3 Komentar

Fauzi Abdullah: Manusia Biasa yang Tidak Biasa

Oleh:  Odi Shalahuddin

(Catatan: Tulisan ini merupakan sepenggal kenangan mengenai Fauzi Abdullah, seorang aktivis yang memberikan perhatian terhadap nasib buruh. Sosok yang bersahaja, jauh dari publikasi namun telah memberikan kontribusi besar bagi gerakan dan kehidupan buruh di Indonesia. Ia juga memberikan kontribusi terhadap gerakan advokasi internasional di kalangan Organisasi Non-Pemerintah.  Atas pengabdiannya, Yap Thiam Hien Award 2009 menganugrahi penghargaan lifethime achievement  kepadanya. Ia dilahirkan di Bogor pada tanggal 15 November 1949 dan meninggal pada tanggal 27 November 2009. Tulisan ini adalah sepenggal kenangan penulis terhadapnya, dan menjadi salah satu tulisan dalam buku “Wan Oji Sudah Pindah Rumah”, diterbitkan oleh REMDEC, Januari 2010.)

Cover Buku yang diterbitkan untuk mengenang Fauzi Abdullah

Cover Buku yang diterbitkan untuk mengenang Fauzi Abdullah

Fauzi Abdullah

Saya kira, orang-orang yang pernah mengenal Fauzi Abdullah dengan beragam panggilan akrabnya seperti Wan/Bung/Bang Ojie atau panggilan Babe, mengenangnya sebagai sosok yang sangat dekat dengan kaos yang biasanya bolong dibagian ketiak, sepasang sandal jepit, dan sarung kotak-kotak. Ia dikenal juga sebagai seorang pejalan kaki yang tangguh. Jarak lima kilometer, misalnya, ia akan lebih suka menempuhnya dengan jalan kaki. Ayunan langkah kakinya sangat cepat dan bisa membuat kawan seperjalanannya terengah-engah. Keringat yang biasanya mengucur deras ketika berjalan kaki atau ketika makan, dengan entengnya selalu dikeringkan dengan kaos yang dikenakannya.

Ia sangat tidak memperdulikan penampilannya, dan juga tidak perduli dengan reaksi ataupun omongan orang atas penampilannya.

“Saya bersedia memakai jas, kalau itu memang dibutuhkan,” katanya suatu malam dalam perbincangan di rumahnya. Dibutuhkan, artinya itu bisa bermakna besar bagi kepentingan orang banyak, terutama kaum buruh yang menjadi perhatian penuhnya selama bertahun-tahun. Tapi, selama saya mengenalnya, tidak pernah saya melihat atau mendengar informasi ia mengenakan setelan jas dalam suatu acara atau pertemuan.

Mbak Dwi, istri Fauzi Abdullah (Dok. Rini Hapsari)

Tampaknya karena penampilannya itu pula, pernah seorang tamu berpakaian rapi yang datang ke kantor LBH Jakarta selepas jam kerja yang hendak mencari seorang staff LBH percaya ketika ia mengaku sebagai office boy. Tamu itu dengan gaya merendahkan menyampaikan pesan-pesan yang harus disampaikan dan tampaknya berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa “sang office boy” dapat memahaminya.

Seringkali orang terjebak dengan penampilannya sehingga berpikir bahwa ia juga “berantakan” dan “semau gue” menjalani kehidupan dan pekerjaannya. Tapi, bagi orang-orang yang mencoba mengenalnya secara dekat dan berinteraksi dalam kesehariannya akan berubah pandangan.

Sebelum menikah, Fauzi Abdullah tinggal sendirian di rumahnya di kawasan Empang. Berkali-kali saya berkunjung ke rumahnya dan bermalam, saya bisa melihat kesehariannya.

Hal yang bisa terlihat secara fisik adalah setiap ruang di dalam rumahnya tidak pernah terlihat berantakan. Dapur-pun kelihatan bersih, tidak berceceran gelas-gelas dan piring-piring kotor, sebagaimana biasanya rumah seorang bujang.

Reihan, anak tunggal yang dibanggakan (Dok. Rini Hapsari)

Pernah saya membawa gelas ke ruang perpustakaan dan meletakkan di meja. Ketika ia tahu, ia masuk, mengambil gelas itu, “Biar saya taruh di luar saja ya,”. Tanpa ada penjelasan, saya langsung memahami maksudnya dan meminta maaf.
Bila di rumah, ia cenderung memasak sendiri daripada membeli atau makan di warung. Menu istimewa harian biasanya sambal, ikan asin, dan tempe. Sambal buatannya dijamin akan membangkitkan selera makan. Setiap memasak nasi, ia akan menghitung berapa orang yang ada. Tidak akan kurang dan tidak akan berlebih. Pernah, dengan niat baik untuk membantu, saya memasak nasi di rumahnya. Rice cooker baru saya nyalahkan, ia datang dan membuka tutupnya. “Wah, sayang, siapa nanti yang akan menghabiskan,” komentarnya.

Prinsipnya tidak boleh ada makanan matang yang tersisa. “Biar tidak memancing tikus masuk,” katanya memberi alasan.

Sampah-sampah rumah tangga juga ia pilah. Sampah-sampah yang bisa diurai akan ia pisahkan dengan sampah-sampah plastik. Ia membuat lubang di sepetak tanah di halaman belakang. Di situlah sampah-sampah yang bisa diurai dibuang untuk dijadikan pupuk. Sedangkan sampah plastik dibuang keluar. Di halaman itu pula ia menanam beberapa pohon buah-buahan, yang dirawat sejak bibit.

Kebiasaan lain, walaupun ia sering tidur selepas tengah malam, sebelum jam enam biasanya ia sudah bangun. Di kursi kayu depan dapur yang menghadap halaman belakang, biasanya ia duduk melahap beberapa koran ditemani secangkir kopi kental dan kepulan asap rokok.

* * *

Salah satu gaya Wan Oji, di sesi malam menggunakan pakaian kebesarannya: Kaos Oblong dan sarung kotak-kotak

Pria berketurunan Arab, anak ketiga dari 13 bersaudara yang lahir di Bogor pada tanggal 15 November 1949, pernah aktif di LBH Jakarta. Selama bekerja di sana, selepas jam kerja, biasanya akan lebih mudah untuk menemuinya. Selama tidak bepergian ke luar Jakarta, ia akan lebih mudah ditemui pada malam hari. Setelah para staff LBH pulang, ia mulai mengeluarkan peralatan kerja malamnya: tikar, pemanas air, kopi dan gula. Ia akan mengganti celana panjangnya dengan sarung kotak-kotak. Beberapa tikar akan tergelar di lantai dua. Tamu-tamu, biasanya para (aktivis) buruh dari berbagai tempat berdatangan. Kadang perkenalan antar mereka baru berlangsung di tempat ini. Dan perbincangan-pun akan mengalir, seringkali hingga pagi.

Kebetulan beberapa kali saya sempat mengikuti perbincangan malam saat datang ke Jakarta dan singgah menemuinya. Saya biasanya hanya menjadi pendengar yang baik. Bung Ojie, biasanya melontarkan pertanyaan-pertanyaan sederhana seputar kehidupan yang lekat dengan keseharian mereka. Mulai dari masalah-masalah yang dihadapi di pabrik, tentang orang per-orang yang dikenali oleh lawan bicaranya, mengidentifikasi siapa-siapa saja yang perlu diajak bicara, mencari cara membangun kontak-kontak yang semakin meluas di tingkat pabrik dan bagaimana membuat pertemuan-pertemuan kecil. Dialog biasanya berjalan santai, seringkali diselingi oleh kelakar-kelakar. Semua orang bisa aktif terlibat menyampaikan informasi dan pandangannya. Bukankah pembicaraan tidak jauh-jauh dari pengalaman dan realitas keseharian mereka?

Saya teringat beberapa kawan yang mengembangkan model pendidikan macam ini walaupun dengan gaya yang berbeda, pada masa-masa itu, seperti Simon Hate dan Mohammad Farid. Bertanya dan bertanya, sampai akhirnya memunculkan pertanyaan bersama untuk dijawab bersama, kemudian lahirlah rencana bersama. Orang-orang belajar dan berkembang tanpa merasa tengah berguru atau digurui.

Persoalan kaum buruh telah menjadi pilihan dimana seluruh hidupnya diabdikan. Mengenai hal itu, seingat saya, dua kali saya pernah bertanya padanya, di sela-sela perbincangan. “Tidak banyak yang memperhatikan kehidupan buruh,” katanya pada pertengahan tahun 80-an.

Suasana pemakaman Fauzi Abdullah (dok. Rini Hapsari)

Pada tahun 90-an ketika berbagai persoalan kerakyatan mengemuka, dan banyak aktivis memilih isu-isu baru, ia tetap bertahan pada pilihannya berpihak dan bekerja bersama kaum buruh. “Saya ini siapa-lah? Otak dan kemampuan saya terbatas untuk berpikir dan bekerja banyak hal. Berpikir dan bekerja untuk isu buruh saja, saya merasa masih kurang,’ jawaban ini melekat kuat dalam diri saya, dan sering saya gunakan ketika orang menanyakan mengapa saya hanya berkutat pada satu persoalan saja.

Pilihan tersebut bukan berarti ia bersikap buta dengan persoalan-persoalan lain. Ia bisa saja hadir dalam suatu acara yang tidak berhubungan dengan persoalan buruh, sejauh tidak berbenturan dengan kegiatannya bersama kaum buruh. Pada satu kesempatan, seorang wakil dari sebuah jaringan Ornop meminta kesediaannya untuk hadir dalam suatu acara.

Wiladi B-Wardah Hafid, sebagian dari sahabat Wan Oji

“Wah, maaf, pada hari itu saya sudah terlanjur janji akan hadir dalam pertemuan dengan kelompok buruh. Kalau pertemuan dengan Mentri, pejabat, atau siapapun, saya bisa enteng memutuskan tidak hadir, tapi kalau dengan kelompok buruh, saya tidak mungkin mengingkari janji saya sendiri. Ya, walaupun bisa saja saya tidak hadir dan memberikan banyak alasan, tapi saya tidak bisa (melakukan), tetap harus hadir,” katanya tanpa bermaksud menyombongkan diri.

Pada kesempatan lain ketika saya bermalam di rumahnya di Bogor, ia menyebutkan beberapa agenda pertemuan di Jakarta. Menurut saya pertemuan-pertemuan itu penting. Keesokan harinya, pagi-pagi sudah datang dua orang tamu, yang kemudian disusul oleh tamu-tamu lainnya yang tidak membuat janji terlebih dahulu. Ia melayani tamu itu dengan baik. Ketika saya mengingatkan tentang agendanya, ia agak terkejut, tapi sejenak wajahnya berubah santai kembali, “Ah, saya tidak hadir tidak akan berpengaruh banyak,” katanya enteng.

Ia lalu menelpon beberapa orang dan memberitahu ia tidak bisa hadir dalam pertemuan-pertemuan itu. Kemudian ia asyik kembali berbincang dengan para tamunya: Kaum Buruh!

Organisasi buruh yang kuat, yang ditopang oleh kemauan dan kemampuan para anggota tampak menjadi obsesinya. Pendidikan kaum buruh untuk menumbuhkan kesadaran terhadap realitas dan hak-haknya menjadi salah satu strategi yang dikembangkan. Ia tidak menolak aksi massa, tapi dengan catatan bahwa para buruh memang terlibat dalam perencanaan aksi dan siap menanggung resiko terburuknya, seperti di PHK. Oleh karena itu, ia tidak terlalu terburu-buru mendorong organisasi buruh melakukan aksi sebelum ada kesiapan. Sikapnya ini oleh sebagian orang dianggap “memperlambat” gerakan buruh. Menanggapi hal itu ia pernah menyatakan: “Apakah kita juga siap untuk membantu para buruh yang di PHK? Ini persoalan hidup mereka. Jadi mereka harus benar-benar siap. Kalau kita, mudah saja lari untuk mencari aman,”

* * *

Sesungguhnya, interaksi saya dengan Fauzi Abdullah lebih bersifat personal. Saya tidak tahu persis kapan pertama kali bertemu dengannya. Hal yang saya ingat adalah ia adalah sahabat Bapak ketika sama-sama aktif di Studi Teater Bogor pada tahun 70-an. Ibu saya adalah kawan satu SMA di Bogor. Oleh karena itu, sejak kecil saya sudah sering bertemu dan biasa memanggilnya Mie (Oom) Ojie.

Penggalan kenangan di atas adalah kenangan tahun 80-90an yang saling berlompatan tidak berurutan yang kebetulan saya saksikan atau hadir dalam perbincangan. Banyak hal yang tentunya secara sadar terlewatkan, terutama tentang sikap-sikapnya terhadap orang lain.

Kebetulan juga saya aktif di Ornop sehingga pembicaraan seringkali memasuki wilayah isu Ornop. Pada tahun 2000-an sangat jarang saya berjumpa dengannya. Seingat saya tidak lebih dari lima kali, termasuk ketika berkesempatan menjenguknya di rumah sakit pada tanggal 8 November 2009.

Adnan Buyung Nasution, melepas kepergian Fauzi Abdullah (Dok. Rini Hapsari)

Ketetapan hati dan konsistensinya pada isu perburuhan yang tidak hanya berkutat pada konsep-konsep dan menerawang dari atas, tapi juga menceburkan diri pada pergaulan sehari-hari dengan kaum buruh, memunculkan penghargaan dari kawan-kawannya. “Begawan” Didi dari Delanggu, setiap menyebut namanya selalu menambahkan dengan julukan “Bapak Buruh Indonesia”. Mulyana W. Kusuma menjulukinya sebagai spesialis grassroot (MBM Tempo, 37/XXXI 11 November 2002). Adnan Buyung Nasution menyatakan bahwa “Jasanya dalam mencerdaskan gerakan buruh di zamaa Orba luar biasa,” dan Todung Mulya Lubis memberikan komentar bahwa: “Fauzi adalah pejuang hak asasi yang tak punya pamrih. Dia tulus dan bersahaja,” (Koran Tempo, 28 November 2009)

Kini ia telah pergi meninggalkan kita semua. Sungguh saya menyesali keterlambatan Saya hingga tidak berkesempatan mengiringi kepergiannya ke tanah pemakaman.

Sore hari, sendiri, saya bersimpuh di sisi gundukan tanah merah yang masih basah di pemakaman Empang Bogor. Inilah tempat persemayaman terakhir dari seorang bapak, kawan, sahabat, kerabat dan guru: Fauzi Abdullah. Sosok orang yang terlampau banyak meninggalkan kesan di hati banyak orang dari berbagai kalangan. Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik baginya.

Yogyakarta, 13 Desember 2009

Sebagian rekan-rekannya yang hadir mengiringi kepergian abadinya (dok. Rini Hapsari)

Headline di Kompasiana

Iklan

3 comments on “Fauzi Abdullah: Manusia Biasa yang Tidak Biasa

  1. […] Fauzi Abdullah, sahabat terdekat Bapak. Dia banyak berjasa pada keluarga kami. Pada saat pernikahan Bapak dengan […]

  2. Iya itulah Ojie yang kita kenal , saya masih ingat suaranya tidak keras kalau bicara , lembut tapi tegas .Pendengar yang baik,membuat orang santai dengan perhatiannya.Banyak memikirkan orang lain , sama sekali tidak egois,tidak sombong.Seperti itulah kawan2 UM,juga iim Kharamah lulusan IPB , sabar ,rendah hati ,peduli orang lain . Atau karena sifat2 itu mereka jadi kawan/tim UM.
    Beritau saya siapa kawanmu , saya akan tau siapa engkau ……….

  3. […] Fauzi Abdullah, sahabat terdekat Bapak. Dia banyak berjasa pada keluarga kami. Pada saat pernikahan Bapak dengan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: