Tinggalkan komentar

Setiap Hari Setor Rp 60.000: Anak Jalanan Kian Rentan Kekerasan

SETIAP kali puluhan kendaraan berhenti di dekat lampu pengatur lalu lintas perempatan Jalan Pemuda, tepatnya di seberang Universitas AKI, anak-anak yang semula duduk menggerombol di trotoar tepi jalan segera berdiri.

Sesaat kemudian, bocah-bocah berusia 4-10 tahun itu menghampiri para pengendara dan menengadahkan tangan mereka. Beberapa pengemudi memberikan keping-keping recehan kepada mereka. Namun sering pula para pengendara itu menggelengkan kepala. Mereka yang “ditolak” pun melangkah mundur atau berbalik pergi.

“Jangan mengira mereka tidak ditarget setoran. Anak-anak itu sering diharuskan menyetorkan ‘pendapatan’ mereka kepada anak yang lebih besar” tutur Heru Sulistyo, seorang relawan Rumah Singgah Anak Bangsa, Yayasan Sosial Soegijapranata (YSS).

Anak-anak, kata dia, juga sering mendapatkan perlakuan kurang manusiawi, seperti dipukul oleh orang tua atau kakaknya. “Di kawasan Jalan Thamrin ada anak yang diharuskan setor Rp 60.000 per hari. Kalau tidak bisa memberikan uang sebanyak itu, dia dipukul kakaknya,” tutur Heru.

Kenyataan persis dengan yang diungkapkan oleh Odi Shalahuddin dalam Bedah Buku Anak Jalanan Di Bawah Bayang-bayang Ancaman, Kamis (27/5), di Museum Ronggowarsito, anak jalanan menghadapi permasalahan kompleks, mulai dari perdagangan anak, eksploitasi seksual, hingga pelacuran.

“Meski Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak dengan mengeluarkan UU Perlindungan Anak No 23/2002, penanganan anak jalanan masih lemah,” tegas Odi.

Salah satu gambaran lemahnya penanganan anak jalanan di Kota Semarang adalah kebiasaan memberikan uang dalam setiap aktivitas kegiatan pendampingan baik yang dilakukan Pemkot maupun LSM. “Penanganan seperti ini sangat tidak mendidik,” tegasnya.

Jangan Diskriminatif

Sementara itu, budayawan Darmanto Jatman mengingatkan, anak jalanan jangan diperlakukan diskriminatif. Mereka seharusnya diperlakukan secara normal.”Berbelas kasihan saja tidak cukup untuk mengatasi permasalahan anak jalanan.”

Hal lain yang dirasa masih kurang adalah sedikitnya fasilitas bagi mereka. Perlu diketahui, untuk 1.783 anak jalanan di Kota Semarang, hanya tersedia tiga rumah singgah. Padahal, salah satu tempat yang diyakini dapat menjadi terapi bagi anak jalanan adalah rumah singgah. Namun meyakinkan anak-anak jalanan bahwa ada rumah yang bisa menerima kedatangan mereka bukanlah pekerjaan mudah.

Seperti diungkapkan Manajer Program Rumah Singgah Anak Bangsa, Sr Agatha Titi Prawati, dunia jalanan bukanlah tempat yang aman bagi anak-anak. “Namun sebagaimana anak-anak lain, anak jalanan juga menginginkan hidup normal. Mereka membutuhkan tempat untuk tinggal, rasa aman, nyaman, dan ingin diterima oleh masyarakat.”

Odi yang mendokumentasikan pengalamannya mendampingi anak jalanan selama tujuh tahun ke dalam sebuah buku itu menganjurkan tindakan pencegahan agar anak tidak turun ke jalan.
“Untuk anak yang telanjur berada di jalan, dapat dilakukan program pengentasan yang mengakomodasi keinginan anak.” (Ninik D-89)

Sumber: Suara Merdeka, Jumat, 28 Mei 2004
http://www.suaramerdeka.com/harian/0405/28/kot15.htm

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: