Tinggalkan komentar

Sebagian Besar PRT Anak-anak

PEKALONGAN – Berdasarkan beberapa penelitian tentang pembantu rumah tangga (PRT) di Kota Semarang, sebagian besar PRT adalah anak-anak. Hasil penelitian Pusat Edukasi Studi dan Advokasi Anak Indonesia bersama Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (Samin) misalnya, dari 92 responden, tercatat 70 PRT dikategorikan anak (usia di bawah 18 tahun).

Demikian hasil seminar sehari tentang Pembantu Rumah Tangga Anak (PRT), yang diadakan bekerja sama dengan Forum Masyarakat Peduli Anak Jateng (FMPAJT) dan Lembaga Sosial Kemasyarakatan Azzahir di Cafe Merdeka, Pekalongan, kemarin.

Seminar menghadirkan narasumber Odi Shalahuddin dari LSM SAMIN Yogyakarta, Fatah Muria, Koordinator Eksekutif Pusat Edukasi Studi dan Advokasi Anak Indonesia (Perisai) Semarang dan Lita dari Yayasan Tjoet Njak Dien Yogyakarta.

Lebih lanjut Fatah Muria mengatakan, penelitian yang berlangsung September 2001 hingga Juli 2002 itu menunjukkan bahwa dari 70 PRT usia anak-anak yang menjadi responden, ternyata masih dua responden yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Dengan demikian, data yang dirangkum hanya 68 responden.

Pekerjaan PRT itu ternyata dilakukan anak yang berumur 12 tahun mencapai 4,4%, kemudian 13 tahun (4,4%), 14 tahun dan 15 tahun (sama-sama19,1%), serta 16 tahun dan 17 tahun, juga sama yakni 26,5%.

Upahnya pun masih sangat minim. Untuk PRT anak yang diberi upah antara Rp 100.000- Rp 125.000 mencapai 47,1%, Rp 125.000 – Rp 150.000 (27,9%). Bahkan ada anak yang diupah di bawah Rp 100.000 dan ada yang tidak diberikan upah sama sekali.

Padahal, mereka ini melakukan pekerjaan yang cukup berat. Rata-rata mereka mengerjakan pekerjaan antara 15 dan 16 jenis pekerjaan dalam sehari, mulai dari mengasuh anak, mencuci, mengepel ataupun memasak sekaligus menyiapkan makanan.

Odi Shalahuddin dari Yayasan Samin mengatakan, masalah yang dihadapi PRT cukup banyak. Selain jam kerja yang panjang dan tidak tetap, juga harus siap untuk diberi beban pekerjaan setiap waktu yang cenderung tak memiliki waktu istirahat dan waktu libur. Upah yang diterima rendah dan tak ada kontrak kerja sama antara majikan dan PRT yang mengatur hak serta kewajibannya.

Mengingat hampir seluruh PRT adalah perempuan, aktivis perempuan yang concern terhadap masalah PRT mendorong upaya memberikan perlindungan dan penghargaan terhadap PRT. Yang diperjuangkan adalah menjadi PRT sebagai profesi, yakni bukan pembantu rumah tangga tetapi sebagai pekerja rumah tangga. (A15-20k)

Sumber: Suara Merdeka, 20 Juli 2002

http://www.suaramerdeka.com/harian/0207/20/dar12.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: