Tinggalkan komentar

Berjumpa Ibu Prapto, Ibu Anak Jalanan Semarang #3

BERJUMPA IBU PRAPTO, IBU ANAK JALANAN SEMARANG #3

Odi Shalahuddin

Bu Prapto

Kegiatan saya bersama anak jalanan Semarang  secara langsung untuk membantu seorang pekerja sosial yang bekerja secara individu, telah dimulai pada bulan Juni 1996. Sejak itu, separo waktu saya berada di Semarang dan pada bulan Juli tinggal di rumah yang dikontrak di kawasan Lemah Gempal dekat Pasar Bulu bersama puluhan anak jalanan. Rumah tanpa fasilitas apapun, dan awalnya tidur hanya beralaskan kardus yang dibeli dari sebuah warung.

Tempat kegiatan anak jalanan yang sering dikunjungi adalah Pasar Johar, Halte Dibyapuri dan halte Lawang Sewu. Pada sore dan malam hari sering berada di dalam Taman Tugu Muda, di mana anak jalanan dari berbagai lokasi, baik laki-laki ataupun perempuan sering beristirahat di sana. Pada masa itu, seputar lampu merah di kawasan Taman Tugu Muda belum menjadi tempat anak-anak jalanan mencari uang. Anak-anak biasanya mendapatkan uang dengan cara mengamen di dalam bus-bus kota.

Secara persis, saya tidak bisa mengingat kapan pertama kali berjumpa secara fisik dengan Ibu Prapto. Namun namanya saya kira terdengar pertama kali dan kemudian lekat di kepala saya ketika ia menyatakan kesediaan untuk menampung seorang anak laki-laki berumur 10 tahun asal dari sebuah desa di pinggiran kota Solo. Anak ini mengaku yatim-piatu dan tinggal bersama Pakdhenya. Seorang relawan sempat menemani anak itu untuk berkunjung  ke rumah keluarganya. Namun ia menyatakan tidak akan tinggal di sana lagi, dan berkeras untuk tinggal di Semarang dan melanjutkan sekolah. Tentu saja kami sangat gembira ada sebuah keluarga yang bersedia menerima kehadiran anak jalanan di rumahnya. Rasa kagum pula bahwa itu dilakukan oleh Ibu Prapto, bukan lantaran ia adalah orang yang berkelebihan secara materi dan memiliki tempat tinggal yang luas. Ia orang biasa, ketiga anaknya-pun juga berada di jalanan di luar jam sekolahnya.

Setelah bertanya tentang sosok Ibu Prapto kepada beberapa rekan pendamping dan juga kepada anak-anak, saya banyak mendengar tentang kiprahnya yang selama ini sering memberikan perhatian terhadap anak-anak jalanan, utamanya yang berada di kawasan sepanjang Jalan Pemuda (Pasar Johar-Taman Tugu Muda) dan kemudian anak di kawasan Simpang Lima. Tidak jarang ia harus berjalan kaki untuk bertemu dengan anak-anak dan menanyakan tentang kondisi mereka.

”Cinta membawa kedamaian,” demikian ia nyatakan ketika seorang kawan mewawancarainya pada akhir tahun 2003. Pernyataan yang ia jadikan sebagai falsafah hidupnya yang sungguh-sungguh dijalani dalam kehidupan sehari-hari. Ini pula yang tampaknya membuat wajahnya jarang terlihat sedih atau terlihat menyimpan beban. “Cinta bisa membawa kekuatan,” tambahnya lagi.

Wajahnya, selalu kelihatan teduh, penuh senyum dan tawa, membawa kedamaian dan cinta yang energinya terasa menyapa hati kita sehingga kita bisa larut dalam buaian rasa damai dan cinta kasih seorang ibu kepada anak-anaknya. Itu yang setidaknya kulihat dan kurasakan pada awal bertemu dengannya, pada seluruh pertemuan dengannya, termasuk juga yang terjadi pada hari ini (bersambung)

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: