Tinggalkan komentar

(puisi) Katakan Saja

KATAKAN SAJA 

Tidak sekali dua kali. Tidak setahun dua tahun. Pengalaman telah berkali-kali. Selama bertahun-tahun. Selalu saja kebohongan-kebohongan itu yang dihadapi. Bukankah dalam hiruk pikuk yang memekakkan telinga. Dari suara knalpot yang tak sempurna. Lantang sekali janjimu. Memberi harapan. Membumbung tinggi. Sambil tidak lupa menitipkan amplop sebagai balas waktu yang disisihkan. Sebagai bentuk penghargaan kepadamu, kami masukkan saja amplop itu disaku. Bila-pun tidak amplop itu langsung kita buang. Isinya saja yang kita ambil.

Kami telah berkeringat. Bersorak. Memekik.  Setiap katamu, walau tak terdengar, tetap kami sambut. Tetap kami gemakan. ”Hidup…! Hidup…!… Hidup…!” Ya, kami tahu. Bahwa kata yang terlontar adalah janji. Tak perlu muluk-muluk. Menggunakan kata biasa saja yang sangat kami pahami.

Jangan sampai ada orang tidak makan
Jangan sampai ada orang tidak bekerja
Jangan sampai ada orang sakit tidak terawat
Jangan sampai ada orang tidak bersekolah
Jangan sampai ada orang tidak punya rumah.

Ya, janji-janji semacam itulah. Mudah kami pahami. Daripada melingkar-lingkar dengan angka-angka pertumbuhan ekonomi. Prosentase dari sesuatu yang benar-benar tidak kami pahami. Melalui tekad menjulang. Kebenaran. Keadilan. Pemerataan. Ah, usang.

Katakan saja bahwa orang tidak boleh terlalu kaya berlipat ganda dari yang lainnya.
Katakan saja bahwa orang dibatasi untuk memiliki atau penguasaan terhadap lahan-lahan
Katakan saja bahwa orang yang menggunakan dana negara milik rakyat untuk kepentingan pribadi ataupun kelompoknya merupakan dosyang tak terampuni dan perlu segera diamputasi segenap kekayaannya

Katakan saja bahwa orang yang bermain kekerasan siapapun dia termasuk para penjaga tidak prelu dilindungi atas nama apapun karena kekerasan itu sendiri sudah merupakan pengingkaran terhadap kemanusiaan.

Katakan saja, katakan sajalah dengan gagah berani karena sesungguhnya mandat itulah yang dibebankan kepadamu untuk mengelola negeri ini

Bila merasa diri tak mampu katakan saja tak mampu, kami pastilah bisa memahami daripada kau mencoba bertahan namun tak kuasa menutup lubang-lubang tikus dan membiarkan anjing-anjing menyembunyikan tulang-tulang dan para harimau terus saja memangsa

Ya, katakan saja.

Cukup mudah bukan?

Yogyakarta, 16 Mei 2011

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: