LANTAS?
selalu,
kantong cepat terkuras habis
sedang isi sulit didapat
masih saja kita bercanda
tentang keberuntungan
“selama bernafas masih gratis”
lalu kita tertawa-tawa
menghirup kopi kental
tanpa gula
di siang hari
kembali bermimpi tentang negeri
teramat kaya tapi bukan kita
si empunya
tontonan televisi
berita mengalahkan sinetron
yang sering membuat muak
komedi berlebihan daripada pelawak
atau mengumbar rasa sedih nan pedih
yang tidak membuat menangis
karena tetap saja terlihat bengis
selalu,
selalu saja
dan selalu saja kita-kita
dipaksa untuk berdansa membaurkan luka
hingga berkeringat dan tidak ingat apa-apa
dipaksa untuk berdoa menyamakan nada
hingga selalu menerima
selalu
selalu saja
dan selalu saja kita-kita
berbaris panjang dalam segenap antrian
untuk merebut ruang-ruang sempit
dipacu dengan putaran irama kerja
mengisi kantong yang semakin bolong
lantas?
Yogyakarta, 16 Pebruari 2010