MERDEKA
Bagaimana mau merdeka, bila kau sangsi dengan kemerdekaan itu sendiri? Lantaran situasi atau kepasrahan pada kekalahan yang berulang, yang selalu termatikan oleh mesin-mesin kekuasaan? Ruang-ruang merdeka dirasa hanya etalase yang hanya bisa ditonton namun tak bisa dinikmati?
Ketika ”merdeka” diserukan, rasa ragumu yang menunjukkan ketidakmerdekaan, justru memunculkan kesinisan belaka. ”Apakah kau benar-benar telah merdeka?” tanyamu.
”Merdeka” lantang terpekikkan memang bukan berarti kemerdekaan telah teraih. Ia menjadi semangat, menjadi jiwa menuju kemerdekaan. Kukira bukanlah dongeng, di belahan bumi manapun atau di nusantara ini, hanya untuk memekik ”merdeka” saja, berarti ia telah mempertaruhkan nyawanya.
”Merdeka” tidaklah diberi. Ia akan lahir dari sebuah perjuangan. Tidak akan ada kemerdekaan tanpa ada upaya, atau hanya bersikap sinis belaka, yang kemudian jangan salahkan bila orang lain bisa mengartikan bahwa sesungguhnya dirimu hanya sebagai alat untuk menghentikan semangat ”kemerdekaan”. Tapi kuyakin, niatmu tentulah tidak demikian.
Maka, janganlah ragu untuk berteriak ”merdeka”, setidaknya sebagai penyemangat jiwa, untuk berketetapan dan yakin tentang arah tujuan, menjadi manusia ”merdeka” di tanah merdeka.
Merdeka…!!!!
Yogyakarta, 24 September 2010: 03:10







