
Pada acara “Refleksi Hari Lahir Pancasila” 1 Juni 2012 di titik nol kilometer Yogyakarta
…
kabar terakhir hilangnya hari ini sampai detik ini
apa arti butir darah merah yang mengabdikan diri itu
lihatlah dengarlah pidato sang buta yang dungu
yang tuli yang meledakkan korban demi korban itu
apa lah arti bilang, itu kemajuan? Apa lah arti hilang
darah merah dagingmu ? apa lah arti orang mati
itu kemajuan bagimu ? hak hak hak dungu; nganga !
Syam Candra Manthiek dalam ”Hitam Putih Hendonesyah” yang menyuarakan kegelisahan hati, tentang sebuah negeri, dari situasi yang tidak bisa dimengerti. Berbaur bersama potret wajah tekyan Wahyana Giri MC dalam ”Tekyan Kidul Ngejaman”

Wahyana Giri MC
inilah wajah anak-anak bangsa
anak-anak Indonesia
gelisahnya menjadi anak panah
menyusup di sela busur
membidik jamannya
…
wajah-wajah mereka terus didera
kemerdekaan telah dipangkasnya
otaknya dijejaki mitos dan retorika kepedulian
Melesat membuat Syam Chandra meradang. ”Apa kabar Demokrasi Aman hari ini, kabarnya hilang seribu kepercayaan harian, meledak lah arti hak hak hak puing-puing ejekan korban kematian dan perilaku buta tulimu: Nganga!”
”keluarga, sekolah dan masyarakat adalah penjara, yang sesak dipenuhi sekat-sekat duka nestapa,” Giri seraya berlalu, mengibaskan sarungnya.
Membuat Syam Chandra memekik ”Kembalikan Pancasila kembali lagi, adalah hari ini, bukan saatnya makan kembang kemenyan, dengarlah suaraku sama dengan lidah Bung Karno,”.
Mustofa W. Hasyim menyambut dengan lembut berkata: ”Menghadirkan Pancasila, menghadirkan Pancasila, menghadirkan Pancasila”
”tak ada lagi harapan disulam, tak ada lagi hasrat dianyam,” kembali Giri bersuara dengan membetulkan ikatan kain sarungnya yang hampir melorot.

Syam Chandra Mantiek
”Agar bangsa memiliki idiologi, dan bukan kian terpuruk kehilangan jiwanya!” semangat membara Syam Chandra, dengan wajah memerah, dan tangan yang mulai terkepal.
”Menghadirkan Pancasila di dalam diri” sapa MWH tetap lembut
“Demi berkeadilan dan beradab manusia !” seru Syam
”Wajah buram menempel di kulit bopeng,” celetuk Giri
”Menghadirkan Pancasila di tempat-tempat sederhana, mungkin lebih penting, daripada mengusulkan hadirnya Pancasila, di gedung-gedung dan istana,” kembali MWH. ”Keunggulan Pancasila, terletak pada saling menguatkan di antara sila-silanya. Kesaktian Pancasila, terletak pada saling melindungi diantara sila-silanya,”
Yogyakarta, 2 Juni 2012
Catatan: Tulisan iseng, membaca puisi-puisi yang dibacakan pada saat acara Refleksi Hari Lahir Pancasila.
- Syam Chandra Mantiek: Hitam Putih Hendonesyah dan Kembalikan Pancasila
- Wahyana Giri MC: Tekyan Kidul Ngejaman
- Mustofa W. Hasyim: Mengutuhkan Sila-sila dalam Pancasila dan Menghadirkan Panca Sila dalam Diri