Tinggalkan Komentar

Celoteh Anak Tentang Kemerdekaan

Odi Shalahuddin

di bawah kibaran merah putih yang telah lusuh di pucuk pohon kelapa
sisa kibaran hari kemerdekaan yang mungkin terlupa diturunkan pemiliknya
di tanah itu, anak-anak bermain perang-perangan,
tar ter tor tar ter tor, mulut bocah bersuara dengan senapan dari pelepah pisang
”Merdeka! Merdeka! Merdeka!

lepas lelah anak-anak bebas mendudukkan pantatnya setengah lingkaran
menyibukkan diri memperbaiki senapan masing-masing
sambil mengunyah permen pemberian seorang anak

”Kenapa untuk merdeka harus tembak-tembakan ya?” seorang anak bertanya entah pada siapa, dengan kepala tak menatap siapapun, sambil mengelus-elus senapannya

”Di televisi, banyak tembak-tembakan, tapi tidak ada yang teriak merdeka,” celetuk seorang anak

”Hm, tidak nasionalis! Dulu bangsa kita dijajah ratusan tahun. Bukankah Bu Guru bilang begitu. Untuk merdeka, telah ribuan jiwa kehilangan nyawa. Berjuang melawan penjajah. Merekalah pahlawan-pahlawan kita. Tanpa mereka kita tidak bisa hidup seperti sekarang, bisa sekolah,” celetuk anak yang lainnya lagi

”Bener kok… aku tidak bohong. Tuh di televisi, banyak tembak-tembakan,”

“Film,”

“Bukan,”

”Jadi untuk menjadi pahlawan harus megang senjata dan tembak-tembakan dulu?”

”Ya, apakah menjadi pahlawan harus megang senjata? Harus menjadi tentara?”

”Oh, yang kamu tonton itu sih polisi nembak maling, polisi menyerbu sarang teroris, dan yang pegang-pegang senjata tanpa seragam itu penjahat. Perampok! Dasar gak pernah nonton televisi,”

”Uh, yang aku tonton malah tangis-tangisan terus, marah-marahan, anak sama orangtuanya berani melawan’

”Sinetron terus yang kamu tonton, berita dong,”

Sahut-sahutan, gak tahu siapa empunya suara.

”Yuk main perang-perangan lagi,”

“Males ah, capek, lari-lari”

“Kamu gak mau jadi pahlawan?”

“Apa masih ada, kan tidak ada perang,”

”Gak perlu perang yang penting jadi tentara,”

“Loh, kok bisa?

“Om saya tentara, gak pernah perang, dimakamkan di taman pahlawan,”

“Oh, jadi gak perlu perang yang penting jadi tentara?”

“taman makam pahlawan bukankah makam tentara?”

”Iya, ya… jadi yang bisa jadi pahlawan Cuma tentara?”

”Yuk perang-perangan lagi, yuk,”

“gak mau, capek?”

“gak mau jadi pahlawan?”

“Gak, aku mau jadi orang kaya aja,”

“Pahlawan dipuja,”

“Orang kaya juga,”

“Jadi tentara yang pengusaha, jadi pahlawan yang kaya raya,”

“Uh, kamu ini”

“Tar ter tor, tar ter tor tar ter tor,”

“Yuk mainan lagi,”

“Eh, aku ingat, ada pahlawan lain, pahlawan tanpa tanda jasa. Guru!”

”Aku baca di koran, ada pahlawan devisa,”

“Pahlawan pembangunan,”

“Pahlawan… pah..la…wan…. apa, ya….? Ya, Pahlawan..!!!”

“ha..ha.h.a.ha.ha.ha.ha.ha.ha.

“Huh…!”

“Ugh..!”

“He..he.h.e.h.eh.e.”

“Ah, gak ah, pahlawan itu gak dimakamkan di taman makam pahlawan,”

“Yang penting pahlawan,”

“Gak, nanti kalu mati makamnya gak terurus, gak teratur. Tuh coba lihat di makam pahlawan, sudah mati saja makamnya tetap berjejer lurus, rapi, gagah,”

“tar ter tor, tar ter tor”

“Lari-lari aja yuk,”

“Gak ah,”

“Ke kali aja, mandi,”

“Yuk,”

”Yuk,,,”

”Ayo….!”

Letakkan senapan mainan, copot kaos copot celana, nyemplung di kali, berenang-renang, saling menyiram air, tertawa-tawa, ada suara-suara, topik pembicaraan telah berganti…

Lantas?

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s