Tinggalkan Komentar

(puisi) Mabuk

MABUK

Tanpa tenggak “air mata Lenin”
hidup telah memabukkan
Suara-suara para penguasa
setiap hari penuh janji
bagaikan alkohol
menyirami tubuh kita

Di warung pinggir kali
irama dangdut menghentak
goyang apa?
ngebor? Gergaji? patah-patah?
atau buat gerak baru?
Nanti kita patenkan….

Berduka, bencana selalu melanda
mematikan nafas jutaan rakyat
di ruang ber-ac di hotel berbintang
kita sibuk mendiskusikannya
bicara angka-angka
bicara angka-angka
dan selalu bicara angka-angka
hingga kita mabuk pula

Atas nama rakyat,
siapapun boleh bicara
tak perduli mahasiswa
tak perduli tentara
tak perduli politisi lama
atau pun pendatang baru
dengan ideologinya
dengan keyakinannya
dengan tipu muslihatnya

menari para bidadari
seolah rejeki menghampiri
pemilu, sebentar lagi

Yogyakarta14 September 2008

About these ads

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: