Tinggalkan komentar

“Sinetron Indonesia” Masa Kini

Lima atau sepuluh tahun yang lalu, siapa pernah membayangkan bahwa suatu rapat, pemeriksaan tentang suatu perkara bisa menjadi tontonan yang menghipnotis jutaan orang untuk terpaku di layar kaca?

Tidak hanya satu-dua jam. Tapi berjam-jam. Menonton teater atau film dua jam saja, biasanya kita sudah mengeluh kepanjangan, kecuali memang benar-benar pementasan atau film yang bagus. Tapi, pertemuan ini, rapat ini, pemeriksaan ini, sedemikian memukaukah, sehingga segala urusan bisa dikesampingkan terlebih dahulu. Tidak hanya sekali-dua kali. tapi berkali-kali.

Nah, ada apakah?

Sesuatu yang baru memang selalu menarik hati. Wilayah kekuasaan dimana setiap kebijakan yang lahir dapat langsung terasa dan berdampak pada ratusan jiwa rakyat Indonesia, dimana segala rencana mempertaruhkan segenap kekayaan negara apakah demi kemashlahatan mayoritas atau untuk segelintir kelompok yang dapat menikmatinya. Dulu hal tersebut hanya kita dapatkan dari desas-desus. Bicaranya juga bisik-bisik, tidak di sembarang tempat. Salah tempat, intelejen dapat mencatat, atau diskusi ringan lebih dari 10 orang bisa dibubarkan dan orang-orang dimintai keterangan. Padahal namanya desa-desus belum tentu benar. Walau nyatanya sebagian besar dari desas-desus kemudian terbukti kebenarannya. Sekarang memang sudah berubah. Pusat-pusat penyebaran informasi semakin meluas dan semakin cepat. Internet berkontribusi besar mendekatkan beragam informasi dengan waktu yang cepat, dengan alat yang tidak lagi dirasa mahal untuk menikmatinya.

Maka, bila dulu ada pepatah, “piring retak di pucuk gunung-pun akan terdengar di Istana”, sekarang “sandal tertukar di istana dan pusat-pusat kekuasaan, akan segera tersiar dan diketahui oleh rakyat”.

Oleh karena itu, sesuatu yang baru ini menjadi sangat-sangat menarik. Menjadi tontonan yang mana reaksi para penontonpun dapat segera disalurkan, bila perlu juga dapat menghimpun segenap rasa, pikir, dan tindakan menjadi gerakan kolektif. Ini telah menjadi tontonan alternatif di tengah kemuakan terhadap sinetron-sinetron Indonesia yang tampaknya membangun kebodohan masal.

Tapi, ada satu hal yang mengganjal. bangsa kita adalah bangsa pelupa, maka “sinetron politik indonesia” dapat berubah-ubah dengan cepat, yang mana perhatian kita akan segera teralih dari satu isu ke isu lain. Bila perhatian kita lebih pada kelakuan para pejabat dan penjahat yang nilainya sama saja, kasus-kasus yang menimpa rakyat masih tetap saja berlangsung. Penggusuran lahan, pemukiman, pasar tradisional, dan pembunuhan terhadap lahan-lahan pekerjaan rakyat, silih berganti tak henti-henti.

Dan, ya, seperti biasanya “sinetron” kita, sesuatu yang berbau rakyat, kumal dan kotor, tidak banyak menarik perhatian publik. Kita lebih senang menonton sinetron yang membawakan mimpi-mimpi akan kemewahan.

Maka untuk saat ini, “Sinetron” yang menjadi kegandrungan masih tetap dominan dari gedung rakyat, istana, dan institusi-institusi negara yang selama ini sesungguhnya banyak menjadi alat pengebirian.

(Tulisan spontan tumpahkan rasa jengkel)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: