Ia pernah melatih anak-anak bengkel. Cara mengajarnya keras. Pikirannya tentang kesenian luar biasa,” katanya setengah memuji. Iapun menceritakan beberapa pengalaman bersama Bapakku. Setelah sekian lama tak pernah berjumpa dan tak pernah bersapa, baru kali ini aku mendengar cerita tentang Bapak. Tentu saja, hati teramat senang, dan rasa rindu datang menekan.

Setelah itu aku bercerita tentang kegiatan teater sebagai media pendidikan di beberapa pedesaan yang aku lakukan. Ia melontarkan gagasan untuk melakukan pementasan di tanah lapang. Naskahnya adalah Undang-undang Dasar 1945. Panggung pementasan di tanah lapang akan dipenuhi oleh bambu-bambu menjulang. Di kepalaku terbayang orang bergerak seperti pesilat dengan lincah memasuki lorong-lorong bambu yang sempit dan beberapa orang bergelantungan di atas, sambil membacakan undang-undang. Sayang gagasan ini tidak pernah terlaksana.

Orang itu bernama Bram. Setelah itu aku tidak pernah bertemu lagi. Baru pada tahun 2009 bertemu di Facebook. Akhirnya kuketahui namanya secara lebih lengkap: Bramantyo Prijosusilo. Terima kasih, Mas Bram! Dari dialah saya mendapatkan gambaran kegiatan tentang Bapak yang lebih banyak dibandingkan cerita dari orang-orang lain pada masa itu.

Seorang sahabat terdekat Bapak yang pernah sama-sama giat dalam Studi Teater Bogor, namun kemudian lebih banyak aktif di Ornop juga sering tiba-tiba menyinggung tentang Bapak. “Bapak selalu mencari sesuatu yang baru. Ia bisa menemukan keterbatasan menjadi sesuatu yang artistik yang sama sekali tidak dipikirkan orang,” ia kemudian menceritakan sebuah pertunjukan dengan setting panggung yang memainkan penataan tumpukan meja dan kursi. Sesekali ia juga menyinggung tentang kawan-kawan Bapak yang lainnya.

“Kamu tidak berniat menemuinya?” sering ia melontarkan pertanyaan itu ketika aku berkunjung ke rumahnya. Rumahnya memang dekat dengan rumah keluarga Bapakku. Tidak lebih dari 500 meter. Oh, ya, beberapa tahun setelah kami tinggalkan, Bapak kemudian lebih banyak berdiam di Bogor. Dan rumah beserta isinya di Jakarta tidak lagi terurus.

“Mungkin belum saatnya, Mi,” jawabku. “Entah kapan,”

“Ya, haruslah,” katanya.

Dialah Fauzi Abdullah, sahabat terdekat Bapak. Dia banyak berjasa pada keluarga kami. Pada saat pernikahan Bapak dengan Ibu, dia yang pontang-panting mengurus banyak hal hingga pernikahan dapat terlaksana. Dia pula yang banyak membantu baik secara langsung maupun tidak langsung kehidupan keluarga kami ketika meninggalkan Bapak. Ia yang memberiku uang 200 dollar yang akhirnya kugunakan untuk membeli cincin kawin. Sayang, ia juga telah pergi pada 27 November 2009. Ia dimakamkan di areal pemakaman yang sama dengan Bapakku.

Pada tahun 80-an, Bapakku pernah berpesan padaku – dan mungkin ketika mengatakannya ada adik-adikku juga; “Kamu tidak boleh melupakan dua orang sahabat Bapak. Mi Oji (Fauzi Abdullah) dan Mi Mahfud. Dialah yang banyak membantu Bapak,”

Tahun 2000-an, ketika Rano Karno shooting untuk sinetron Gita Cinta dari SMA, aku sempat menelpon dan membuat janji bertemu. Aku bersama istriku datang ke lokasi shooting di kawasan Kota Gede. Melihat kesibukannya, aku tidak segera menemuinya. Tak disangka bertemu dengan Iga Mawarni yang turut menjadi pemain.  ia seorang artis yang perduli dengan masyarakat bawah. Aku pernah meminta tolong kepadanya dan dengan hati senang ia bersedia membantu kawan-kawan di Semarang untuk mengkampanyekan anti prostitusi terhadap anak. “Janjian ketemu Rano,” kataku pada Iga.

Ketika istirahat Rano Karno memperkenalkan diriku ke crew-nya. “Anaknya Umar Machdam,” katanya menambahkan. Salah seorang crew menjabat tanganku erat-erat. “Wah, Bapakmu orang film yang luar biasa,”, katanya tanpa memberikan penjelasan.

“Ia sudah meninggal, pertengahan tahun 90-an,” kataku. Orang itu agak tertegun.

“Sayang, orang seperti dia….” katanya lagi, tanpa menyampaikan apa yang dimaksudkan. Orang itu menyebutkan namanya, namun saat ini tak mampu lagi kuingat. Setelah itu pembicaraanku dengan Rano, tidak berkisar tentang Bapak. Aku menyerahkan beberapa buku karyaku mengenai anak jalanan dan prostitusi anak.

Ya, selama berpisah dengan Bapak, aku diingatkan oleh kebetulan-kebetulan. Beberapa kesempatan bertemu dengan kawan-kawannya sesama seniman, jarang aku menyinggung tentang Bapak. Seingatku hanya kepada Taufik Ismail ketika ia tampil membacakan puisi di Purna Budaya di awal tahun 90-an dan dengan Darmanto Jatman, setelah aku bertemu untuk pertamakalinya setelah lama berpisah dengan Bapakku.

Pertemuan Kembali

Tahun 1994, sekitar bulan Pebruari, menjelang pernikahanku, setelah 10 tahun sama sekali tak pernah bertemu, aku bersama istriku untuk pertama kalinya berkunjung ke rumah keluarga Bapak di Bogor. Adik-adikku setahun sebelumnya sudah bertemu, termasuk juga ibuku. Hanya aku saja yang belum. Aku akan menyampaikan tentang rencana pernikahan dan meminta restu kepadanya.

Perasaan tegang menghantuiku selama perjalanan. Aku mencoba membuat persiapan-persiapan di dalam benakku. Apa yang pertama kali harus aku lakukan ketika bertemu? Kata-kata apa yang akan aku sampaikan? Bagaimana reaksinya? Ketegangan ini terbaca oleh istriku. “Tenang saja, yang akan kau temui Bapakmu sendiri. Kamu harus menyampaikan sendiri meminta restu pernikahan kita. Itu wajib,”

Saat datang, Bapak sedang duduk di kursi di ruang tamu. Ia mengenakan baju putih dan sarung. Ia sangat terkejut dengan kedatanganku. Aku langsung memeluknya. Bapakku menciumi wajahku berkali-kali.

“Gimana, Mas Odi? Gimana? Sehat..? Sehat..? Alhamdullillah,” tanyanya masih memelukku dan menciumi keningku. Aku sendiri tidak kuasa menahan air mata dan tak mampu berkata-kata. Istriku juga.

Berikutnya, paman dan bibiku yang rumahnya berdekatan, berdatangan. Ya, terlalu lama tidak pernah berjumpa dengan mereka. Saudara-saudara sepupu bahkan sama sekali tidak pernah bertemu. Aku diperkenalkan ke mereka. Cukup banyak, tidak bisa menghafal satu persatu.

Aku duduk di sebelah kiri Bapak. Ia memandangiku, menepuk-nepuk bahuku, kadang pahaku. “Alhamdullillah… Sehat kan ya, Mas Odi?”, komentar dan pertanyaan pendek yang berulang. Mungkin Bapakku mengalami hal yang sama dengan diriku. Tidak menyangka akan kehadiranku yang tiba-tiba. Aku segera memperkenalkan calon istriku yang keharuannya tampaknya melebihi diriku.

Kemudian aku lebih banyak disibukkan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Paman dan bibiku. Bapak terus memandangiku, dan terus menepuk-nepuk bahuku.

Akhirnya suasana dapat segera mencair. Aku memberikan klipping-klipping cerpenku kepada Bapak. Ia melihat dan wajahnya berseri-seri, “Wah, kamu juga nulis, Di..”

Bapak kemudian menanyakan keberadaanku, tinggal dimana, sekolah dimana, bagiamana kabar ibu dan adik-adikku.

“Hm, Bapak dulu pernah mencari ke Yogya. Menyusuri Malioboro, sekalian juga bertemu dengan teman-teman Bapak. Kamu kenal Untung Basuki?”

“Tahu, tapi tidak kenal, Pak. Sering dengar namanya, tapi belum kenal,”

“Itu dulu pernah bantu Bapak waktu Bapak buat film di Yogya,”

Pembicaraan mengalir tentang orang-orang di kesenian. Mengetahui aku beberapa kali bertemu dengan Darmanto Jatman (bukan untuk urusan kesenian), Bapakku tertawa. “Wah, belum lama Bapak bertemu Darmanto di TIM. Bapak mintain duitnya aja,”

Pengalaman di film ia ceritakan ketika shooting di Bali. Ia tidak menyebutkan film apa dan aku juga tidak menanyakan. Pada saat itu, ada adegan yang belum terpikirkan untuk memperkuat cerita.

“Nah, pas duduk di pantai, Bapak melihat matahari terbenam. Indah sekali prosesnya. Wah, ini harus di shoot,” katanya.

Pembicaraan terus mengalir. Akhirnya aku berpamitan. “Lho, tidak tidur di sini saja,”

Aku menyampaikan alasan yang aku juga lupa, menghindari untuk menginap. “Odi sering ke Jakarta, kok. Nanti akan seringlah ke Bogor,” janjiku.

Pada saat pernikahan, keluarga Bapakku hadir, namun Bapakku tidak. Kakak tertua Bapak menjadi saksi pernikahanku.

“Bapakmu sangat bahagia mendengar kamu menikah. Dia memutuskan tidak datang biar tidak menggangu,” jawaban kakak Bapakku ketika kutanyakan pada pamanku tentang ketidakhadiran Bapak.

Aku terdiam. Terpukul. Kangen. Dan mencoba memahami.

Sejak itu, aku berusaha singgah ke Bogor bila berkesempatan ke Jakarta, bertemu Bapak.

Kepergian Bapak

8 Maret 1996, terdengar kabar mengejutkan. Bapak meninggal dunia, antara pukul 8-9 pagi. Aku menangis. “Tuhan, baru saja kau pertemukan kami, kini kau pisahkan lagi” setengah menggugat.

Aku bersama istri, anak dan ibu mertuaku segera ke Jakarta, dan langsung menuju Bogor. Seperti kebiasaan yang terjadi di lingkungan tempat tinggal Bapak, pemakaman dilangsungkan sesegera mungkin. Aku terlambat dan tidak berkesempatan menghadiri pemakamannya.

Di rumah Bapak masih banyak orang berkumpul. Ibuku dan adik-adikku yang selama lebaran berada di Jakarta dan Bogor masih ada.

“Tidak ada yang menyangka. Subuh, selesai shalat, ia jalan-jalan. Jam tujuh pulang. Lalu tidur. Lewat jam delapan, kok aneh, belum terbangun. Ketika kami tengok ke kamarnya untuk membangunkan, ia sudah pergi,” pamanku mengatakannya kepadaku.

“Wah, ketika lebaran, Kak Umang (panggilan mereka terhadap Bapakku) berharap-harap kamu datang. Ia ingin bertemu dengan cucunya,” bibiku menambahkan. Aku merasa sangat menyesal. Pada saat lebaran, sebenarnya aku dan istriku sudah berencana berlebaran bersama keluarga besar ibuku dan juga berencana mengunjungi Bapak untuk menunjukkan anak pertama-ku. Saat itu, kami membatalkan dan menunda rencana. Sungguh menyesal atas penundaan itu. Bapakku sama sekali belum pernah bertemu dengan cucu pertamanya.

Aku segera ke pemakaman, diantar kakak sepupuku. Aku mengirimkan surat Al Fatihah, dan berdoa, agar Tuhan memberikan yang terbaik baginya. Selamat jalan, Bapak. Kau pergi dengan tenang, ketika kau telah berhasil berjumpa kembali dengan anak-anak dan istrimu. Doa-doa kami akan selalu menyertaimu, Bapak.

Penutup

Mengenang Bapak, selalu perasaan bersalah yang segera menyelimutiku. Aku merasa tidak memenuhi tiga pesannya ketika aku masih kecil. Ini selalu kurasakan lebih dari sepuluh tahun terakhir, bahkan jauh sebelum Bapak meninggal.

Pada suatu hari, ketika kami tengah berdua di Rumah, Bapak bercerita tentang masa lalunya. Ia ceritakan bagaimana perjuangannya untuk selalu mencari kesempatan untuk belajar, termasuk bertapa dalam kamarnya sekitar tiga tahun untuk belajar dengan membaca berbagai buku. Sesudahnya ia menyampaikan pesannya “Jadi, yang penting adalah kamu belajar matematika, bahasa inggris dan agama,”. Dan pada ketiganya, aku merasa gagal lantaran kemalasanku.

Kini Bapak memang telah pergi.
Kangen senantiasa menghampiri
Hanya doa dan yakinkan diri
Bahwa kebahagiaannya abadi

(Yogyakarta, 29 Januari 2010, Pukul 01.00 – 18.00, direvisi dan dikembangkan lagi pada tanggal 3 pebruari 2010.)

Catatan:

1. Terima kasih kepada Bapak Mohammad Ali (Surabaya) yang memberikan beberapa foto dokumentasi kepada kami

2. Lebih jauh mengenai Umar Machdam, lihat blog Umar Machdam.

Iklan

33 comments on “[Sosok] Mengenang Bapak (Umar Machdam)

  1. Ya ampun, jadi Mas putranya Bpk Umar Machdam ? Duh, sejak aku remaja, sering sekali dan suka sekali dgn beliau bila ada sandiwara di TVRI, kerap bermain juga dgn seorang pemain teater yg brewokan itu dan suaranya serak2 basah(namanya kok aku lupa ya). Beliau lahir di Bgr, sama dgn alm suamiku yg terpaut 2 thn lbh muda saja dari beliau. Alm suamiku dan seorg temannya dari ATNI sering menyebut-nyebut nama Umar Machdam, karena kebetulan sejak muda pun aktif di komunitas sastra di Bgr.

    Aku bangga sekali bisa berteman dgn Mas yg ternyata putra dari seorang pemain sandiwara yang terkemuka di jamannya. Semoga Almarhum Bpk Umar Machdam berbahagia di alam yang abadi, Mas. Salamku

  2. Mbak Shinta, terima kasih atas komentarnya. Turut bersedih dan doa dari kami untuk almarhum suami Mbak Shinta.

    Saya menuliskan ini, ketika menemukan sedikit klipping tentangnya dalam satu buku, yang sesungguhnya pernah saya lihat pada tahun 90-an. Satu buku lagi saya hilangkan. Sedangkan dokumentasi lainnya hilang ketika kami berpisah dan rumah tidak terurus.

    Berawal dari situ saya mencoba melacak dokumentasi dan kawan-kawan seangkatannya. Ada beberapa nama di facebook tapi saya belum bisa berkomunikasi.

    Salam, dan sukses juga buat Mbak Shinta, ya..

  3. Mas Odi… aku juga ngga nyangka sama seperti mba Shinta Miranda bahwa mas putranya Bpk Umar Machdam (alm).
    Mas pasti bangga sekali menjadi putra beliau… putra seorang seniman yang jaya di zamannya, bahkan jaya sampai sekarang dengan kenangan akan karya karyanya yang beliau tinggalkan.
    Aku juga bangga sama mas…. yang meneruskan seni dari darah seninya beliau walau dalam bidang yang berbeda. Karena menulispun adalah suatu seni dan kemampuan dalam bakat seseorang yang tidak semua orang bisa melakukannya dengan baik.

  4. Terima kasih Liana. Sayang sangat sedikit dokumentasi tersisa. Padahal dulu Bapak saya sangat rajin mendokumentasikan apapun, termasuk tiket-tiket pertunjukannya. He..he..he..

  5. Mas Odi….terima kasih atas tulisannya.
    cukup mengingatkan masa2 kecil kita
    bermain di kolam ikan depan rumah otista….
    main bola di tanah lapang…

    Semoga Om Umar diberikan kemudahan dan kelancaran
    dalam perjalannya.
    amin

  6. Hallo Odi , terimakasih banyak kamu berhasil menemukan saya di Facebook.
    Saya tunggu berita berikutnya.Salam untuk ibu

    • Wah, senang bisa bersapa dengan Ibu Maya. Waktu kecil tampaknya saya sering bertemu dengan Ibu Maya. Ketika saya kuliah awal 90-an pernah bertemu dengan orang yang pernah terlibat di teater keliling, saya langsung menanyakan kabar Ibu Maya dan menitipkan salam (sampai tidak ya). Minggu depan saya akan ke Jakarta, salam kepada Ibu akan saya sampaikan. Akan menarik kalau Ibu Maya bisa memberikan informasi tentang Studi Teater Bogor. Semoga saya bisa bertemu dengan orang-orang yang pernah terlibat, dan semoga bisa menuliskan profil-nya.

  7. @Mas nanto: Masa kecil dulu berbeda dengan masa kecil anak-anak sekarang, ya. Dulu kita harus kreatif membuat berbagai (ruang (per)mainan untuk mengisi hari-hari. Sekarang, anak-anak sudah memiliki agenda di depan TV. Ha..ha..ha..

  8. mas odi,makasih share nya ya..walaupun aku belum sempat mengenal beliau tapi dari membaca tulisan mas odi saya tahu bahwa beliau adalah orang “BESAR”.Semoga semangat beliau senantiasa mengiringi hidup mas Odi ya…salam

  9. …dari bibiot seniman, lahirkan generasi kuat…

  10. selamat ya telah bisa mendokumentasikannya dengan baik. Namun sangat berharga bagi orang lain jika pikiran2 beliau bisa kamu tuangkan juga selama di dunia teater dan Film. itu sangat berguna…

  11. Semoga Bung Zainal. Mungkin akan mencoba melacak kenapa akhirnya ia tinggalkan dunia itu…. Pasti ada alasan yang sangan substansial

  12. mas odi,tadinya aku bingung mas odi ini siapa setelah masuk lebih dalam ternyata mas putranya ka Umar, saya sangat terharu dan mengingat kembali masa masa bersama beliau tahun 70 an apalagi saat pentas Salman El Farisi di ?Tim dan mitra Surabaya. beliau marah sekali karena kita pentas jelek dan semalaman ditatar terus. Kalau ingat masa masa itu STB pada saat itu ga punya apa apa,kalau latihan makanpun sedikit berbagi, kebetulan saya kerja di Indomilk saat itu, jadi suka bawa susu buat latihan bersama. kami sangat prihatin sekali. Terharu apabila mengenang masa masa itu dan tidak menyangka ketemu dgn mas odi walaupun di FB yang mengingatkan saya pada masa masa bersama beliau. semoga amal ibadahnya diterima. karena swaya tidak pernah mendengar berita ttg beliau cukup lama. Maya sekarang dinegara kincir air. kita kadang kadang ada kesempatan bertemu, bagaimana khabar tentang Ibu salam hormat saya untuk beliau. Semoga suatu saat kita bisa bertemu. Saya saat ini disurabaya dan bekerja disebuah pabrik baja disidoarjo. apabila ada kesempatan kesby kita bisa ketemu.

    • Ibu Putu, terima kasih atas sedikit kisahnya. Saya juga cukup senang bisa bersapa dengan Ibu, walau baru melalui media. Salam kepada Ibu akan saya sampaikan. Kebetulan tanggal 20 saya ke Jakarta (Semoga berkesempatan untuk ke Bogor, berencana bertemu dengan Om Im Kharamah dan Om Mahfud atau M. Ryana Feta. Oh, ya kebetulan adik saya nomor lima pada tanggal 10 April 2010 akan menikah di Malang. Senang sekali bila ibu berkenan datang.

      Mengenai Ibu Maya, saya juga bersapa lewat FB. Ia juga telah memberikan komentar di atas.

      Saya berharap suatu saat bisa mendapatkan kisah-kisah STB pada masa itu.

      Salam,
      odi

  13. Salaam salud !
    mengalami persoalan rumah tangga kemudian dihidupi dengan ‘SIH’, ‘CINTA’, sungguh aku merasakan sapaan “ruh”nya yg mengharubiru indah, meski baru muncul bertahun tahun setelahnya.
    Aku support do’a, smg niat mengumpulkan dokumen dipercepat dg kemudahan2 dan pertemuan2 kebetulan yg lbh sering.
    Sentuhan ‘kamanungsan’ (lbh dalam dr sekedar catatan) menjadi barang langka ditengah serbuan ‘pasukan’ penghancur kamanungsan hingga hanya “syahwat” yg tersisakan, maka itulah sebuah martabat, yg membedakan dengan jenis manusia yg tinggal sebagai ‘lempung kepanjingan nyawa’ atau saudaranya ‘jugangan dikathoki’.
    he he he….waras ! dan terus berjuang !

  14. Terima kasih Odi, sudah mendokumentasikan kenangan bersama alm ayahmu dan juga keluarga. Kok mirip sekali orang tuamu dengan kamu dan ndari, istrimu wajahnya. Moga yg bisa diteladani dilanjutkan kembali dan yg kurang baik dijadikan pelajaran untuk kehidupan Odi dan keluarga. Terima kasih saya sudah mengenal dengan baik Ibu Odi di Jakarta. Sekarang saya paham kedekatan Odi dengan kawan-kawan saya lainnya yg disebut dalam kenangan ini.

  15. Terima kasih Mbak Lili sudah menjenguk dan membaca kisah ini.Memang tidak semua kisah bisa sangat terbuka. Inipun masih ada beberapa yang tersembunyi. He..he..he.. Ya, kenangan hanyalah masa lalu. Tempat berpijak, untuk mengambil manfaat. yang baik dikembangkan, yang jelek, ditinggalkan atau setidaknya tidak berulang.

  16. Narasi kerinduan lampau kadang memang selalu menggelayut kembali, mengingat betapa berartinya kebekuan, kenaif’an dan semangatnya mengarungi samudera hidup yang kreatif. rindu ku juga utk dunia lek’ umar macdham. trima kasih odi kau masih mau mengingat dan menuliskannya kembali.

  17. woooww… sebuah perjuangan yang sangat disayangkan utk lenyap begitu saja, sungguh.
    jangankan mas odi yang anaknya langsung, saya dan anak-anak bangsa lainnya seprti wajib utk mengetahui karya-karya beliau.
    aku turut berdoa semoga ada banyak pihak yg membantu mas odi.
    kini aku tahu mengapa mas odi pun mendedikasikan hidupnya utk tetap terus bergerak meski dalam ranah yg sedikit berbeda!

    semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT, tapi keyakinanku pasti diterima sebab aku masih yakin bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

    tetap berjuang mas!

  18. Kawan…. aku sangat terharu membacanya…. Ternyata setelah sekian lama kita berkawan baru aku tahu siapa dirimu….Kawan. Aku berdo’a dan berharap semoga dokumentasi lain yang pernah ada dapat segera diketemukan agar dapat melengkapi Biographi Almarhum Bapak. Sehingga dapat berguna bagi tunas-tunas bangsa nantinya….

  19. sempat terlintas di pikiranku pak odi pastilah memiliki darah seni dari orang tua. dan ternyata aku tidak salah, walaupun baru kini aku tahu sang seniman tersebut. semoga lancar dalam mengumpulkan dkomentasi pak umar selanjutnya

  20. saya terharu sekali membacanya…
    saya jg pemain teater, hanya saja kurang aktif…
    smga saya bs sprti beliau mendedikasikan dirinya tuk teater….
    saya mmg tdk mengenal beliau, ttp saya bs tahu bahwa beliau org besar…
    apalagi beliau meninggal dengan cara yg mulia sekali…
    ah, saya jadi kagum sama beliau… 😦

  21. Terima kasih Mbak Rena…
    Mohon maaf balasnya sangat-sangat terlambat…
    Ini baru terbaca setelah melihat-lihat dokumen…

    Salam hangat Mbak..

  22. […] Bapak, sudah pernah kukisahkan tentangmu kepada para sahabat. Aku ceritakan segenap kenanganku padamu. Kutuntaskan segenap rinduku, pun segala rasa yang tertumpah. Ya, telah aku tuliskan tentang Mengenangmu, Bapak (lihat di SINI). […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: