Berita penculikan oleh kelompok bersenjata di Somalia, terhadap dr Aisha Wardhana seorang relawan dari Indonesia menarik perhatian publik. Perhatian utama diberikan tentang kebenaran berita tersebut, yang hingga kini-pun masih simpang siur. Bahkan sebuah situs berita online nasional sempat mencurigai bahwa dr Aisha Wardhana hanya sekedar tokoh virtual.
Namun fakta-fakta menunjukkan bahwa dr Aisha Wardhana bukanlah tokoh virtual. Ia adalah nyata. Setidaknya Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengakui bahwa dr Aisha adalah salah seorang relawan di organisasi tersebut. pernah menjadi relawan di organisasi mereka, sebagaimana dalam siaran persnya yang disiarkan detik.com (lihat di SINI). Direktur Indonesia Maritime Institue, Yulianus Paonganan, dalam perbincangan dengan detikcom menyatakan mengenal dan pernah bertemu langsung Aisha yang mengikuti diskusi tentang kelautan (lihat di SINI). Bahkan ada pengakuan dari seorang bernama Bustanul Arifin sebagai suami siri dari dr Aisha. Jelas, dr Aisha adalah nyata.
Kebenaran mengenai apakah benar dr Aisha Wardhana menjadi korban penculikan kelompok bersenjata di Somalia, inilah yang masih dipertanyakan. Konon, dr Aisha telah kembali ke Indonesia pada Selasa Sore, 6 September 2011. Namun ia masih belum bisa dihubungi untuk mendapatkan keterangan mengenai peristiwa yang telah menimpanya.
” Pada Selasa Sore tanggal 6 September, Aisha memberi kabar via HP dari nomor +6287770115075, menyatakan sudah berada di Karawang, Jabar. Sewaktu saya tanyakan tentang detail kedatangan termasuk dengan pesawat apa dan siapa pengantarnya, Aisha tidak bersedia memberi penjelasan lebih lanjut dan berjanji akan menceritakan semuanya pada saatnya. Hari ini, Rabu 07 September 2011, saya mencoba menghubungi kembali Aisha via HP untuk meminta penjelasan lagi dari yang bersangkutan, namun tidak ada jawaban dari Aisha, (HP dimatikan),” demikian dinyatakan dalam klarifikasi tertulis yang disampaikan oleh Bustanulis Arifin yang akrab dipanggil oleh rekan-rekannya dengan nama ”Bokir” yang diposting di blog pribadinya.
Bokir merasa perlu memberikan klarifikasi mengingat pemberitaan dari berbagai media dinilai menyudutkan dirinya seakan ia yang pertama kali menyebarkan berita itu dan mendapatkan tudingan menyebarkan kabar bohong.
Saya yang baru berhasil menghubunginya melalui telpon pada malam ini setelah berulang kali berupaya menelpon dirinya untuk mendapatkan informasi secara langsung merasakan bahwa ”Bokir” seperti shock menghadapi situasi ini.
”Pihak yang pertama kali mengabarkan berita adalah pemilik akun twitter @harintovardhana. Tapi saya cek hari ini, akun tersebut sudah tidak ada lagi,” katanya di sela batuknya yang berulang kali terdengar di HP.
”Saya bingung dengan situasi sekarang. Dulu, pada masa internet awal, informasi bersifat transparan. Apapun yang dibutuhkan, kita bisa mendapatkannya dengan mudah dan valid. Tapi sekarang ketika pengguna internet semakin massal, terbuka kemungkinan orang memiliki 250 karakter dan terbuka lebar menggunakan nama anonim. Orang yang tidak hati-hati, mengikuti saja arus informasi yang membludak, bagaikan daun kering terbawa arus. Bisa tersesat,” katanya lagi bernada mengeluh atas apa yang tengah dialaminya.
Lantas bagaimana tentang kebenaran pemberitaan mengenai penculikan oleh kelompok bersenjata terhadap dr Aisha? ”Bokir” sebagai suami siri-nya mengaku tidak mengetahui secara pasti. ”Tapi saya merasa malah saya menjadi korban,”
Lebih lanjut, dalam klarifikasinya ia berharap bahwa Aisha bersedia memberikan penjelasan terbuka kepada tentang apa yang sebenarnya terjadi, karena peristiwa ini telah menjadi perhatian publik. Saya mempersilakan pihak-pihak yang berwenang dan berkepentingan dengan hal ini untuk menelusuri lebih lanjut tentang kebenaran peristiwa hilangnya dr. Aisha Wardhana di Somalia. Saya juga siap memberikan informasi dan keterangan apapun yang diperlukan untuk itu, karena jika seluruh cerita itu ternyata terbukti fiktif/tidak benar, saya termasuk pihak yang dirugikan dari peristiwa tersebut,” .
(Odi Shalahuddin)
_______________________
Komentar-komentar di Kompasiana:

