Tinggalkan komentar

Kekerasan Eksploitasi Seksual terhadap Anak Meningkat

Yogyakarta, Kompas – Eksploitasi seksual komersial terhadap anak berupa perdagangan anak untuk tujuan seksual, prostitusi anak, dan pornografi anak diperkirakan terus meningkat. Namun, sampai sekarang belum ada data dan informasi memadai terkait angka kenaikan ini. Indikasinya, dari tahun ke tahun, semakin mudah bagi masyarakat untuk mendapatkan bahan pornografi dan anak menjadi obyeknya.

Memasuki 2007, beberapa lembaga swadaya masyarakat seperti Samin, Setara, dan Indonesia Acts menggelar kampanye untuk menentang eksploitasi terhadap anak. Kampanye ini berupa aksi turun ke jalan dan pergelaran kesenian yang dilakukan Sabtu (6/1). Berdasarkan data Unicef 2001, lebih dari satu juta anak Indonesia telah menjadi korban perdagangan anak. Kemajuan dan perkembangan peradaban sering kali mengancam kehidupan anak-anak.

Sebanyak 30 persen dari pekerja seksual komersial ialah anak-anak. “Melakukan hubungan seksual dengan anak di bawah 18 tahun dengan alasan apa pun adalah kejahatan,” ujar Koordinator Program Yayasan Samin Odi Shalahudin, di sela-sela aksi. Perdagangan anak semakin meningkat seiring dengan tingginya arus migrasi dari daerah pedesaan ke luar negeri untuk menjadi pekerja rumah tangga. Biasanya pelaku perdagangan memalsukan identitas anak terutama berkaitan dengan usia. Pemerintah harus menguatkan pengawasan terhadap identitas anak melalui akta kelahiran sebagai prasyarat migrasi.

Namun, akta kelahiran bisa dipalsukan sehingga tidak bisa menjadi jaminan identitas. Sesuai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003, akta kelahiran bisa diperoleh secara cuma-cuma. Tetapi, nyatanya kebanyakan pemerintah kota dan kabupaten memberlakukan biaya. Akibatnya, akta kelahiran mudah dipalsukan. Prostitusi anak dianggap merupakan pilihan tepat akibat ketakutan terhadap HIV/AIDS. “Mereka beranggapan akan aman dan awet muda jika melakukan hubungan seksual dengan anak. Selain itu, tuntutan dari anak tidak begitu banyak,” kata Odi. Adapun kasus pornografi anak masih belum terungkap di Yogyakarta.

Polisi perlu rutin mengawasi warung-warung internet sehingga tidak menyediakan situs pornografi dengan anak sebagai obyek. Odi mengatakan pihaknya akan terus mengampanyekan bahaya eksploitasi seksual terhadap anak hingga Februari. Tak hanya di Yogyakarta, tetapi hingga Jawa Tengah seperti Kota Semarang, Demak, Kendal, dan Kabupaten Semarang. Selain aksi turun ke jalan, mereka akan mengunjungi beberapa daerah lokalisasi dan sekolah. (AB9)

Sumber: Kompas, 8 Januari 2007
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0701/08/jogja/1032498.htm

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: