Tinggalkan komentar

Lembata (1)

Bandar Udara di Lewoleba, Kabupaten Lembata

Kali ini, saya dengan seorang rekan, Rika Muninggar dari SAMIN, berkesempatan berkunjung ke Lembata. Kunjungan ini atas undangan dari Plan Indonesia Program Unit Lembata untuk memfasilitasi suatu pelatihan bagi fasilitator untuk Analisa Situasi hak Anak, selama lima hari (tentang  pelatihan saya telah memposting di Kompasiana dan juga di SINI).

Ini merupakan daerah ketiga di Flores yang pernah saya kunjungi. Pada November tahun lalu, saya berkesempatan ke Larantuka, Kabupaten Flores Timur dan bulan lalu (Oktober) ke Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Pulau Lembata terletak di ujung timur kepulauan Flores. Saat ke Larantuka, ketika berada di sebuah dermaga, seorang kawan menunjukkan bahwa pulau yang berada di depan kami adalah pulau Adonara, dan di belakangnya adalah Pulau Lembata.

Gunung berapi di Lembata yang masih aktif

Gunung berapi di Lembata yang masih aktif

Lembata sebelumnya merupakan salah satu bagian dari Kabupaten Flores Timur. Namun sejak tahun 1999, Lembata, menjadi kabupaten tersendiri yang didasarkan pada Undang-undang Nomor 52 tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Lembata.

Pulau Lembata, sebelumnya dikenal dengan nama “Pulau Lomblen”. Perubahan nama  ini diputuskan pada Musyawarah Kerja Luar Biasa Panitia Pembentukan Kabupaten Lembata yang diselenggarakan di Lewoleba pada tanggal 24 Juni 1997 dan berlaku sejak 1 Juli 1967. Nama Lembata dikaitkan dengan sejarah asal masyarakatnya dari pulau “Lepanbatan”.

Lembata, seperti halnya dengan wilayah lainnya di kepulauan Flores, tentu banyak tempat-tempat rekreasi pantai pasir putih yang masih alami. Oh, ya, di Lembata, mungkin dirimu pernah mengetahui atau setidaknya membaca atau mendengar tentang tempat yang dianggap unik dan telah dikenal luas adalah wilayah Lamalera, di mana masyarakatnya dikenal sebagai penangkap ikan paus (sayang selama di sana kami tidak berkesempatan untuk mengunjunginya).

***

Dari Yogyakarta, kami berangkat pada tanggal 24 November, transit dan bermalam dulu di Kupang, dan melanjutkan perjalanan keesokan paginya dengan menggunakan pesawat kecil berkapasitas 12 penumpang.

Saat di Kupang, telah beberapa hari terjadi kelangkaan BBM. Berita di sebuah media mengabarkan bahwa 2/3 kendaraan umum tidak bisa beroperasi karena tidak bisa mendapatkan BBM.

Pada saat menuju hotel, tarif masih normal yakni enam puluh ribu rupiah. ”kita beruntung, karena di Pom bensin hanya dijatah bisa membeli dua puluh ribu rupiah saja, tapi kita dapat dukungan dari Bandara bisa membeli sebanyak 20 liter,” cerita sopir taksi bandara.

Namun saat menggunakan taksi berplat hitam dari hotel ke Bandara, sang sopir meminta tarif di atas normal.

”Cepek,” kata sang sopir taksi ketika saya menyerahkan uang sebesar enam puluh ribu rupiah, sesuai tarif yang selama ini berlaku. ”Karena bensin mahal, Mas,”

Tanpa membantah, saya menarik kembali uang enam puluh ribu rupiah dari tangan sang sopir, menggantikan dengan satu lembar seratus ribuan.

Di sini kami menginap dan pelatihan berlangsung

Di sini kami menginap dan pelatihan berlangsung

Tiba di Bandar Udara El Tari sekitar pukul 06.30, langsung chek in, dan tidak menunggu terlalu lama, sebelum pukul 07.00, telah boarding. Perjalanan sekitar 50 menit, dan kami telah tiba di Bandar Udara Wunopito, Lewoleba.

Saat turun dari pesawat, kami telah melihat mobil jemputan telah menunggu. Pak Ardi, sopir dari Plan yang menjemput kami, menyambut dengan ramah. Ia mengantarkan kami ke sebuah hotel yang terlihat asri dan berada di pinggiran kota, bernama Palm Indah. Sebuah hotel yang tampaknya baru beroperasi, dengan struktur bangunan modern, dan kamar yang lumayan nyaman.

Saya mengontak rekan yang mengundang saya, ia berjanji akan datang sore hari untuk membicarakan persiapan pelatihan. Saya dan Rika lalu menanyakan tentang tempat-tempat yang berada di sekitar hotel. Tempat terdekat adalah sebuah pasar  yang jaraknya kurang lebih dua ratus meter, dan bisa terlihat dari depan hotel.

Sepertinya ini adalah pasar yang buka setiap hari. Pasar-pasar lain biasanya buka hanya seminggu sekali. Jadi, warga Lewoleba, biasanya berbelanja ke pasar ini.

Pasar dekat hotel

Pasar dekat hotel

Panas, itu kesan yang melekat tentang Lembata. Berjalan ke pasar di pagi hari saja dengan jarak yang sangat dekat, keringat kami sudah mengucur deras.

Kondisi semacam itu yang terus kami alami selama berada di Lembata. Selama lima hari pelatihan, ketika beristirahat dan keluar dari ruangan, maka hawa panas segera mengundang keringat untuk keluar.  Pada situasi itu, biasanya saya ngacir dulu ke dalam kamar. Ngadem. Manja banget ya…?

Ketika sore, rekan saya menyatakan tidak bisa datang ke hotel. Penyakitnya kumat, tidak bisa bangun, dan harus segera mencari obat atau periksa ke dokter. Saya bisa memaklumi, mendoakan agar segera sembuh dan berharap besok bisa hadir setidaknya dalam acara pembukaan pelatihan.

(bersambung)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: