Menulis, yang Penting Hati Senang
(Odi Shalahuddin)
Menulis di Kompasiana memang mengasyikkan. Tentang hal ini, ada berbagai tulisan yang pernah saya buat (walaupun sudah banyak yang saya hapus dan saya pindahkan ke blog pribadi dengan kategori “Seputar Kompasiana”). Tulisan-tulisan itu mengenai gairah menulis yang terbangkitkan, dinamika yang berlangsung antar kompasianer, hingga kritik dan pujian terhadap admin Kompasiana.
Saya sempat “ngambek” berniat untuk menghentikan sementara kegiatan di Kompasiana. Tapi tidak terlalu lama, tak lebih dari dua minggu sudah hadir kembali. Kehadiran dengan kesadaran bahwa Kompasiana benar-benar membangkitkan gairah dan kedisiplinan untuk senantiasa menulis. Kehadiran kembali dengan membuat pembatasan antara minat/hobi dengan persoalan yang saya geluti, ialah fiksi, kegiatan kesenian dan kebudayaan, serta tulisan-tulisan yang terkait dengan isu (hak-hak) anak. Jadi setidaknya hanya ada dua tema: Kesenian dan anak-anak.
Pada masa sebelumnya, lantaran gairah yang memuncak dan ruang kebebasan yang sangat terbuka lebar, membuat saya merambah kemana-mana (kecuali yang benar-benar saya tidak paham dan sama sekali tidak berani untuk menulis yaitu seputar teknologi dan olahraga).
Dengan pembatasan ini, tanpa sadar akhirnya secara perlahan ada tuntutan dalam diri saya untuk lebih mendalami. Kata lainnya saya dituntut untuk belajar. Belajar dengan bertanya kepada siapapun yang dianggap tahu, belajar dari diskusi-diskusi langsung ataupun melalui jejaring sosial atau ruang komentar, belajar untuk mendapatkan bahan-bahan bacaan, dan sebagainya.
Sekarang, saya lebih bisa menikmati menulis di Kompasiana dengan rasa senang. Walau jujur masih geregetan kalau tulisan yang diposting tidak masuk highlight (yang artinya dalam persepsi saya dinilai tidak bermutu). Saya juga tidak memasang target minimal pembaca (sebelumnya saya mentargetkan minimal 50 pembaca) untuk memberikan penilaian sendiri atas tulisan saya. Jadi, intinya, ya dibuat senang-senang sajalah dengan menulis secara lebih serius (lantaran berusaha fokus).
Saya juga tidak begitu resah dengan olok-olok kawan lama lantaran dinilai hanya berani memposting di Kompasiana dan blog-blog lainnya yang dinilai tidak memiliki sistem seleksi. Beberapa diantaranya, malah saya provokasi agar bisa menjadi kompasianer. Bermain-main dan serius yang dilakukan secara berimbang, sekali lagi, bukankah hal itu sangat menyenangkan?
Walaupun tidak bagus-bagus benar tulisan yang saya buat, setidaknya pernahlah puluhan cerpen di muat di berbagai media lokal dan nasional (kompas memang belum pernah), dan artikel-artikel terkait dengan persoalan sosial-budaya juga pernah dimuat di beberapa media. Beberapa artikel juga pernah terhimpun di beberapa buku. Membuat buku kumpulan tulisan dan buku yang utuh juga pernah. Lantas, bila untuk sementara ini sama sekali tidak berniat mengirimkan tulisan untuk media cetak, apakah itu berarti saya tidak memiliki keberanian untuk ”menguji kualitas” tulisan di hadapan redaktur? Apakah hanya dengan termuat di media cetak, maka kita bisa menunjukkan tulisan kita lebih berkualitas dibandingkan tulisan di blog? Pada masa sekarang, saya kira hal demikian masihlah patut dipertanyakan ulang. Kecuali bila pilihannya mendapatkan honor. Tentu itu berbeda.
Sungguh, saya lagi senang menulis di media online: bisa menulis, langsung posting, dan bisa langsung terbaca. Ini bisa menjadi obat stress pula dalam kesibukan yang rutin. Menulis di media cetak? Ah, untuk sementara ini, sungguh, saya masih belum berminat. Entah kelak.
13 Desember 2011
______________________
Di Kompasiana, Klik di SINI