Tinggalkan komentar

Cerminan Wajah Anak Indonesia dalam ”Yusra dan Yumna” (2): Anak dalam Situasi Bencana

Cerminan Wajah Anak Indonesia dalam ”Yusra dan Yumna” (2)

ANAK DALAM SITUASI BENCANA

Adegan sebelum terjadinya Tsunami dalam Sinetron "Yusra dan Yumna"

Gempa bumi dahsyat berkekuatan 9,3 SR yang diikuti dengan tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004, merupakan bencana besar yang tidak akan terlupakan. Tsunami yang melanda negara-negara lainnya, telah mengakibatkan sekitar 230,000 orang meninggal dunia di delapan negara.

Kota-kota luluh lantak. Orang-orang kehilangan dan terpisah dari anggota keluarganya yang lain, orang-orang kehilangan tempat tinggalnya, orang-orang kehilangan seluruh harta kekayaannya, orang-orang kehilangan banyak hal. Proses pemulihan yang tentunya membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Ingatan masyarakat tentang bencana dahsyat ini, tampaknya menginspirasi dan dijadikan sebagai latar belakang kehidupan dari tokoh utama ”Yusra dan Yumna”, sebuah mega sinetron yang tengah ditayangkan di sebuah televisi swasta. Memang tidak berlatar belakang bencana tsunami di Aceh, melainkan (secara fiktif) terjadi di daerah pesisir Jawa Barat.

Keluarga Rama dan Nirwana tengah berlibur bersama anak kembarnya di sebuah pantai. Saat di Pantai, Nirwana menggendong salah satu anaknya (Yumna) kembali ke hotel, sedangkan kembarannya (Yusra) digendong oleh pengasuhnya. Saat di hotel, televisi memberitakan tentang terjadinya gempa dan kemungkinan tsunami, yang membuat Rama dan Nirwana panik. Namun tsunami terlanjur menerjang. Dari jendela kamar, mereka hanya mampu menyaksikan orang-orang (termasuk satu anak mereka) ditelan terjangan tsunami.

Keluarga ini merasa bahwa Yusra telah meninggal dunia dan merahasiakan tentang saudara kembarnya kepada Yumna. Walau seringkali bertahun-tahun mereka, utamanya Nirwana selalu terbayang tentang Yusra. Yusra sendiri ditemukan oleh penduduk setempat, Eyang Layla, yang mengangkatnya sebagai cucu dan memposisikan Yusra, yang diberi nama Shira (artinya Bintang yang terang benderang) sebagai adik dari Setia, cucu kandungnya.

Sebagai kisah, memang ada kejanggalan yang fatal. Tsunami yang diakibatkan oleh gempa berskala 6,4 SR, tapi dalam kisah ini tidak ditampilkan adegan terjadinya gempa. Rama dan Nirwana mengetahui (adanya gempa dan) kemungkinan akan terjadinya tsunami justru dari stasiun televisi. Apakah ini mungkin terjadi dalam dunia nyata?

Tentu akan lebih menarik (dan juga tidak membodohi penonton) apabila Nirwana membawa Yumna ke hotel lantaran kecemasan karena gempa. Yusra dan pengasuhnya tertinggal misalnya karena adanya faktor tertentu (yang dibuat tidak mengada-ada).

Bahwa peristiwa gempa dahsyat kemudian ditampilkan dalam sinetron itu, yang menyebabkan bumi terbelah dan rumah-rumah hancur, namun tidak menimbulkan tsunami, justru untuk memberikan latar belakang tentang kepindah Eyang Layla dan Yusra (yang sudah menjadi remaja) dari desa tepi pantai ke Jakarta.

Ada keyakinan, bahwa latar belakang seperti tergambar di atas merupakan titik pijak dari alur utama yang hendak dibangun, yaitu sebagaimana judul yang diberikan, bercerita tentang kehidupan ”Yusra dan Yumna”. Namun dalam perjalanannya, alur-alur tambahan yang melahirkan konflik-konflik baru, membuat sinetron ini terjebak kehilangan fokus. Hal yang biasa terjadi, apalagi bila dikaitkan dengan respon dari penonton (dan iklan tentunya), sehingga membuka kemungkinan kisah bisa diperpanjang berlama-lama. Tapi, kebenarannya? Entahlah.

Kembali kepada pokok soal dari tulisan ini, ada persoalan besar (di luar persoalan-persoalan besar lainnya) menyangkut kehidupan anak-anak dalam situasi bencana. Seringkali, pada penanganan bencana, kebutuhan-kebutuhan anak terabaikan. Contoh paling sederhana, sebagaimana pengalaman yang pernah saya (bersama kawan-kawan lain) alami, menu makanan yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak bisa lebih buruk dibandingkan orang dewasa. Dapur-dapur umum yang terbentuk, biasanya memasak untuk kebutuhan orang dewasa. Saat makan tiba, baru tersadar itu tidak cocok bagi anak. Akibatnya, mie instan yang kerap disuguhkan kepada anak-anak.

Pada kasus bencana yang menyebabkan keterpisahan antara anak dengan orang tua dan atau keluarganya, hal ini menjadi lebih kompleks lagi. Negara sebagai pemangku kewajiban harus melakukan langkah-langkah agar anak-anak bisa dipertemukan kembali dengan orangtua/keluarganya. Pada kasus bencana tsunami di Aceh, misalnya, kita bisa menyaksikan di televisi tentang posko-posko informasi yang juga menampilkan daftar orang-orang yang ada di pengungsian dan informasi orang-orang yang hilang. Masyarakat juga berperan besar untuk memberikan informasi dan mempertemukan kembali anak dengan orangtua/keluarganya.

Perlindungan terhadap anak yang kehilangan orangtua/keluarganya, agar tidak menjadi korban berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi atau menghadapi situasi yang membuat kehidupannya semakin buruk ataupun mengancam keberlangsungan hidupnya, ada prosedur yang ketat mengenai pengasuhan pengganti. Orang atau institusi tidak bisa seenaknya mengambil anak-anak itu untuk diasuh dan dirawatnya.

Walaupun tidak perlu berpanjang-panjang dan mengeksplore berbagai persoalan dalam situasi bencana, akan lebih menarik dan masuk dalam logika bila ada adegan yang menunjukkan upaya Rama dan Nirwana mencari tahu keberadaan atau kepastian tentang nasib anaknya, Yusra. Juga ada adegan, dimana Eyang Layla bisa mendapatkan pengesahan walau tidak secara legal formal, tapi misalnya ditetapkan dalam pertemuan kampung bahwa dia bisa merawat Yusra.

Yogyakarta, 24 Maret 2012

Foto ilustrasi diambil dari SINI

_____________________________

Tulisan terkait:

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: