Tinggalkan komentar

LSM: Jadikan 12 Desember Jadi Hari Anti-Trafficking

Indonesia diharapkan meniru langkah Filipina dan Kamboja

Yogyakarta — Lima lembaga swadaya masyarakat dari lima kota mengusulkan kepada pemerintah agar 12 Desember dijadikan sebagai Hari Anti-Perdagangan Manusia, terutama anak-anak dan perempuan. Sebagai langkah awal, selama 30 hari ke depan mereka akan melakukan aneka kegiatan untuk mengkampanyekan gerakan menentang eksploitasi seksual komersial terhadap anak.

Ada 50 radio yang tergabung,” kata Odi Shalahuddin, Koordinator Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN), kepada Tempo kemarin. Selain SAMIN, LSM yang tergabung dalam kepanitiaan bersama adalah Yayasan SARI (Solo), Yayasan SETARA (Semarang), FORBI (Purwokerto), dan INSAN (Wonosobo).

Tanggal 12 Desember dipilih karena pada 12 Desember 2000 Protokol Palermo tentang Pencegahan dan Hukuman terhadap Perdagangan Manusia, khususnya perempuan dan anak-anak, ditandatangani di Palermo, Italia.

Waktu itu 148 negara berkumpul di Palermo menghadiri konferensi tingkat tinggi untuk menandatangani Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Melawan Kejahatan Transnasional Terorganisasi. Dari 148 negara yang hadir, 121 di antaranya menandatangani Konvensi PBB tersebut dan lebih dari 80 negara menandatangani salah satu protokol suplemennya, yaitu Protokol Palermo. “Indonesia termasuk yang menandatangani protokol itu,” kata Emmy L. Smith, Koordinator Indonesia Against Child Trafficking.

Di kawasan Asia Tenggara, yang telah menjadikan 12 Desember sebagai Hari Anti-Perdagangan Manusia adalah Filipina dan Kamboja. “Kami berharap Indonesia akan menyusul,” ujar Emmy.

Asisten Deputi Urusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan Heru Kasidi pada dasarnya setuju pada perlunya peringatan hari tertentu untuk menguatkan komitmen bersama di antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga sosial. Peringatan itu juga menjadi ajang kampanye bagi masyarakat untuk lebih mengerti dan waspada.

Namun, kata dia, akan lebih baik jika hari peringatan memiliki ciri khas Indonesia, misalnya bertepatan dengan hari pengesahan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. “Seingat saya pada 20 Maret 2007,” ujarnya.

Muhammad Farid dari Yayasan SAMIN mengatakan sekitar 30 persen atau 120 ribu orang dari jumlah pekerja seks di berbagai wilayah di Indonesia adalah anak-anak.

Menurut survei Badan Pusat Statistik yang dipublikasikan dua hari lalu, anak korban kekerasan mencapai 3,02 persen, terdiri atas anak laki-laki 3,14 persen dan anak perempuan 2,88 persen. Mereka umumnya mendapat perlakuan kekerasan berupa penganiayaan, penghinaan, penelantaran, dan pelecehan. Pelakunya paling banyak adalah orang tua (61,4 persen), anggota keluarga (3,8), tetangga (6,7), majikan (0,4), rekan kerja (0,8), guru (3,0), dan lainnya yang tidak didefinisikan (23,9 persen).BERNARDA RURIT | AQIDA SWAMURTI

Sumber: Koran Tempo, 13 Desember 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: