Tinggalkan komentar

70.000 Anak Jadi Korban Prostitusi

Lokasi Temu Anak Nasional

YOGYAKARTA – Berdasarkan data badan dunia anak-anak, Unicef, di Indonesia setiap tahun terjadi perdagangan anak yang jumlahnya mencapai 100.000 orang.

Yang lebih memprihatinkan, dari jumlah itu diperkirakan 40.000-70.000 menjadi korban prostitusi. Mereka terjebak di 75.106 lokasi prostitusi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

’’Tak mengherankan munculnya angka sedemikian besar karena organisasi perdagangan anak dunia juga mencapai 3.000-an. Itu yang terpantau, belum lagi yang masih bergerak dan mengancam masa depan, keselamatan anak-anak,’’ ungkap Sumali Ibnu Chamid, aktivis anak-anak, kemarin.

Ditambahkannya, dari hasil penelitian Indonesia Against Child Trafficking Campaign (ACT) di Batam dan Surabaya pada tahun 2007 serta dari hasil pendampingan 150 korban di tahun 2005 hingga pertengahan 2008 ini, usia termuda anak yang diperdagangkan adalah 12 tahun. Sebagian besar korban mempunyai jenis kelamin perempuan namun ada juga anak laki-laki dengan preferensi seksual transgender.

Eksploitasi yang dialami anak meliputi eksploitasi seksual komersial (prostitusi dan pornografi), eksploitasi kerja (PRT, baby sitter, salon, dan pabrik). Tingkat pendidikan anak korban sangat rendah. Sebagian besar (80%) tidak lulus SD, bahkan ada yang tidak sekolah sama sekali.

Ekonomi Lemah Anak-anak tersebut dapat menjadi korban karena berbagai latar belakang seperti keluarga tidak utuh, ditinggalkan satu atau lebih orang terdekatnya seperti bapak, ibu. Akibatnya, anak menjadi telantar bahkan kadang-kadang mendapat perlakuan kasar dari keluarga dan lingkungan.

Workshop musik pra-acara yang sudah dilakukan dua bulan sebelumnya (Dok. SAMIN)

’Keadaan sosial ekonomi yang memprihatinkan juga mengakibatkan anak harus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri atau sebagai tulang punggung keluarga. Daerah asal korban terpencil dan sarana transportasi terbatas menjadi incaran organisasi perdagangan anak, lihat saja dari 38 kabupaten/kota di Jatim, sejumlah 29 (76,3%) merupakan daerah pengirim,’’ papar Ibnu.

Kondisi demikian membuat Indonesia ACT, jaringan dengan anggota 16 organisasi nonpemerintah melakukan berbagai kegiatan untuk menghentikan praktik perdagangan anak.

Lembaga ini tersebar di 12 kota di Indonesia. Pada 18-21 Desember, mereka mengadakan Temu Anak Nasional di Desa Kebon Agung, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.

’’Kegiatan tersebut diikuti 370 anak sebagai peserta aktif perwakilan dari Indonesia. Pada acara pembukaan yang dihadiri Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meuthia Hatta dan Gubernur DIY serta Bupati Bantul, akan terlibat 1.000 anak,’’ tandas Ibnu. (D19-70)

Sumber: Suara Merdeka, 18 Desember 2008

http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2008/12/18/43902

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: