Aisha Wardhana, nama yang tiba-tiba dikenal luas dan diketahui bernama asli Caroline Tyas Susanti, terungkap bahwa ia bukanlah seorang dokter dan juga tidak pernah pergi keSomalia. Dengan demikian pemberitaan mengenai penculikan dan penembakan atas dirinya bisa dikatakan sebagai kebohongan belaka.
Apa motifnya? Ini satu pertanyaan yang masih menggantung, sebab Aisha sendiri menyatakan ada hal-hal yang belum bisa dijelaskan.
Pada tulisan sebelumnya, saya telah memposting tulisan berjudul: “penculikan dr Aisha Wardhana di Somalia, benarkah?”
Ada banyak kejanggalan dalam peristiwa yang beredar, dan salah satu yang merasa menjadi korban adalah Bustanul “Bokir” Arifin yang merupakan suami siri Aisha Wardhana. Ia melihat berbagai pemberitaan media menyudutkan dirinya sebagai pelaku penyebar kebohongan. Bahkan ada satu pemberitaan media yang melakukan wawancara terhadap seorang narasumber yang mengatakan bahwa ia mengenal “Bokir” yang pernah bekerja pada suatu media online yang memiliki kinerja tidak baik, yaitu sering membuat berita tidak benar.
”Pihak yang pertama kali mengabarkan berita adalah pemilik akun twitter @harintovardhana. Tapi saya cek hari ini, akun tersebut sudah tidak ada lagi,” demikian dikatakan Bokir kepada saya melalui pembicaraan telpon pada tanggal 7 September 2011. Hal yang juga diungkapkan pada pernyataan klarifikasi yang diposting diblog pribadinya, termasuk mengenai nama asli dari Aisha Wardhana.
Bustanul “Bokir” Arifin, yang mengenal Aisha ketika menjadi relawan di Yogya, dan kebetulan ia bergabung dengan Tim Kemanusiaan Merdeka SAMIN bersama saya dan kawan-kawan, menyampaikan kelegaannya atas perkembangan situasi yang terjadi. Ia memang sempat mengalami shock dan kebingungan sehingga sempat mematikan alat komunikasinya.
Melalui telponnya kepada saya malam ini, Bokir menyatakan bahwa ibunya telah menguatkan hatinya untuk menghadapi situasi yang dinilainya berat. “katakan yang hak adalah hak dan yang batil adalah batil, biarkan yang berhak menerimanya,” ujar Bokir mengutip nasihat ibunya.
Belajar dari pengalaman yang tengah dihadapinya, Bokir menunjukkan bahwa saat ini peranan jurnalisme warga sangat berpengaruh. Media komunikasi baik melalui twitter, jejaring social, blog dan situs jurnalisme warga juga telah memainkan peranan yang penting untuk mengangkat informasi atas suatu peristiwa di berbagai belahan dunia secara cepat. Berita-berita bohong juga dapat segera terdeteksi lantaran semua orang bisa terlibat menyampaikan klarifikasi. ”Saya juga mengucapkan terima kasih atas dukungan teman-teman terhadap saya,” katanya.
Pada kasus Aisha Wardhana, terlihat respon yang cepat dari berbagai pihak, termasuk aparat Negara. “Alangkah baiknya pula apabila masyarakat kita benar-benar menggunakan media untuk melaporkan kegiatan-kegiatan di lingkungan sekitarnya, agar bisa mendapatkan respon yang cepat pula. Misalnya pada kasus-kasus kelaparan di suatu daerah pedalaman,”
Ketika saya menanyakan tentang motif dari Aisha Wardhana membuat kabar bohong yang telah membuat banyak orang menjadi sibuk, Bokir tidak mau berspekulasi. “Saya sendiri tidak tahu, kita tunggu saja nanti, pasti akan terbuka sendiri,”
(Odi Shalahuddin)
_________________________
Komentar-komentar di Kompasiana:

