Tinggalkan komentar

Perlindungan Anak Harus Jadi Komitmen

Tawangmangu, Kompas – Aktivis perlindungan anak se-eks Karesidenan Surakarta (Boyolali, Klaten, Karanganyar, Sragen, Sukoharjo, Solo, dan Wonogiri) bersama keluarga korban kekerasan seksual, Selasa-Kamis (13-15/11) lalu, berkumpul di Tawangmangu untuk mencermati penanganan dan tipisnya perlindungan terhadap anak di Jawa Tengah. Pokok-pokok permasalahan kekerasan seksual itu dikemukakan oleh keluarga korban kekerasan Ny Murni (nama samaran), Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Karanganyar Ajun Komisaris Besar P Alexius Subiandono, Staf Pengadilan Negeri Surakarta Soetanto SH, Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS Umum Dr Moewardi Surakarta dr H Djoko S Sindhoesakti, Kepala Seksi Intel Kejaksaan Negeri (Kasi Intel) Surakarta Mohammad Anwar, Staf Eksekutif Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (Samin) Odi Shalahuddin, dan Ketua Pelaksana Yayasan Kepedulian untuk Konsumen Anak (Kakak) Ny Sudaryati.

Dalam semiloka bertajuk “Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi secara Fisik dan Seksual” itu, mereka sepakat mencetuskan benang merah bahwa perlindungan anak-anak dari kekerasan harus semakin menjadi komitmen bersama.

Pasalnya, ujar Ny Murni, korban kekerasan seksual-sebagaimana dialami oleh anaknya sendiri dua tahun lalu-bukan hanya merusak masa depan anak, tetapi juga keluarganya.

Dalam testimoninya, guru SD di desa terpencil ini menuturkan, peristiwa pemerkosaan terhadap anaknya, sebut saja Indah (bukan nama sebenarnya), terjadi 10 November 1999. Tepatnya, sepuluh hari setelah Indah berulang tahun ke-16.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini umurnya memang 16 tahun, sedangkan umur mentalnya, menurut psikolog pribadinya, baru berusia tujuh tahun. Indah terlahir cacat mengat dengan klasifikasi debil (mampu didik).

Indah sudah bisa mandiri membina diri, karena dia pernah belajar di Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Pembina Yogyakarta dan Temanggung. Saat itu, katanya, dia baru memasuki persiapan kembali kepada orangtua, setelah lima tahun dididik di Kota Temanggung. Namun, proses itu gagal, lantaran tetangga dekatnya yang sudah tahu kondisi Indah malah “memanfaatkannya” menjadi obyek nafsunya. Pemerkosaan itu pun terjadi.

Sudah masa depan anaknya hancur, keluarga kecil ini pun hampir saja pecah. Suaminya kalap, begitu mengetahui pelakunya adalah tetangga dekatnya sendiri. “Hati saya terluka dan harga diri saya seperti tercabik-cabik,” ujar Ny Murni.

Hak anak

Ketua Pelaksana Yayasan Kakak Sudaryati menyatakan, anak adalah anak, bukan orang dewasa berukuran kecil. Anak akan berkembang sesuai pengalaman hidupnya sendiri.

Sesuai Konvensi Hak Anak, ada empat kelompok hak-hak anak yang sangat mendasar, yakni (1) Hak untuk bertahan hidup; (2) Hak untuk bertumbuh dan berkembang; (3) Hak untuk memperoleh perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan dan diskriminatif, dan (4) Hak untuk berpartisipasi dalam berbagai keputusan yang sangat mempengaruhi hidup dan nasibnya.

Selama dua tahun ini, jelasnya, Yayasan Kakak terlibat dalam 20 kasus advokasi kekerasan seksual, terdiri dari 10 kasus di Surakarta, satu di Karanganyar, dua di Sragen, dua di Wonogiri, empat di Boyolali, dan satu kasus di Klaten. Kasus itu menyangkut 33 korban terdiri dari 19 anak perempuan dan 14 laki-laki. Kasus yang terjadi adalah pemerkosaan, pencabulan, dan sodomi.

Odi Shalahuddin menuturkan, “Para aktivis hak anak sering menyebut kekerasan, eksploitasi seksual, dan eksploitasi seksual komersial, kejahatan seksual terhadap anak.” Misalnya Aktivis Mandiri untuk Hak Anak, Mohammad Farid, menyebut penggunaan istilah tersebut untuk lebih memberikan bobot kriminal atas tindakan itu.

Kepala Polres Karanganyar Ajun Komisaris Besar P Alexius Subiandono sepakat, perlindungan terhadap anak sangat dibutuhkan. Apalagi, pengalaman keterpurukan segala aspek kehidupan dekade ini memunculkan kekhawatiran terjadinya lost generation.

Bahkan, Kasi Intel Mohammad Anwar menegaskan, demi perlindungan terhadap anak, hendaknya kejaksaan dan aparat penegak hukum lainnya benar-benar memahami masalah anak. “Guna pengawasan terhadap anak-anak dan mengoptimalkan pelaksanaan perlindungan itu dalam keluarga dan masyarakat, perlu juga dibentuk lembaga independen dan cocok,” ujarnya.

Komitmen perlindungan terhadap anak sudah tercetuskan, kini kita tunggu saja kiprah nyata mereka. Tentu, komitmen mereka harus didukung oleh semua pihak, termasuk masyarakat untuk sungguh menegakkan hukum yang berlaku. (sto)

Sumber: Kompas, 17 November 2001

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: