Tinggalkan komentar

GEMA MERDEKA DI TANAH GEMPA

“Kamilah ini anak merdeka
Tak berpunya, tapi merasa kaya
Semua di dunia milik bersama
Tuk dibagi sama adil dan merata”
(lagu Anak Merdeka)

Gema Merdeka benar-benar terjadi di Lapangan Kebon Agung, Imogiri Bantul pada saat pembukaan acara Jambore Anak Merdeka. Pekik Merdeka berulang-ulang diteriakkan sepanjang acara yang berlangsung pada tanggal 27 Agustus 2006 pukul 12.30 – 16.30. Lagu-lagu Anak Merdeka terus dikumandangkan oleh lebih dari 5,000 anak yang berasal dari berbagai dusun di Kabupaten Bantul. Selain anak-anak yang difasilitasi oleh SAMIN, turut hadir ratusan anak-anak dari Bantul dan Klaten yang difasilitasi oleh World Vision Indonesia, Jaringan Relawan Kemanusiaan, Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) Yogyakarta, Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRUK) dan LPTP-Klaten.

99 anak dari perwakilan 33 dusun berdiri di panggung utama, bernyanyi bersama dan menyambut kedatangan setiap rombongan anak merdeka dengan sapa merdeka. Wajah anak-anak terlihat ceria dan penuh semangat. Perjalanan karnaval sebelum memasuki lokasi jambore belum membuat mereka letih. Tangan mengepal. Merdeka! Merdeka ! Merdeka !

Para relawan dari Tim Kemanusiaan Merdeka  (TKM) yang sangat sibuk, matanya terlihat berkaca-kaca. “Susah untuk bicara, ingin menangis rasanya,” komentar seorang relawan.

Ribuan anak yang hadir adalah sebagian dari anak-anak yang difasilitasi oleh Tim Kemanusiaan Merdeka yang dibentuk oleh SAMIN-Konsorsium BSS for Needy Children yang telah bekerja sejak tanggal 30 Mei 2006 untuk penanganan gempa, khususnya terhadap anak-anak. Bantuan-bantuan bersifat emergency dan upaya psycho-social recovery telah dilangsungkan oleh ratusan relawan TKM. Di 16 dusun, telah dibangun Balai-balai Anak Merdeka sebagai pusat kegiatan anak. Di tempat itu pula telah berdiri Dapur Umum untuk Anak-anak yang dikelola oleh para ibu-ibu setempat dan masih berfungsi hingga saat ini.

Sayangnya, acara yang diharapkan akan dibuka dan dihadiri oleh Gubernur Propinsi DIY dan Bupati Bantul tidak dapat terwujud. Pembukaan diwakili oleh Wakil Bupati Bantul. “Bapak Gubernur dan Bapak Bupati tidak bisa hadir karena ada kesibukan,” jelas Sumarsono, Wakil Bupati Bantul ketika memberikan sambutan.

Semoga saja alasan tersebut benar adanya. Bukan lantaran tidak perduli dengan nasib ribuan anak-anak korban gempa.

“Jambore Anak Merdeka menjadi ruang pertemuan bagi anak-anak untuk menampilkan karya, tukar-pengalaman, bermain dan belajar bersama,” kata Odi Shalahuddin (Koordinator TKM) dan Yoyok Laksono (Koordinator Panitia).

Ribuan karya anak berupa gambar, topeng, wayang kardus, patung, tulisan, telah terpajang di berbagai tenda dan ruang jambore. “masih banyak karya mereka yang cukup bagus namun tidak mampu dipajang bersamaan. Mungkin akan dipasang bergantian,” Wawan, anggota TKM menjelaskan sambil menunjuk berbagai karya yang masih tertumpuk di salah satu tenda.

Jambore Anak Merdeka yang digelar pada tanggal 27 Agustus – 3 September 2006, menampilkan berbagai acara; seperti pementasan musik, tari, teater, pemutaran film, workshop musik, kria, gambar, dan sebagainya. Acara ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Ayo ajak anak-anak ke lokasi Jambore Anak Merdeka….

Yogyakarta, 28 Agustus 2006
(Odi Shalahuddin)

Peserta Jambore Anak Merdeka

________________


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: