CINTA SEORANG ANAK MUDA
aku cinta
aku cinta!
aku cinta padamu
pertiwi
(pertiwi termangu, anak muda membisu)
tiadakah terdengar nyanyian hati?
tiadakah terdengar gemuruh kasih?
(pertiwi tengadah, menatap anak muda
lekat pandangan mata, begitu lama)
kenapa engkau pertiwi?
memvonis tanpa kata
membangkitkan gelisah jutaan tanya
lebih menakutkan dari hilangnya cahaya
memakilah engkau, bila engkau suka
setidaknya kutahu engkau dapat bergembira
(pertiwi memalingkan muka
membuat anak muda resah dan gelisah)
sakitkah engkau, pertiwiku?
akan kucari akar dan dedaunan
kuramu menjadi jamu
(pertiwi menggeleng, anak muda bingung)
Kau dustakan hatimu,
kau tutup matamu
dengarlah getaran-getaran cinta
lewat beragam suara
demi cinta
relakan nyawa
(pertiwi bangkit, lalu berkata:
Kecintaan macam apa
bila hanya sekedar mengumbar kata
hanya rayuan tak berkesudahan
seperti igauan pesakitan
tiadakah engkau rasakan
segenap isi perut telah terangkat
engkau masih saja belum berangkat
ayolah sebelum terlambat)
(Anak muda terpaku
kepala terasa kena palu
ia rasakan, air mata pertiwi
berganti merah warnanya)
1991