Tinggalkan komentar

Pelaku Belum Ditindak Maksimal Perdagangan Manusia Disoroti

Salah satu yang diperjuangkan Indonesia ACTs

Yogyakarta, Kompas – Indonesia menjadi salah satu negara sorotan karena disinyalir merupakan negara pengirim, persinggahan, dan tujuan perdagangan manusia. Perdagangan itu bertujuan eksploitasi seks dan kerja paksa. Sebagai langkah pengendalian perdagangan manusia, pemerintah perlu menetapkan tanggal 12 Desember sebagai Hari Antiperdagangan Manusia.

Tanggal itu dinilai cukup bersejarah sebagai peringatan disepakatinya Protokol Palermo. Bertempat di Palermo, Italia, 124 negara sepakat memasukkan tindak pidana perdagangan manusia sebagai salah satu kejahatan transnasional pada 12 Desember 2000.

Protokol yang merupakan tambahan atas konvensi PBB itu berupaya mencegah, membasmi, dan menghukum perdagangan manusia, khususnya perempuan dan anak-anak. Penetapan hari antiperdagangan manusia diharapkan bisa meningkatkan sosialisasi pengetahuan masyarakat tentang perdagangan manusia.

Bagus Yaugo Wicaksono

“Masyarakat miskin adalah yang paling rentan menjadi korban perdagangan ini,” ujar koordinator pelaksana kampanye menentang perdagangan anak demi tujuan seksual dari Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) Bagus Wicaksono, Rabu (12/12).

Menurut Bagus, minimal masyarakat harus mengenal tentang isu perdagangan manusia. Dengan bekal pengetahuan tersebut, masyarakat bisa melakukan langkah antisipatif. Faktor penyebab maraknya perdagangan manusia lebih karena tingginya permintaan dari beberapa negara. Indonesia termasuk negara yang menandatangani protokol Palermo. Wujud pelaksanaan protokol itu, antara lain terlihat dari lahirnya Undang-Undang Nomor 21 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Kehadiran UU ini bisa menjerat pelaku dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dengan ancaman hukuman penjara 3-15 tahun. Bertentangan Namun, hingga kini belum ada pelaku utama perdagangan manusia yang ditindak dengan hukuman maksimal. UU Nomor 21 tersebut juga memasukkan poin yang bertentangan dengan Protokol Palermo. Posisi anak dalam korban perdagangan manusia tak dibedakan dengan orang dewasa.

Koordinator Program SAMIN Odi Shalahuddin menambahkan seharusnya anak-anak harus selalu ditempatkan dalam perspektif sebagai korban dalam perdagangan anak. Perlakuan hukum yang sama antara anak dan orang dewasa dalam UU menunjukkan pemerintah masih setengah hati dalam memberantas tindak pidana perdagangan manusia. Korban dari Indonesia antara lain diperdagangkan ke Malaysia, Saudi Arabia, Jepang, dan Australia. Indonesia juga merupakan negara tujuan korban perdagangan manusia dalam lingkup kecil Thailand, Uzbekistan, serta Ukraina. (WKM)

Sumber: Kompas, 13 Desember 2007
http://202.146.5.33/kompas-cetak/0712/13/jogja/1045811.htm

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: