Tinggalkan komentar

‘Temu Anak Nasional’ di Kebonagung; Deklarasi Menentang Perdagangan Anak

Bermain, belajar, berkreasi, berekspresi, dan semangat terjaga selama tiga hari mengikuti Temu Anak Nasional (Dok. SAMIN)

BANTUL (KR) – Temu Anak Nasional usai digelar di Kebonagung Imogiri. Sebanyak 392 anak dari 17 kota itu selama 3 hari, belum lama ini mengikuti beragam kegiatan yang diselenggarakan Indonesia Against Child Trafficking (ACT). Kegiatan utama yang digelar adalah workshop. Ini untuk merespons soal perdagangan anak yang makin memprihatinkan.

Penolakan terhadap perdagangan anak tercermin lewat poster. Dari sejumlah poster yang dipamerkan tampak kekesalan anak terhadap fenomena trafficking. Antara lain bertuliskan: Aku Anak Indonesia Tidak Untuk Dijual, Jangan Jual Aku, Aku Masih Ingin Sekolah, Selamatkan Kami, Kami Benci Trafficking. Penolakan juga disampaikan lewat teater dan musik.

Pembacaan deklarasi anak yang dirumuskan berdasarkan hasil diskusi anak perwakilan dari berbagai wilayah di Indonesia (Dok. SAMIN)

Pada penghujung acara mereka juga mendeklarasikan ‘Suara Anak Menentang Perdagangan Anak‘. Deklarasi itu berisi 10 butir antara lain, perdagangan anak adalah perbuatan kejahatan yang sangat merugikan martabat anak. Anak Indonesia menentang segala bentuk perdagangan anak. Harus dilakukan segala tindakan untuk mencegah dan menghapus perdagangan anak. Anak harus waspada terhadap lingkungan sekitar, mengerti perdagangan anak sejak dini dan menolak apabila terjadi tanda-tanda perdagangan anak.

“Hasil deklarasi ini nantinya akan disampaikan ke sejumlah instansi terkait baik yang ada di pusat maupun daerah,” kata Koordinator acara Odi Shalahuddin.

Penutupan acara dihadiri Kepala Kantor Permberdayaan Perempuan Propinsi DIY Dra Tri Astuti yang membacakan sambutan Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan. Dikatakan, besaran kasus perdagangan anak di Indonesia secara pasti datanya masih sulit dilaporkan karena kerja sindikat operasinya sangat halus dan tertutup. Di samping itu juga belum dilakukan pendataan secara menyeluruh tentang praktik yang dikategorikan sebagai perdagangan anak.

Para peserta Temu Anak Nasional (Dok. SAMIN)

Disebutkan, data korban perdagangan orang yang didampingi IOM Indonesia, Maret 2005-April 2008 sebanyak 3.127 korban dengan proporsi 25,6 % umur anak (laki-laki dan perempuan), 67,6 % perempuan dan 6,7 % laki-laki dewasa. Berdasarkan daerah asal sebagian besar berasal dari Kalimantan Barat (707), Jawa Barat (650), Jawa Timur (384), Jawa Tengah (340), Nusa Tenggara Barat (217), Sumatera Utara (211), Lampung (157), Nusa Tenggara Timur (122), Sumatera Selatan (65), Banten (64), Sulawesi Tengah (55) dan DKI Jakarta (42). Selain di dalam negeri, mereka juga diperdagangkan ke luar negeri. Sebagian besar ke Malaysia, Saudi Arabia, Singapura, Jepang, Syria, Kuwait, Taiwan dan Irak. Para korban ini umumnya pencari kerja dengan bekal pendidikan yang relatif rendah.

“Mereka diiming-imingi pekerjaan yang enak dengan gaji menggiurkan,” katanya.

Odi menambahkan, kegiatan temu anak nasional ini sekaligus untuk mempromosikan tanggal 12 Desember sebagai Hari Anti Perdagangan Manusia. Tanggal itu dipilih karena pada 12 Desember 2000, The Protocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Person Especially Women and Children ditandatangani di Palermo Italia yang kemudian dikenal dengan Protokol Palermo. Protokol ini ditandatangani oleh 121 negara termasuk Indonesia. (R-4)-n

Sumber: Kedaulatan Rakyat, 3 Januari 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: